Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL-PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL-PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Desember 2012

Makalah - Tugas dan Peran Serta Guru

MAKALAH PROFESI KEPENDIDIKAN

PROFESI KEPENDIDIKAN

TUGAS DAN PERAN SERTA GURU

BAB I
PENDAHULUAN

I . Latar Belakang Masalah
Guru adalah satu komponen manusiawi dalam proses belajar-mengajar, yang ikut berperan dalam usaha membentuk sumber daya manusia yang potensial dibidang pembangunan. Oleh karena itu guru, guru yang merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga professional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang makin berkembang. Dalam arti khusus dikatakan bahwa pada setiap diri guru itu terletak tanggung jawab untuk membawa para siswanya pada suatu kedewasaan atau taraf kematangan tertentu.

Dalam rangka ini guru tidak semata-mata sebagai pengajar tetapi juga sebagai pendidik dan sekaligus sebagai pembimbing. Berkaitan dengan ini, sebenarnya guru memiliki peranan yang unik dan sangat kompleks di dalam proses belajar-mengajar, dalam usahanya mengantarkan siswa/anak didik ke taraf yang dicita-citakan. Oleh karena itu, setiap rencana kegiatan guru harus dapat didudukkan dan dibenarkan semata-mata demi kepentingan anak didik, sesuai dengan profesi dan tanggung jawabnya.

II. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:

  • Persyaratan apa saja untuk dapat menjadi seorang guru?
  • Mengapa guru disebut sebagai tenaga profesional?
  • Bagaimana hubungan guru dengan siswa?
  • Bagaimana kode etik seorang guru?
  • Bagaimana tugas dan tanggung jawab seorang guru?
III. Tujuan Penulisan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut

  • Mengetahui persyaratan seorang guru.
  • Mengetahui tenaga profesional seorang guru
  • Mengetahui hubungan guru dengan siswa
  • Mengetahui kode etik seorang guru
  • Mengetahui tugas dan tanggung jawab guru
  • Mengatahui peran peranan seorang guru
IV. Metode Penulisan Makalah 
  • Mengoleksi buku-buku dari perpustakaan dan mencari di internet, dari buku-buku tersebut kami diskusikan menjadi metode penulisan
  • Kepustakaan
  • Diskusi dalam kelompok


BAB II
PEMBAHASAN

Persyaratan guru
Untuk dapat melakukan peran dan melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya, maka untuk menjadi seorang guru harus memenuhi beberapa persyaratan. Adapun syarat-syarat menjadi guru itu dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok.
  1. Persyaratan administratif. Syarat-syarat administratif ini antara lain meliputi: berkewarganegaraan yang baik (Indonesia), umur minimal 18 tahun, mengajukan permohonan. Selain itu masih ada syarat-syarat lain yang telah ditentukan sesuai dengan kebijakan yang ada.
  2. Persyaratan teknis. Dalam persyaratan teknis ini ada yang bersifat formal. Yakni harus berijazah pendidikan guru. Kemudian persyaratan yang lain adalah menguasai cara dan teknik mengajar, terampil mendesain program pengajaran serta mempunyai motivasi dan cita-cita memajukan pendidikan/pengajaran. 
  3. Peryaratan psikis. Yang berkaitan dengan kelompok persyaratan psikis, antara lain: sehat rohani, dewasa dalam berpikir dan bertindak, mampu mengendalikan emosi, sabar, ramah, dan sopan, memiliki jiwa kepemimpinan, konsekuen dan berani bertanggung jawab, berani berkoeban dan memiliki jiwa pengabdian. Guru dituntut untuk bersifat pragmatis dan realistis, tetapi juga memiliki pandangan yang mendasar dan filosofi. Guru harus mematuhi norma yang berlaku serta memiliki semangat yang membangun.
  4. Persyaran fisik. Persyaratan fisik ini antara lain meliputi: berbadan sehat, tidak memiliki cacat tubuh yang mungkin mengganggu pekerjaannya. Dalam persyaratan fisik ini juga menyangkut kerapian dan kebersihan, termasuk bagaimana cara berpakaian. Sebab bagaimanapun juga guru akan selalu dilihat/diamati dan bahkan dinilai oleh para siswa.
Sesuai dengan tugas profesionalnya, maka sifat dan persyaratan tersebut secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam spektrum yang lebih luas, yakni guru harus: memiliki kemampuan professional, memiliki kapasitas intelektual, memiliki sifat edukasi sosial. Ketiga syarat kemampuan tersebut diharapkan telah dimiliki oleh setiap guru, sehingga mampu memenuhi fungsinya sebagai pendidik bangsa, guru di sekolah dan pemimpin di masyarakat.

Guru Sebagai Tenaga Profesional
Seorang pekerja profesional, khususnya guru dapat dibedakan dari seorang teknisi, karena disamping menguasai sejumlah teknik serta prosedur kerja tertentu, seorang pekerja professional juga ditandai dengan adanya informed responsiveness terhadap implikasi kemasyarakatan dari objek kerjanya. Hal ini berarti seorang guru harus memiliki persepsi filosofis dan ketanggapan yang bijaksana yang lebih mantap dalam menyikapi dan melaksanakan pekerjaannya.
Sehubungan dengan profesionalisme seseorang, Wolmer dan Mills mengemukakan bahwa pekerjaan itu baru dikatakan sebagai suatu profesi, apabila memenuhi kriteria atau ukuran-ukuran sebagai berikut:

1. Memiliki spesialisasi dengan latar belakang teori yang luas, maksudnya:
  • memiliki pengetahuan umum yang luas,
  • memiliki keahlian khusus yang mendalam.
2. Merupakan karier yang dibina secara organisatoris, maksudnya:
  • adanya keterkaitan dalam suatu organisasi professional,
  • memiliki otonomi jabatan,
  • memiliki kode etik jabatan,
  • merupakan karya bakti seumur hidup.
3. Diakui masyarakat sebagai pekerjaan yang mempunyai status professional, maksudnya:
  • memperoleh dukungan masyarakat,
  • mendapat pengesahan dan perlindungan hukum,
  • memiliki persyaratan kerja yang sehat,
  • memiliki jaminan hidup yang layak.

Hubungan guru dengan siswa

Untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal, banyak dingaruhi komponen-komponen belajar mengajar. Tapi di samping komponen pokok yang ada dalam kegiatan belajar-mengajar, ada factor lain yang ikut mempengaruhi keberhasilan belajar siswa, yaitu soal hubungan antara guru dan siswa.Hubungan guru dengan siswa/anak didik di dalam proses belajar mengajar merupakan factor yang sangat menentukan. Bagimana baiknya bahan pelajaran yang diberikan, bagaimanpun sempurnanya metode yang digunakan, namun jika hubungan guru-siswa merupakan hubungan yang tidak harmonis, maka dapat menciptakan suatu hasil yang tidak diinginkan.

Dalam hubungan ini, salah satu cara untuk mengatasinya adalah melalui contact-hours di dalam hubungan guru-siswa. Contact-hours atau jam-jam bertemu antara guru-siswa, pada hakikatnya merupakan kegiatan di luar jam-jam prestasi di muka kelas seprti biasanya. Perlu dikembangkan sikap demokratis dan terbuka dari para guru dan ada keaktifan dari pihak siswa dan gureu harus bersikap ramah sebaliknya siswa juga harus bersikap sopan, saling hