Jumat, 03 Oktober 2008

Cerita Gharaniq

EDUKATIF | Cerita ini biasanya digunakan oleh ahli-ahli non-Islam untuk mengatakan bahwa Al-Qur'an pernah tercemari oleh ayat-ayat setan. Haekal menjelaskan secara bagus didalam argumentasinya:

Kembalinya Mereka Yang Hijrah Ke Abisinia
KAUM Muslimin yang hijrah ke Abisinia tinggal selama tiga bulan di sana. Sementara itu Umar ibn'l-Khattab sudah pula masuk Islam. Setelah para pengungsi ini mengetahui bahwa pihak Quraisy sudah mulai surut dari mengganggu Muhammad dan pengikut-pengikutnya - setelah Umar masuk Islam - menurut sebuah sumber,
banyak di antara mereka itu yang kembali, dan sumber lain mengatakan semua mereka itu kembali ke Mekah. Tetapi setelah mereka sampai di Mekah, ternyata pihak Quraisy kembali menyiksa kaum Muslimin, bahkan lebih keras lagi dari pada yang pernah dialami kaum pengungsi itu dulu. Sebahagian mereka ada yang kembali ke Abisinia, ada pula yang memasuki Mekah atau di dekat-dekatnya dengan sembunyi-sembunyi. Konon katanya, bahwa mereka yang kembali itu membawa pula sejumlah kaum Muslimin dan mereka ini tinggal di Abisinia sampai sesudah Hijrah dan sesudah keadaan Muslimin di Medinah jadi lebih stabil.


Apa pula motif yang mendorong kaum Muslimin di Abisinia itu kembali sesudah tiga bulan mereka tinggal di sana? Di sinilah munculnya cerita gharaniq itu yang dilangsir oleh Ibn Sa'd dalam At-Tabaqat'l-Kubra dan oleh At-Tabari dalam Tarikh'r-Rusul-wal-Muluk, yang juga sama dilangsir oleh ahli-ahli tafsir kalangan Muslimin dan penulis-penulis sejarah Nabi, dan lalu diambil pula oleh sekelompok Orientalis-orientalis yang dalam sekian lama oleh mereka tetap dipertahankan.

Gharaniq Yang Luhur
Adapun timbulnya cerita gharaniq itu ialah, setelah Muhammad melihat pihak Quraisy menjauhinya dan sahabat-sahabatnya di siksa. Ia berharap-harap sambil mengatakan: Coba aku tidak mendapat perintah apa-apa yang kiranya akan menjauhkan mereka dari aku. Ia mengumpulkan golongannya dan mereka bersama-sama pada suatu hari duduk-duduk dalam sebuah tempat pertemuan di sekitar Mekah. Kepada mereka dibacakannya Surah An-Najm sampai pada firman Allah: "Adakah kamu perhatikan Lat dan 'Uzza. Dan itu Manat, ketiga, yang terakhir?" (Qur'an, 53:19-20) Sesudah itu lalu dibacakannya pula: "Itu gharaniq yang luhur, perantaraannya sungguh dapat diharapkan."

Kemudian ia meneruskan membaca Surah itu seluruhnya sampai pada akhirnya ia sujud. Ketika itu semua orang ikut sujud, tak ada yang ketinggalan. Pihak Quraisy menyatakan kepuasannya atas apa yang telah dibaca Muhammad itu.

Kata mereka: "Kami tahu sudah bahwa Allah itu menghidupkan dan mematikan, menciptakan dan memberi rejeki. Tetapi dewa kami ini menjadi perantara kami kepadaNya. Kalau ternyata dia juga kauberi tempat, maka kamipun setuju dengan kau."

Dengan demikian hilanglah perselisihan dengan mereka itu. Peristiwa tersebut lalu tersebar di kalangan umum hingga sampai juga ke Abisinia. Pihak Muslimin lalu berkata: Di sana ada keluarga-keluarga dekat kami yang sangat kami cintai. Lalu merekapun pulang kembali. Apabila pada tengah hari mereka sampai ke dekat Mekah mereka bertemu dengan rombongan kafilah Kinana yang lalu dan rombongan itupun menjawab: Ia menyebutkan dewa-dewa mereka dengan baik dan merekapun lalu mengikutinya. Kemudian ia berbalik lagi mencela dewa-dewa mereka itu dan merekapun lalu memusuhinya lagi. Perbuatan mereka itu dibicarakan oleh pihak Muslimin. Tidak tahan lagi mereka ingin menemui keluarga, dan mereka lalu memasuki Mekah.

Sebabnya maka Muhammad berbalik tidak mau menyebutkan dewa-dewa Quraisy dengan baik - menurut beberapa sumber yang mencatat berita ini - ialah karena ia sudah tidak tahan atas ucapan Quraisy: "Kalau ternyata dewa-dewa kami juga kauberi tempat, maka kami pun setuju dengan kau," dan karena ketika dia sedang duduk-duduk di rumahnya hingga sore Jibril datang dan bertanya:

"Aku membawakan dua anak kalimat ini kepadamu?" dengan menunjuk kepada "Itu gharaniq yang luhur, perantaraannya dapat diharapkan."

Muhammad pun menjawab: "Aku mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan oleh Allah."

Kemudian Allah mewahyukan:
"Dan hampir-hampir saja mereka itu menggoda kau tentang apa yang sudah Kami wahyukan kepadamu, supaya engkau mau atas nama Kami memalsukannya dengan yang lain."

"Ketika itulah mereka mengambil engkau menjadi kawan mereka. Dan kalaupun tidak Kami tabahkan hatimu, niscaya engkau hampir cenderung juga kepada mereka barang sedikit. Dalam hal ini, akan Kami timpakan kepadamu hukuman berlipat ganda, dalam hidup dan mati. Selanjutnya engkau tiada akan mempunyai penolong menghadapi Kami." (Qur'an 17:73-75)

Dengan begitu kembali ia memburuk-burukkan dewa-dewa Quraisy itu, dan Quraisypun kembali lagi memusuhinya dan mengganggu sahabat-sahabatnya.

Orientalis-Orientalis Bertahan Pada Cerita Ini
Demikianlah cerita gharaniq ini, yang bukan seorang saja dari penulis-penulis biografi Nabi yang menceritakannya, demikian juga ahli-ahli tafsir turut menyebutkan, dan tidak sedikit pula kalangan Orientalis yang memang sudah sekian lama mau bertahan. Jelas sekali dalam cerita ini ada kontradiksi. Dengan sedikit pengamatan saja hal ini sudah dapat digugurkan.

Di samping itu cerita ini berlawanan pula dengan segala sifat kesucian setiap nabi dalam menyampaikan risalah Tuhan. Memang mengherankan sekali apabila ada beberapa penulis sejarah Nabi dan ahli tafsir dari kalangan Islam sendiri yang masih mau menerimanya. Oleh karena itu Ibn Ishaq tidak ragu-ragu lagi ketika menjawab pertanyaan dengan mengatakan bahwa cerita itu bikinan orang-orang atheis.

Pegangan Mereka Dalam Hal Ini
Akan tetapi mereka yang berpegang pada alasan ini berusaha membenarkannya dengan berpegang pada ayat-ayat:

"Dan hampir-hampir saja mereka itu menggoda kau ..." sampai pada firman Tuhan: "Dan tiada seorang rasul atau seorang nabi yang Kami utus sebelum kau, apabila ia bercita-cita, setan lalu memasukkan gangguan ke dalam cita-citanya itu. Tetapi Allah menghapuskan apa yang dimasukkan setan itu. Kemudian Allah menguatkan keterangan-keterangaNya itu. Dan Allah Maha mengetahui dan Bijaksana. Apa yang dimasukkan setan itu adalah ujian bagi mereka yang berpenyakit dalam hatinya dan berhati batu. Dan mereka yang melakukan kesalahan akan berada dalam pertentangan yang tak berkesudahan." (Qur'an, 22: 52 - 53)

Ada orang yang menafsirkan kata "bercita-cita" itu dengan arti "membaca," ada pula yang menafsirkannya dengan arti "bercita-cita," seperti yang sudah umum dikenal. Kedua mereka ini masing-masing berpendapat - diikuti oleh Orientalis-orientalis - bahwa Quraisy telah sampai di puncaknya menyiksa sahabat-sahabat Nabi, ada yang mereka bunuh, ada pula yang dilemparkan ke padang pasir, dijilat oleh terik matahari yang membakar, ditindih pula dengan batu seperti yang dialami oleh Bilal. Karena itu terpaksa ia menyuruh mereka hijrah ke Abisinia. Demikian juga masyarakatnya sendiripun begitu kasar terhadap dirinya yang juga kemudian memboikotnya. Tetapi karena ia begitu menjaga keislaman mereka yang sudah lepas dari penyembahan berhala, ia pun lalu mendekati kaum musyrik dan membacakan Surah an-Najm dengan menambahkan lagi cerita gharaniq. Sesudah ia sujud merekapun ikut pula sujud. Mereka lalu memperlihatkan suatu kecenderungan hendak mengikutinya, karena ia sudah memberi tempat kepada dewa-dewa mereka itu disamping Allah.

Atas peristiwa ini yang juga disebutkan dalam beberapa buku biografi dan buku-buku tafsir - Sir William Muir menganggapnya sebagai suatu argumen yang kuat tentang adanya cerita gharaniq itu. Selanjutnya kaum Muslimin yang telah berangkat ke Abisinia itu belum lagi selang tiga bulan sejak mereka mengungsi, yang dalam pada itu mereka telah diberi suaka dengan baik sekali oleh pihak Najasyi. Kalau tidak karena tersiarnya berita, bahwa antara Muhammad dengan Quraisy sudah tercapai kompromi, tentu tak ada motif lain yang akan mendorong mereka itu kembali, ingin berhubungan dengan keluarga dan kerabat mereka. Dan dari mana pula akan ada kompromi antara Muhammad dengan Quraisy itu, kalau bukan Muhammad juga yang mengusahakannya. Di Mekah ia termasuk minoritas dengan tenaga yang masih lemah. Juga sahabat-sahabatnya masih lemah sekali untuk dapat mempertahankan diri dari gangguan dan penyiksaan Quraisy.

Lemahnya Pegangan Tersebut
Alasan-alasan yang dikemukakan mereka, dengan mengatakan, bahwa cerita gharaniq itu benar adanya, adalah suatu alasan yang lemah sekali dan tidak tahan uji. Baiklah kita mulai dulu dengan menolak Muir. Kembalinya kaum Muslimin ke Mekah dari Abisinia, pada dasarnya karena dua sebab:

Pertama, karena 'Umar ibn'l-Khattab masuk Islam tidak lama setelah mereka hijrah. Umar masuk Islam dengan semangat yang sama seperti ketika ia menentang agama ini dahulu. Ia masuk Islam tidak sembunyi-sembunyi. Malah terang-terangan ia mengumumkan di depan orang banyak dan untuk itu ia bersedia melawan mereka. Ia tidak mau kaum Muslimin sembunyi-sembunyi dan mengendap-endap di celah-celah pegunungan Mekah dalam melakukan ibadat, menjauhkan diri jauh dari gangguan Quraisy. Bahkan ia terus melawan Quraisy sampai nanti dia beserta kaum Muslimin itu dapat melakukan ibadat dalam Ka'bah.

Di sinilah pihak Quraisy menyadari, bahwa penderitaan yang dialami Muhammad dan sahabat-sahabatnya, hampir-hampir menimbulkan perang saudara, yang akibat-akibatnya tidak akan dapat dibayangkan, dan siapa pula yang akan binasa. Ada orang-orang dari kabilah-kabilah Quraisy dan dari keluarga-keluarga bangsawannya yang sudah menerima Islam, mereka akan lalu berontak bila siapa saja dari kabilahnya itu ada yang terbunuh sekalipun orang itu berlainan agama. Jadi, dalam memerangi Muhammad ini, mereka harus menempuh suatu cara yang tidak akan membawa akibat yang begitu berbahaya. Di samping itu supaya cara ini dapat pula disepakati oleh Quraisy mereka mengadakan genjatan senjata dengan pihak Muslimin, sehingga dengan demikian tiada seorangpun dari mereka itu yang boleh diganggu.

Inilah yang telah sampai kepada kaum pengungsi di Abisinia itu, dan membuat mereka berpikir-pikir akan kembali ke Mekah

Kedua. Sungguhpun begitu, barangkali mereka masih maju-mundur juga akan kembali, kalau tidak karena adanya sebab kedua yang telah menguatkan niat mereka, yakni pada waktu itu di Abisinia sedang berkecamuk suatu pemberontakan melawan Najasyi, yang dilancarkan karena adanya suatu tuduhan yang ditujukan kepadanya. Ia melaksanakan janjinya dan memperlihatkan rasa kasih-sayangnya kepada kaum Muslimin. Kaum Muslimin sendiri menyatakan harapannya sekiranya Tuhan akan memenangkan Negus terhadap lawannya itu. Tetapi mereka sendiri tidak sampai melibatkan diri dalam pemberontakan, karena mereka adalah orang-orang asing, dan lagi mereka belum begitu lama tinggal di Abisinia. Bahwa yang telah sampai kepada mereka itu berita-berita perdamaian antara Muhammad dengan Quraisy, perdamaian yang menyelamatkan Muslimin dari gangguan yang pernah mereka alami, maka bagi mereka akan lebih baik meninggalkan kekacauan yang ada sekarang dan kembali bergabung kepada keluarga mereka sendiri.

Inilah yang telah mereka lakukan semua, atau sebagian dari mereka.

Hanya saja, sebelum mereka sampai ke Mekah, pihak Quraisy sudah berkomplot lagi terhadap Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Kabilah-kabilah mereka sudah mengadakan persetujuan tertulis bersama; mereka berjanji mengadakan pemboikotan total terhadap Banu Hasyim: tidak akan saling berjual-beli .

Dengan adanya perjanjian itu perang yang tak berkesudahan antara kedua belah pihak itupun segera berkecamuk lagi. Sekarang mereka yang telah pulang dari Abisinia itu kembali lagi ke sana. Bersama mereka ikut pula orang-orang yang masih dapat pergi bersama-sama. Sekali ini mereka menghadapi kekerasan dari Quraisy, yang berusaha hendak merintangi mereka itu hijrah.

Jadi, bukanlah kompromi seperti yang disebutkan Muir itu yang menyebabkan Muslimin kembali dari Abisinia, melainkan karena adanya perjanjian perdamaian sebagai akibat Umar yang telah masuk Islam serta semangatnya yang berapi-api hendak membela agama ini. Jadi dukungan mereka atas adanya cerita gharaniq dengan alasan kompromi itu, adalah dukungan yang sama sekali tidak punya dasar.

Adapun alasan yang dikemukakan oleh penulis-penulis biografi dan ahli-ahli tafsir dengan ayat-ayat: "Dan hampir-hampir saja mereka itu menggoda kau...," dan "Dan tiada seorang rasul atau seorang nabi yang Kami utus sebelum kau, apabila ia bercita-cita, setan lalu memasukkan gangguan ke dalam cita-citanya itu..." adalah alasan yang lebih kacau lagi dari argumen Sir Muir. Cukup kita sebutkan ayat pertama itu saja dalam firman Tuhan: "Dan kalaupun tidak Kami tabahkan hatimu, niscaya engkau hampir cenderung juga kepada mereka barang sedikit," untuk kita lihat, bahwa setan telah memasukkan gangguan ke dalam cita-cita Rasul itu, sehingga hampir saja ia cenderung kepada mereka sedikit-sedikit; tetapi Tuhan menguatkan hatinya sehingga tidak sampai dilakukannya, dan kalau dilakukan juga, Tuhan akan menimpakan hukuman berlipat-ganda dalam hidup dan mati.

Jadi, dengan membawa ayat-ayat ini sebagai alasan, jelaslah alasan itu terbalik adanya.
Jalan cerita gharaniq ini ialah bahwa Muhammad telah benar-benar berpihak kepada Quraisy dan Quraisypun sudah benar-benar pula menggodanya sehingga ia mau mengatakan sesuatu yang tidak difirmankan Tuhan. Sedang ayat-ayat di sini menegaskan, bahwa Tuhan telah menguatkan hatinya, sehingga dia tidak melakukan hal itu. Bilamana disebutkan demikian, bahwa buku-buku tafsir dan sebab-sebabnya turun Qur'an membuat ayat-ayat ini dapat mengubah masalah gharaniq, kita lihat bahwa alasan ini berlawanan sekali dengan kesucian para rasul dalam menyampaikan tugas mereka, dan bertentangan dengan seluruh sejarah Muhammad. Suatu alasan yang kacau, bahkan lemah sama sekali.

Sedang bunyi ayat-ayat "Dan tiada seorang rasul dan seorang nabi yang Kami utus sebelum kau" sama sekali tak ada hubungannya dengan cerita gharaniq itu. Apalagi yang menyebutkan bahwa Tuhan telah menghapuskan gangguan yang dimasukkan setan dan akan menjadikan godaan bagi mereka yang berpenyakit dalam hatinya dan berhati batu; kemudian Allah menguatkan keterangan-keteranganNya. Dan Allah Maha mengetahui dan Bijaksana.

Bilamana cerita ini diteliti dengan penyelidikan ilmiah ternyata ia tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Yang pertama sekali sebagai bukti ialah adanya beberapa sumber yang beraneka-ragam. Pernah diceritakan seperti disebutkan di atas - bahwa ungkapan itu ialah "Itu gharaniq yang luhur, perantaraannya sungguh dapat diharapkan." Sumber lain menyebutkan: "Gharaniqa yang luhur, perantaraannya dapat diharapkan." Sumber selanjutnya menyebutkan: "perantaraannya dapat diharapkan," tanpa menyebutkan gharaniqa atau gharaniq. Sumber keempat mengatakan: "Dan sebenarnya itulah gharaniq yang luhur." Sumber kelima menyebutkan: "Dan sebenarnya mereka itulah gharaniq yang luhur, dan perantaraan mereka bagi mereka yang diharapkan."1 Dalam beberapa buku hadis disebutkan adanya sumber-sumber lain di samping yang lima tadi. Adanya keaneka-ragaman dalam sumber-sumber tersebut menunjukkan, bahwa hadis itu palsu adanya, dan bikinan golongan atheis, seperti kata Ibn Ishaq, dan tujuannya ialah hendak menanamkan kesangsian tentang kebenaran ajakan Muhammad dan risalah Tuhan itu

Bukti lain yang lebih kuat dan pasti, ialah konteks atau susunan Surah an-Najm yang sama sekali tidak menyinggung soal gharaniq ini. Konteks itu seperti dalam firman Tuhan; "Sungguh dia telah melihat keterangan-keterangan yang amat besar dan Tuhan. Adakah kamu perhatikan Lat dan 'Uzza? Dan Manat ketiga, yang terakhir? Adakah untuk kamu itu yang laki-laki dan untuk Dia yang perempuan? Kalau begitu ini adalah pembagian yang tak seimbang. Ini hanyalah nama-nama yang kamu buat sendiri, kamu dan nenek-moyang kamu. Allah tidak memberikan kekuasaan karenanya; yang mereka turuti hanyalah prasangka dan kehendak nafsu belaka. Dan pada mereka pimpinan yang benar dari Tuhan sudah pernah ada." (Qur'an, 53:18-23)

Susunan ini jelas sekali, bahwa Lat dan 'Uzza adalah nama-nama yang dibuat-buat oleh kaum musyrik, mereka dan nenek-moyang mereka, sedang Allah tidak memberikan kekuasaan untuk itu. Bagaimana mungkin susunan itu akan berjalan sebagai berikut: "Adakah kamu perhatikan Lat dan 'Uzza. Dan Manat ketiga, yang terakhir. Itu gharaniq yang luhur, perantaraannya dapat diharapkan. Adakah untuk kamu itu yang laki-laki dan untuk Dia yang perempuan? Kalau begitu ini adalah pembagian yang tak seimbang. Ini hanyalah nama-nama yang kamu buat sendiri, kamu dan nenek-moyang kamu. Allah tidak memberikan kekuasaan karenanya."

Susunan ini rusak, kacau dan bertentangan satu sama lain. Dan pujian kepada Lat, 'Uzza dan Manat ketiga yang terakhir dan celaan dalam empat ayat berturut-turut tak dapat diterima akal dan tak tak ada orang yang akan berpendapat begitu.

Cerita Yang Nyata-Nyata Dusta Ini Dibantah Oleh Penyelidikan Ilmiah
Yang demikian ini sudah tak dapat diragukan lagi, dan bahwa hadis tentang gharaniq itu adalah palsu dan bikinan golongan atheis dengan maksud-maksud tertentu. Orang yang suka pada yang aneh-aneh dan tidak berpikir logis, tentu percaya akan hadis ini.

Argumen lain ialah seperti yang dikemukakan oleh almarhum Syaikh Muhammad Abduh dalam tulisannya yang jelas membantah cerita gharaniq ini, yaitu bahwa belum pernah ada orang Arab menamakan dewa-dewa mereka dengan gharaniq, baik dalam sajak-sajak atau dalam pidato-pidato mereka. Juga tak ada berita yang dibawa orang mengatakan, bahwa nama demikian itu pernah dipakai dalam percakapan mereka. Tetapi yang ada ialah sebutan ghurnuq dan ghirniq sebagai nama sejenis burung air, entah hitam atau putih, dan sebutan untuk pemuda yang putih dan tampan. Dari semua itu, tak ada yang cocok untuk diberi arti dewa, juga orang-orang Arab dahulu tak ada yang menamakannya demikian.

Tinggal lagi sebuah argumen yang dapat kita kemukakan sebagai bukti bahwa cerita gharaniq ini mustahil akan ada dalam sejarah hidup Muhammad sendiri. Sejak kecilnya, semasa anak-anak dan semasa mudanya, belum pernah terbukti ia berdusta, sehingga ia diberi gelar Al-Amin, "yang dapat dipercaya," pada waktu usianya belum lagi mencapai duapuluh lima tahun. Kejujurannya sudah merupakan hal yang tak perlu diperbantahkan lagi di kalangan umum, sehingga ketika suatu hari sesudah kerasulannya ia bertanya kepada Quraisy: "Bagaimana pendapatmu sekalian kalau kukatakan, bahwa pada permukaan bukit ini ada pasukan berkuda. Percayakah kamu?" Jawab mereka: "Ya, engkau tidak pernah disangsikan. Belum pernah kami melihat kau berdusta."

Jadi orang yang sudah dikenal sejak kecil hingga tuanya begitu jujur, bagaimana orang akan percaya bahwa ia mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan oleh Allah, ia akan takut kepada orang dan bukan kepada Allah! Hal ini tidak mungkin. Mereka yang sudah mempelajari jiwanya yang begitu kuat, begitu cemerlang, jiwa yang begitu membenteng mempertahankan kebenaran dan tidak pula pernah mencari muka dalam soal apapun, akan mengetahui ketidak mungkinan cerita itu. Betapa kita melihat Muhammad berkata: Kalau Quraisy meletakkan matahari di sebelah kanannya, dan meletakkan bulan di sebelah kirinya dengan maksud supaya ia melepaskan tugasnya, akan mati sekalipun dia tidak akan melakukan hal itu - bagaimana pula akan mengatakan sesuatu yang tidak diwahyukan Allah kepadanya, dan mengatakan itu untuk meruntuhkan sendi agama yang oleh karenanya ia diutus Allah sebagai petunjuk dan berita gembira bagi seluruh umat manusia!

Dan kapan pula ia kembali kepada Quraisy guna memuji-muji dewa-dewa mereka? Ataukah sesudah sepuluh tahun atau sekian tahun dari kerasulannya, demi tugas yang besar itu ia sanggup memikul pelbagai macam siksaan, berupa-rupa pengorbanan, sesudah Allah memperkuat Islam dengan Hamzah dan Umar dan sesudah kaum Muslimin mulai menjadi kuat di Mekah, dengan berita yang sudah meluas pula ke seluruh jazirah, ke Abisinia dan semua penjuru?! Pendapat demikian ini adalah suatu legenda, suatu kebohongan yang sudah tak berlaku.

Mereka yang menciptakan cerita ini sebenarnya sudah merasakan bahwa hal ini akan mudah terbongkar. Mereka lalu berusaha menutupinya dengan mengatakan, bahwa begitu Muhammad mendengar kata-kata Quraisy bahwa dewa-dewa mereka sudah mendapat tempat sebagai perantara, hal itu berat sekali dirasanya, sehingga ia kembali kepada Tuhan bertobat, dan begitu ia pulang ke rumah sore itu Jibrilpun datang. Tetapi tabir ini akan terbuka juga kiranya. Kalau hal itu oleh Muhammad sudah sangat luar biasa, ketika ia mendengar kata-kata Quraisy itu, apalagi ia sampai akan mengoreksi wahyu pada waktu itu juga.

Jadi masalah gharaniq ini memang tidak punya dasar, selain sebagai karangan yang dibikin-bikin oleh suatu golongan yang mau melakukan tipu muslihat terhadap Islam, yang terjadi sesudah permulaan sejarah Islam. Yang lebih mengherankan lagi ialah karena kecerobohan mereka yang telah melakukan pemalsuan-pemalsuan itu melemparkan pemalsuan mereka justru ke dalam jantung Islam, yaitu ke dalam Tauhid! Yang justru karena itu pulalah Muhammad diutus, supaya meneruskannya kepada umat manusia sejak dari semula, dan yang sejak itu pula tidak kenal arti mengalah. Juga segala yang ditawarkan kepadanya oleh Quraisy apa saja yang dikehendakinya berupa harta, bahkan akan dijadikannya ia raja atas mereka, tidak sampai membuatnya jadi berpaling. Semua itu ditawarkan kepadanya, pada waktu penduduk Mekah yang menjadi pengikutnya masih sedikit sekali jumlahnya. Waktu itu gangguan-gangguan Quraisy kepada sahabat-sahabatnya tidak sampai membuat ia surut dari dakwah yang diperintahkan Tuhan kepadanya, yaitu supaya diteruskan kepada umat manusia. Jadi sasaran mereka yang telah melakukan pemalsuan terhadap masalah yang begitu teguh menjadi pegangan Muhammad yang tak ada taranya itu, hanya menunjukkan suatu kecerobohan yang tidak rasional, dan yang sekaligus menunjukkan pula, bahwa mereka yang masih cenderung mau mempercayainya ternyata telah tertipu; suatu hal yang sebenarnya tidak perlu sampai ada orang akan tertipu karenanya.

Jadi masalah gharaniq ini memang samasekali tidak punya dasar, dan samasekali tak ada hubungannya pula dengan kembalinya Muslimin dari Abisinia. Seperti disebutkan di atas, mereka kembali karena Umar sudah masuk Islam dan dengan semangatnya yang sama seperti sebelum itu ia membela Islam, sampai menyebabkan Quraisy terpaksa mengadakan perjanjian perdamaian dengan Muslimin. Juga mereka kembali pulang ketika di Abisinia sedang berkecamuk pemberontakan. Mereka kuatir akan akibatnya. Tetapi setelah Quraisy mengetahui mereka kembali, kekuatirannya makin bertambah akan besarnya pengaruh Muhammad di kalangan mereka. Quraisypun lalu membuat rencana mengatur langkah berikutnya, yang berakhir dengan dibuatnya piagam yang menentukan diantaranya tidak akan saling mengawinkan, berjual-beli dan bergaul dengan Banu Hasyim, dan yang juga sudah sepakat diantara mereka, akan membunuh Muhammad jika dapat.

Catatan kaki:
[1] Sekedar gambaran terjemahan ini hanya dari segi ungkapan sedang perbedaan atau persamaan yang lebih jelas hanya dari segi semantik menurut bahasa aslinya (A).



CERITA GHARANIQ

Hukum Menunda Sholat

EDUKATIF | Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan.(QS.19:59)

“Yang menyia-nyiakan shalat,” potongan ayat ini terkadang tidak dipahami kecuali bermakna meninggalkan shalat atau enggan mengerjakannya. Ini adalah makna pertama kali yang terbayang dalam benak kita saat membaca atau mendengar ayat ini. Dan tidak diragukan lagi bahwa makna seperti ini adalah benar. Akan tetapi, mungkin tidak terbayang dalam benak kita makna lain, yaitu MENGAKHIRKAN SHALAT SAMPAI KELUAR WAKTUNYA termasuk menyia-nyiakan shalat. Orang yang melakukan seperti ini berarti terkena ancaman dalam ayat tersebut. Bahkan sebagian sahabat dan tabi’in melihat bahwa menafsirkan shalat dalam arti meninggalkannya adalah tidak benar. Dan maksud sebenarnya dari menyia-nyiakan shalat adalah mengakhirkannya sampai keluar waktunya. Adapun meninggalkan shalat dan tidak mengerjakannya termasuk KEKAFIRAN
Hukum Menunda Sholat

Puisi untuk Ahli Surga


Wahai peminang bidadari surga

Jika kamu mau

Inilah mas kawinnya ada di depanmu

Marilah bergegas menuju surga Adn

Tempat tinggal pertamamu

Padanya kemah-kemah istana

Tetapi kita telah tertawan oleh musuh

Apakah mungkin kita kembali

Ke negeri kita dan kita diselamatkan
Puisi untuk Ahli Surga

Larangan Menyepelekan Shalat

EDUKATIF | Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَإِن تَابُواْ وَأَقَامُواْ الصَّلاَةَ وَآتَوُاْ الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ


Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami m
enjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.(QS.9:11)

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,(QS.74:38)

إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ

kecuali golongan kanan,(QS.74:39)

فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءلُونَ

berada di dalam surga, mereka tanya menanya,(QS.74:40)

عَنِ الْمُجْرِمِينَ

tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa,(QS.74:41)

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?(QS.74:42)

قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ

Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,(QS.74:43)



Diriwayatkan bahwa Jabir ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Yang membedakan antara seseorang dengan syirik dan kafir adalah meninggalkan shalat’. Artinya sesuatu yang mencegahnya dari kekafiran adalah dia tidak meninggalkan shalat. Jika dia meninggalkan shalat maka tiada penghalang antara dirinya dengan syirik.

Diriwayatkan dari Buraidah bahwa Rasulullah Saw bersabda,

“Perjanjian yang membedakan antara kita dan mereka adalah shalat. Maka barang siapa meninggalkan shalat, berarti dia telah kafir”

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Syaqiq, seorang tabiin yang disepakati kebesarannya berkata, “Para sahabat Nabi tidak melihat sesuatu dari amal-amal yang ditinggalkan akan menyebabkan kekafiran selain shalat.
Larangan Menyepelekan Shalat

Doa Yang Tidak Diterima

EDUKATIF. Apabila doa yang dipanjatkan berisi hal-hal yang tidak baik, misalnya mengandung permusuhan atau si pendoa tidak menggabungkan antara hati dan lisannya ketika berdoa, maka Allah tidak akan mengabulkan doa seperti itu. Lalainya hati membuat doa tersebut tidak kuat.

Salah satu cacat yang menghalangi terwujudnya hasil sebuah doa adalah jika seorang hamba memintanya dengan memburu-buru, dengan begitu ia akan merasa doa tersebut lambat terwujud dan merasa kecewa sampai akhirnya dia berhenti berdoa. Dalam shahih Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda “Doa dikabulkan bagi kalian selama kalian tidak memburu-burunya hingga berkata ‘aku telah berdoa tapi belum juga dikabulkan’.”

Doa Yang Tidak Diterimacara berdoa

10 Hal yang Dapat Membuat Anda Menjadi Wanita Sempurna


  1. Ya, dengan senyum cantik anda yang membangkitkan rasa cinta dan menebar kasih sayang kepada orang lain.
  2. Ya, dengan tutur kata baik anda yang dapat menjalin persahabatan yang dianjurkan syariat dan menghapus semua rasa dengki.
  3. Ya, dengan ketulusan derma anda yang dapat membahagiakan orang miskin, menggembirakan orang fakir, dan mengenyangkan orang yang lapar.
  4. Ya, dengan duduk manis bersama Al-Qur’an seraya membaca, merenungi makna, mengamalkan kandungannya, bertobat, dan memohon ampun kepada-Nya
  5. Ya, dengan banyak dzikir, memohon ampun, rajin berdoa dan suka memperbaharui tobat.
  6. Ya, dengan mendidik anak-anak anda untuk mendalami agama, mengajari mereka sunnah dan membimbing mereka kepada hal-hal yang berguna bagi mereka.
  7. Ya, dengan rasa malu dan jilbab seperti yang diperintahkan Allah kepada anda sebagai sarana memelihara diri dan kehormatan anda.
  8. Ya, dengan berteman bersama wanita-wanita yang baik dari kalangan mereka yang mempunyai rasa takut kepada Allah, menyukai pengamalan agama, dan menghormati norma-norma etika.
  9. Ya, dengan berbakti kepada kedua orang tua, bersilaturahim, menghormati tetangga dan menjamin anak-anak yatim.
  10. Ya, dengan membaca buku-buku yang bermanfaat, menelaah bacaan yang berguna, maka hal itu benar-benar merupakan hal yang amat menyenangkan lagi memberikan informasi yang benar

10 Hal yang Dapat Membuat Anda Menjadi Wanita SempurnaHal yang Dapat Membuat Anda Menjadi Wanita Sempurnacara agar Dapat menjadi Wanita Sempurna

41 Cara Menyambut Malaikat Maut


EDUKATIF Berikut ini adalah 41 Cara menyambut malaikat maut, mari kita baca dan dipelajari.
  1. Dengan iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk
  2. Dengan senantiasa memelihara shalat lima waktu tepat pada waktunya dengan berjamaah di masjid bersama kaum muslimin, disertai dengan kekhusyukan dan perenungan makna-maknanya. Sedangkan shalatnya kaum wanita di dalam rumah adalah lebih utama
  3. Dengan mengeluarkan zakat yang diwajibkan tepat pada waktunya, sesuai dengan ukuran dan kriterianya berdasarkan syara’
  4. Dengan berpuasa ramadhan di dasari keimanan dan mengharap pahala dari Allah
  5. Dengan haji mabrur, karena tidak ada balasan bagi haji mabrur ini melainkan surga. Sedangkan umroh pada bulan ramadhan setara dengan menunaikan haji bersama Nabi saw
  6. Dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunnah tambahan (nafilah), yaitu ibadah selain fardhu, baik berkenaan dengan shalat, zakat, puasa maupun haji. Allah SWT berfirman dalam hadist qudsi : “Dan hamba-Ku masih saja mendekat kepad-Ku dengan ibadah-ibadah nafilah, sehingga Aku mencintainya”
  7. Dengan segera bertaubat yang setulus-tulusnya dari segala kemaksiatan dan kemungkaran, dan dengan berjanji untuk selalu mengisi waktu-waktu yang ia miliki dengan banyak beristighfar, berdzikir, serta melaksanakan segala jenis ketaatan lain.
  8. Dengan memurnikan ibadah kepada Allah (ikhlas kepada-Nya), dan meninggalkan riya’ dalam segala hal. Allah SWT berfirman : “Mereka tidaklah diperintahkan agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan kepatuhan kepada-Nya dalam melaksanakan agama dengan lurus” (QS. Al-Bayyinah : 5)
  9. Dengan mencintai Allah dan rasul-Nya. Kecintaan kepada Allah tidak akan terwujud kecuali harus disertai dengan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah : “Katakanlah, jika kau (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu” (QS. Ali Imron : 31)
  10. Dengan memberikan kecintaan karena Allah dan benci karena Allah pula, serta memberikan loyalitas karena Allah. Ini berarti mencintai perbuatan yang Allah cintai seperti beribadah, berdzikir dan melakukan amal kebajikan, benci karena Allah berarti membenci hal-hal yang tidak disukai Allah seperti zinah, ghibah, serta perbuatan maksiat lainnya.
  11. Dengan rasa takut kepada Allah Yang Maha Mulia, mengamalkan kandungan Al-Qur’an, ridha dengan yang sedkit, dan mempersiapkan diri menghadapi hari perjalanan menuju hisab. Ini adalah hakikat takwa
  12. Dengan bersabar dalam menghadapi cobaan, bersyukur ketika memperoleh kelonggaran, selalu merasa diawasi oleh Allah, baik dalam keadaan sembunyi maupun terbuka, serta dengan mengharap anugerah dan karunia yang ada di sisi-Nya
  13. Dengan bertawakal (pasrah) seutuhnya kepada Allah SWT. Allah berfirman “Hanya kepada Allah-lah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS. Al-Maidah: 23)
  14. Dengan menuntut ilmu yang bermanfaat, serta berusaha menyebarkan dan mengajarkannya. Allah SWT berfiman “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa tingkat” (QS. Al-Mujadilah: 11) dan juga firman Allah SWT “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia dan jangan sampai kamu menyembunyikannya” (QS. Ali Imron: 187)
  15. Dengan mengagungkan Al-Qur’an. Yaitu dengan cara mempelajarinya, mengajarkannya, menjaga batasan-batasan dan huku-hukumnya, serta mengenali apa yang dihalalkan dan apa yang diharamkannya. Nabi saw bersabda “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari)
  16. Dengan jihad di jalan Allah, bersiaga selalu dan berjaga di perbatasan musuh, serta tidak lari dari medan laga. Nabi saw bersabda “Janganlah kamu mengharap-harap bertemu musuh dan mohonlah kesehatan kepada Allah. Namun jika kamu bertemu dengan mereka, bersabarlah. Ketahuilah bahwa surga itu di bawah naungan pedang” (Muttafaqun ‘alaih)
  17. Dengan menjaga lidah dari hal-hal yang haram seperti dusta, ghibah (menggunjing), mengadu domba dan memfitnah, mencaci, mengutuk, serta berkata dan bernyanyi kotor. Nabi saw bersabda “siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhi hendaklah berkata baik atau (memilih) diam” (Muttafaqun ‘alaih)
  18. Dengan memenuhi janji, menunaikan amanat kepada yang berhak, serta tidak berkhianat dan menipu. Allah SWT berfirman “Penuhilah janji-janjimu” (QS. Al-Maidah :1) dan “hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya” (QS. Al-Baqarah : 283)
  19. Dengan meninggalkan zina, minum-minuman keras, membunuh jiwa, berbuat zhali, mencuri, makan harta orang lain secara bathil, makan barang riba, dan makan segala yang tidak menjadi haknya menurut syara’. Allah SWT berfirman “Katakanlah, sesungguhnya Rabbku mengharakan perbuatan keji yang tampak maupun yang tersembunyi” (QS. Al-A’raf : 33)
  20. Dengan bersikap wara’ dalam hal makanan dan minuman, serta menjauhi barang yang tidak halal.
  21. Dengan berbakti kepada kedua orang tua, bersilaturahmi, mengunjungi saudara dan bersabar menghadapi gangguan mereka, serta berbuat baik kepada orang lain yang berada dekat dengan kita maupun yang jauh.
  22. Dengan menjenguk orang yang sakit, berziarah kubur dan mengiringi jenzah. Sebab, itu semua akan mengingatkan kepada akhirat dan menganggap rendah dunia.
  23. Dengan tidak mengenakan pakaian dan aksesoris yang diharamkan, seperti sutra, emas dan isbal (memanjangkan pakaian hingga melampaui mata kaki) bagi kaum pria, atau menggunakan bejana-bejana yang terbuat dari emas dan perak untuk makan dan minum. Semuanya itu hukumnya haram.
  24. Dengan memakai jilbab yang sempurna dan menutupi aurat bagi kaum wanita, yang tidak bisa menggambarkan lekuk tubuhnya dan juga tidak tipis, tidak menarik pandangan orang lain untuk melihatnya dan tidak menimbulkan fitnah, serta menjauhi tasyabbuh (meniru-niru, menyerupai) kaum wanita kafir dalam berpakaian, dimana pakaian yang mereja kenakan itu memang sengaja dibuat untuk menimbulkan fitnah dan membangkitkan nafsu birahi.
  25. Dengan sederhana dalam membelanjakan harta, menjaga nikmat, dan tidak berbuat tabdzir (pemborosan)
  26. Dengan meninggalkan perbuatan khianat, dengki, iri hati, permusuhan, kebencianm serta menggunjing harga diri kaum muslimin dan muslimat tanpa ada alasan yang benar.
  27. Dengan memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar, menyeru kepada Allah dengan menempuh jalan hikmah dan bimbingan yang baik.
  28. Dengan berbuat adil terhadap sesama manusia serta saling menolong dalam kebajikan dan taqwa
  29. Dengan berpegang kepada akhlak mulia seperti rendah diri, penyayang, sabar, malu, pemaaf, menahan marah, dan murah hati, serta tidak sombong, menipu, angkuh, congkak dan sebagainya.
  30. Dengan menunaikan hak-hak anak dan istri sesempurna mungkin, serta mengajarkan kepada mereka urusan agama yang mereka butuhkan.
  31. Dengan menjawab salam dan memberi salam, menyambut doa orang yang bersin, memuliakan tamu dan tetangga, serta menutupi aib orang sebisa mungkin.
  32. Dengan hidup zuhud di dunia (tak berlebih-lebihan dengan dunia) dan memendekkan angan-angan sebelum sampai ajalnya.
  33. Dengan sikap cemburu terhadap harga diri, menahan pandangan dari melihat hal-hal yang diharamkan di jalanan atau melalui layar televisi, dan internet.
  34. Dengan berpaling dari kesia-siaan, senda gurau dan permainan, serta mengambil hak-hak yang berharga dan meninggalkan segala hal yang tiada artinya.
  35. Dengan mencintai para sahabat Nabi saw, berlepas diri dari kebencian terhadap mereka atau mencaci mereka
  36. Dengan mendamaikan antara sesama manusia dan mendekatkan arah pandangan antara kedua belah pihak yang bertikai, sehingga hilang perselisihan dan perpecahan tidak semakin melebar.
  37. Dengan tidak mendatangi dukun, ahli nujum, tukang sihir, tukang ramal dan sejenisnya. Rasulullah saw bersabda “Siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal lalu membenarkan kepada apa yang dikatakannya, berarti dia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi)
  38. Dengan mematuhi suami bagi seorang istri, serta menjaga hartanya, anaknya dan ranjangnya
  39. Dengan meninggalkan perbuatan bid’ah dalam beragama, serta tidakmenyeru kepada kebatilan dan kesesatan
  40. Dengan tidak menyambung rambut bagi wanita, tidak mentato, tidak mencukur ais, serta tidak merenggangkan gigi dan meruncingkannya.
  41. Dengan tidak memata-matai kaum muslimin dan tidak mengungkap aib

41 Cara Menyambut Malaikat Maut
Cara Menyambut Malaikat Maut
ketika sakaratul maut

6 Resep Saat Tertimpa Musibah

  1. Percaya sepenuhnya kepada Allah
  2. Semua yang Allah telah takdirkan akan terjadi
  3. Sabar adalah senjata paling ampuh yang dipergunakan oleh orang-orang yang mendapat ujian
  4. Jika anda tidak sabar apa yang bisa anda lakukan? Dan anda tidak akan terbantu hanya dengan perasaan resah
  5. Mungkin saja anda akan berada dalam kondisi yang lebih jelek daripada kondisi yang anda hadapi sekarang
  6. Dari waktu ke waktu jalan keluar akan selalu terbuka

6 Resep Saat Tertimpa MusibahSaat Tertimpa MusibahResep Saat kena Musibah

Alasan Kenapa Anda Tidak Boleh Bersedih

EDUKATIF. Jangan bersedih, karena anda telah melalui kesedihan itu kemarin dan ia tidak memberi manfaat apapun. Ketika anak anda gagal dalam ujian dan anda bersedih karenanya, apakah kemudian anak anda lulus karena kesedihan itu? Saat bapak anda meninggal dan anda bersedih, apakah ia akan hidup kembali? Manakala anda merugi dalam suatu bisnis dan kemudian anda bersedih, apakah kemudian kerugian itu berubah menjadi keuntungan?

Jangan bersedih, sebab bila anda bersedih gara-gara satu musibah, maka musibah yang satu itu akan menjadi berlipat ganda. Ketika anda bersedih karena kemiskinan atau kesengsaraan yang anda alami, bukankah kesedihan itu hanya menambah kesusahan anda saja? Saat anda bersedih karena cercaan musuh-musuh anda, pastilah kesedihan itu hanya akan menguntungkan dan menambah semangat mereka untuk menyerang anda. Atau, ketika anda mencemaskan terjadinya sesuatu yang tidak anda sukai, ia akan mudah terjadi kepada anda.

Jangan bersedih, karena kesedihan itu akan membuat rumah yang luas, istri yang cantik, harta yang melimpah, kedudukan yang tinggi, dan anak-anak yang cerdas tidak ada gunanya sedikitpun.

Jangan bersedih, sebab kesedihan hanya akan membuat air yang segar terasa pahit, dan sekuntum bunga mawar yang indah tampak seperti sebongkok labu, taman yang rimbun tampak seperti gurun pasir yang gersang, dan kehidupan dunia menjadi penjara yang pengap.

Jangan bersedih, karena anda masih memiliki dua mata, dua telinga, dua bibir, dua tangan dan dua kaki, lidah dan hati. Anda masih memiliki kedamaian, keamanan dan kesehatan.

“Maka, nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan” (QS. Ar-Rahman: 13)

Jangan bersedih, karena anda masih memiliki agama yang anda yakini, rumah yang anda diami, nasi yang anda makan, air yang anda minum, pakaian yang anda pakai, dan istri tempat anda berbagi rasa. Mengapa harus bersedih? Read More......

Alasan Kenapa Anda Tidak Boleh Bersedihjangan bersedih

Baik Buruk Peranan Hati

EDUKATIF. Hati merupakan asas yang sangat penting dan tersembunyi dalam diri setiap insan. la memainkan peranan yang sangat bermakna dalam kehidupan seharian. Rasulullah s.a.w. menyatakan soal hati seperti berikut:

‘Ketahuilah kamu di da
lam badan manusia terdapat segumpal darah. Apabila baik maka baiklah keseluruhan segala perbuatannya dan apabila buruk maka buruklah keseluruhan tingkah lakunya. Ketahuilah kamu bahawa ia adalah hati’

Berdasarkan hadis di atas bahawa kebaikan manusia atau keburukannya datang dari hati, kerana hati adalah pengarah bagi pancaindera yang lahir. Jika hatinya baik maka baiklah segala perbuatannya serta rasa senang setiap rakan taulan mendekatinya dalam pergaulan. Andai hatinya buruk dan busuk, maka segala perbuatannya akan jahat dan keji, sentiasa cenderung ke arah maksiat mengikut kehendak hati dan hawa nafsu, dan pernikirannya ketika itu pula akan kalah dan sentiasa diketepikan. Oleh itu, hati adalah raja bagi seluruh anggota, manakala anggota-anggotanya yang lain adalah tentera. Anggota-anggota ini sering melakukan sesuatu mengikut kehendak hati. Andai baik hati maka baiklah dalam pergaulan. Andai sebaliknya, maka kawan dan rakan seringl kali menjadi mangsa. Dalam masalah ini Allah s.w.t sentiasa mengingatkan kepada hamba Nya melalui firman Nya dalam al Quran, surah al Syu'ara' 26, ayat 88-89 yang berbunyi:

“Di hari yang tidak ada manfaat sama ada harta benda begitu juga anak-anak melainkan sesiapa yang menghadap Allah dengan hati yang suci murni (iaitu penuh keikhlasan) kerana Allah semata-mata.”

Hati yang amat dihargai di sisi Allah ialah hati yang suci bersih dari sebarang maksiat, syubhah, hasad dengki dan seterusnya perkara perkara yang makruh atau yang dibenci oleh Allah. Sebab itu Rasulullah s.a.w sentiasa berdoa kepada Allah dengan sabdanya:

‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon darimu hati yang suci bersih’

Walaupun Rasulullah s.a.w seorang yang maksum, tetapi ia sentiasa berdoa supaya hatinya suci bersih. Hal ini adalah bertujuan sebagai pengajaran kepada umatnya.

Dengan demikian hati yang suci bersih dari sebar ang kekejian itu ialah hati yang bersih dari segala penyakit yang dibenci oleh Allah seperti hasad, dengki, dendam, iri hati, cemburu di atas kejayaan orang lain atau merancang sesuatu yang tidak baik bertujuan menganiaya orang lain dan sebagainya.

Seandainya tidak ada perkara perkara yang tersebut di atas, sudah tentu hati itu akan sentiasa kasih kepada Allah dengan melakulcan perkara perkara yang diredai oleh Allah dengan rasa ikhlas. Rakan dan taulan juga menyenanginya dalam pergaulan dan Allah sentiasa mengasihinya.

Situasi ini sangat dititikberatkan oleh syariat kerana hati memainkan peranan penting ke arah mengukuhkan keimanan dan memantapkan keyakinan akidah seseorang yang beriman kepada Allah berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w yang berbunyi:

‘Tidak tetap iman seseorang hamba sehinggalah tetap pendirian nya.’

Bagi menentukan ketetapan iman atau sebaliknya dengan herdasarkan segala amalan anggota lahiriah yang berlandaskan niat hati kerana kejujuran amalan itu tidak wujud melainkan terletak pada hati yang ikhlas.

Tetap Pendirian

Istilah tetap pendirian boleh diertikan dengan jati diri dan dalam bahasa Arab disebut istiqaah qulub seperti mana tersebut dalam hadis di atas. Bagi seseorang yang tetap pendiriannya, ia tidak mudah dipengaruhi olch mana mana unsur yang tidak baik atau hasutan jahat yang boleh membawa kemusnahan diri. Apabila disentuh soal keimanan pula, seseorang yang tetap pendirian itu disebut sebagai kuat iman atau warak, iaitu hatinya sentiasa merasa ingat dan patuh kepada suruhan dan perintah Allah dan sentiasa melakukan sesuatu ke arah yang diredai oleh Allah sepanjang hayatnya secara baik dan sabar. Sebab itulah sekiranya Allah mahu hambanya baik, maka diperelokkan isi hatinya dengan mengenali Allah dan sifatnya serta memahami segala ilmu agama dan hikmah keagungan ilmu itu sendiri. Manakala jiwanya merasai betapa nikmatnya memahami sesuatu bidang ilmu dengan mendalam dan baik dengan merasai kemanisan ilmu seperti mana ia merasai kemanisan iman. Pepatah Arab ada menyatakan:

‘Kemanisan ilmu bila dikuasai oleh orang yang ada kemanisan iman bagaikan kemanisan tamar yang terhidang di hadapan orang yang sedang berbuka puasa.’

Pepatah ini menggambarkan perwatakan orang yang beriman dan berilmu apabila disertai dengan kesabaran terasa senang dan tenang serta sejuk setiap mata yang memandang.

Itulah peranan hati dalam kehidupan. Hati dapat mencorak kewibawaan seseorang melalui gerak geri dan perilaku yang disenangi dalam pergaulan harian sama ada di tempat kerja seperti majikan dengan pekerjanya atau sebaliknya ataupun di mana sahaja atau sesiapa yang berdamping dengannya. Sesiapa juga yang ada kaitan dalam melaksanakan sesuatu perbincangan dan tunjuk ajar darinya sering kali tidak mudah melatah dalam memutuskan sesuatu keputusan. Inilah sikap orang yang tetap pendirian dengan erti kata jati diri yang berlandaskan iman, ilmu, dan akal yang mantap yang dapat merealisasikan keadaan pergaulan yang sempurna dan tenang. Sebaliknya orang yang mati hati itu tidak mahu mengambil berat soal tuntutan yang disyariatkan oleh Allah dan tidak mahu memahami adab di dalam pergaulan atau hubungan sesama manusia sama ada soal memberi salam atau menerima salam orang lain tidak disampaikan kepada penerima. Begitu juga soal keizinan untuk memasuki ke dalam rumah orang lain, jauh sekali hendak menghormati hak sesama manusia atau berterima kasih kepada orang yang memberi pertolongan kepadanya. Secara tidak langsung balasan buruk baik selepas mati tidak sekali-kali dihiraukan, jauh sekali hendak memikir kebesaran Allah dan keagungan maha pencipta. (Imam Falkhhruddin Al-Razi Al-Shafie 1990, 52-53)

Sebab itu Allah menggambarkan kedudukan mereka dalam al Quran seperti binatang ternakan dalam firman-Nya dalam surah al A'raf, ayat 179:

“Mereka itu seperti binatang ternakan bahkan mereka lebih sesat dari itu.”

Itulah gambaran orang yang mati hati tidak dapat memahami apa maksud segala kejadian Allah, maka ia tidak mampu menghasilkan segala kelebihan yang Allah anugerahkan kepadanya. Akhirnya mereka lengah dan tidak mengambil berat akan segala suruhan Allah. Hidup mereka dalam kejahilan yang mati dari kesedaran akidah yang menjadi asas kepada agama Islam, sedangkan ia mengaku dirinya adalah Islam. Golongan inilah yang digambarkan hidup mereka sebagai kubur kepada nyawa dan roh mereka sendiri seperti mana yang digambarkan oleh penyair di dalam syairnya dibawah ini.

‘Dalam kejahilan sebelum mati ia merupakan mati kepada si jahil dan jasad mereka sebelum berkubur telah terkubur. Roh mereka telah bersangkar dalam kekejian jasad yang jahil maka bagi mereka tiada harapan sebelum jasad mereka hancur mereka telah hancur.’

Maksud jahil di sini ialah mati hati dan rohani, iaitu jahil untuk mengenali Allah dan segala ilmu yang disyariatkan kepada hambanya untuk mendalami dan beramal dengannya semasa roh dikandung jasad. Kerana ilmu itu dari Allah khusus untuk hamba Nya yang beriman dan ilmu Allah itu merupakan cahaya yang dapat menghidupkan hati dari segala kejahilan. Seandainya seseorang hamba itu menjauhkan diri dari ilmu Allah maka hatinya terus mati, ibarat tanah tanpa hujan tiada tumbuh tumbuhan yang menghiasi di permukaannya. (Ibnu Qaim Al-Juziah 691-751H. 273-276 ms.)

Lantaran itulah Lukmanulhakim telah menasihati anaknya dengan katanya:

‘Wahai anakku, dudukiah bersama sama ulama dan berbincanglah bersama mereka dengan penuh dedikasi, maka sesungguhnya Allah akan menghidupkan segala isi hati hambanya dengan cahaya hikmah ilmu-Nya seperti mana menyubur bumi dengan titisan hujan’.

Demikian juga Muaz bin Jabal pernah menegaskan: "Tuntut olehmu akan ilmu sesungguhnya menuntut ilmu kerana Allah akan menjadikan kamu takut kepada-Nya. Menuntut ilmu adalah ibadat, mengingati ilmu merupakan tasbih, membincangnya pula adalah jihad dan sekiranya kamu ajar kepada orang yang tidak mengetahui adalah sedekah. Manakala menghabiskan masa dengan ahli ilmu merupakan pendekatan diri kepada Allah dan ilmulah yang memberi pengetahuan terhadap kamu soal halal haram, makruh atau syubhah yang akan terpelihara diri kamu dari api neraka".

Oleh itu, sentiasalah dekati dengan ilmu kerana ia menyegarkan hati dan rohani yang telah terkulai layu. Sekiranya kita patuhi segala kehendak ilmu pengetahuan yang kita ketahui ia akan menerangi jalan kebahagiaan dunia dan akhirat, kerana ilmu satu satunya yang dapat menjinakkan jiwa yang liar serta menghidupkan hati yang mati. Dengan demikian hati yang mati ini tiada yang dapat menghidupkannya melainkan ilmu dan iman serta keikhlasan beribadat kepada Allah sahaja. Yang dimaksudkan dengan menghidupkan hati dengan ilmu ialah dengan sentiasa berzikir, istighfar, selawat ke atas Rasulullah, memaafkan kesalahan orang lain, ikhlas, murah hati dan jauh daripada maksiat. Dengan demikian bolehlah dikatakan hati yang hidup.

Kita boleh mengenali hati yang hidup ini kerana ia mempunyai ciri-ciri tertentu, iaitu menunjukkan sikap berhemah tinggi serta sifat-sifat seperti pemaaf, pemurah, tidak meninggi diri atau menunjuk nunjuk, tidak sombong dan tidak mengeluarkan kata-kata yang boleh menyinggung perasaan orang lain. Di samping itu, apabila dilihat kepadanya, maka akan nampaklah ciri-ciri keimanan seperti khusyuk, lemah lembut, sabar mendengar dan menerima pendapat orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri serta bersimpati dengan orang yang kurang bernasib baik dan bersifat tolong menolong, dan bertimbang rasa. Inilah gambaran orang yang hatinya tidak mati.

Manakala hati yang mati amat ditakuti oleh setiap insan yang beriman. Bagi orang yang beriman, mereka tidak takut mati apabila sampai ajalnya kerana bekalan sudah sempurna, tetapi yang amat ditakuti ialah sekiranya mati hati. Ini kerana mati hati menjadikanjasad hidup dalam keadaan hina disebabkan nafsu tidak berpandukan akal. Ketika itu kedudukan jasad tidak berguna lagi sama ada di sisi Allah atau pada pandangan masyarakat. Oleh yang demikian, hati yang mati adalah pembunuh jiwa yang sihat, manakala jiwa yang sihat berpunca dari hati yang hidup bernafaskan iman. Lantaran itu hati memainkan peranan yang sangat penting ke arah jiwa yang baik dan tenang serta sanggup memikul segala cabaran yang mendatang, ibarat bunga yang segar mengeluarkan keharuman yang menyegar setiap individu dan masyarakat yang mendampinginya. Sebaliknya hati yang mati tiada keharuman jiwa, ibarat bunga yang busuk sentiasa mengeluarkan bauan yang tidak menyenangkan orang lain. Dengan kata lain, orang yang mati hati tidak hertimbang rasa terhadap orang yang kurang bernasib baik. (Abi Hamid Muhammad M Gazali, 1989. 149)

Kewajipan Menjaga Hati Dan Cara Mengubatinya

Menurut Imarn Al-Ghazali, kewajipan ke atas manusia yang waras ialah menjaga dan memperbaiki niat hatinya serta menjauhkan segala anggapan dan sangkaan buruk kepada saudaranya ketika bergaul sesama rakan. Kewajipan inilah yang dituntut oleh syariat kepada semua mukalaf supaya menjaga hati mereka untuk menjadi insan yang kamil dan sempurna dunia dan akhirat. Hati merupakan anggota yang paling berbahaya, dan sesiapa yang mempunyai hati yang sakit dan mati, maka ia akan memberi kesan yang sangat buruk terhadap permasalahan yang sukar untuk diperbaiki. Oleh yang demikian Imam Al-Ghazali menggariskan beberapa asas sebagai panduan menjaga dan mengubati hati.

Asas pertama: Firman Allah dalam surah al-Ghafir, ayat 19 berbunyi:

“Allah mengetahui segala pengkhianatan yang bermula dari mata dan apa yang tersembunyi di dada setiap hamba.”

Dalil di atas dapat difahamkan jika seseorang berhasrat atau terlintas di hatinya hendak menghasut, prasangka, atau melakukan niat jahat, maka ingatlah bahawa Allah amat mengetahui setiap rahsia yang terdetik di dada hambanya melalui dalil al-Quran yang terdapat dalam surah al Maidah, ayat 7:

“Sesungguhnya Allah mengetahui akan segala isi hati yang tersemat di dada hambanya.”

Berdasarkan ayat di atas, Allah memperkuatkan lagi keyakinan hamba-Nya dengan firman-Nya dalam surah al-Ahzab, ayat 51:

“Dan Allah amat mengetahui setiap apa yang terkandung di dalam hati kamu.”

Lantaran itu beberapa kali Allah menyebut dalam al Quran dengan kalimah “Amat mengetahui segala isi hati hamba-Nya” dengan tujuan supaya setiap hamba mengetahui segala ilmu Allah dan taat kepadaNya bagi mengingati dan berhati-hati supaya tidak dilakukan perbuatan yang dilarang secara sengaja atausebaliknya.

Allah memberikan peringatan itu kerana manusia sering melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah dengan mengikut hawa nafsu dan kehendak hati yang amat sukar untuk dihindarkan sedangkan Allah amat mengetahui zahir dan batin juga segala niat isi hati yang mengatur segala perilaku hambanya. Berdasarkan demikian Imam Al-Ghazali telah memberi satu pesanan dengan katanya: "Lihat olehmu akan apa yang kamu mengetahui dari segala hatimu". Maksudnya renunglah segala apa yang mendatangkan kebaikan dari segala kerja hati yang terdiri dari keinginan hati, cita cita, hasrat dan tujuan. Sekiranya baik teruskanlah, andai sebaliknya hentikan dengan segera.

Asas kedua: Sabda Rasulullah s.a.w.

‘Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa paras kamu dan tidak kepada tubuh badan kamu, dan sesungguhnya Allah tetap melihat kepada hati kamu dan segala amalan kamu yang berlandaskan keikhlasan hati.’

Di sini menunjukkan ketetapan hati yang ikhlas merupakan tempat utama yang difokuskan olch Allah swt untuk diberi ganjaran. Tetapi alangkah pelik dan hairan sekali manusia melakukan sesuatu sering kali terlupa kepada Allah tetapi yang diingat ialah untuk mendapat pujian dan sanjungan serta penghormatan sesama manusia. Inilah yang menjadi ukuran dalarn pengorbanan seharian tanpa keikhlasan yang sebenar. (Imam Abi Abdul Rahman Al-Sulma. 330 412H, ms 10)

Asas ketiga: Hati merupakan ketua kepada anggota manakala anggota anggota lain adalah ikutan kepada hati, jika elok isi hati maka tetaplah pendiriannya serta eloklah perilaku anggota anggota lain yang sernuanya mengikut kehendak hati. Berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w. di dalam hadis yang berbunyi:

‘Sesungguhnya di dalam jasad manusia didapati segumpal darah, apabila baik maka baiklah keseluruhan badannya, dan apabila buruk maka buruklah segala keperibadiannya, adakah tidak kamu tahu sesungguhnya itulah hati.’

Berdasarkan ayat ayat di atas dan juga hadis menunjukkan hati mcrupakan anggota yang. paling berharga, tempat simpanan segala kemuliaan seorang hamba, asas segala amalan lahir dan batin. Hati adalah ketua segala anggota yang merupakan panduan kepada rohani dan jiwa setiap insan. Demikianlah peranan hati sangat besar tanggunjawabnya ke arah mengendalikan nilaian diri, manakala kejahilan pula mematikan hati dan rohani sekalipun badannya hidup dan bergerak di muka burni. Jasadnya merupakan kubur bagi hati yang telah mati. Perkara sedemikian dapat dielakkan sekiranya kita belajar dan mengetahui akan segala ilmu Allah yang, disyariatkan kepada kita. Ilmu Allah ini dapat menjadi permangkin keimanan dan penawar. Untuk menghidupkan hati yang telah mati, kita hendaklah rnelakukan ibadat dan beralakhlak mulia sesama manusia.
Sekian, wassalam.

Baik Buruk Peranan Hati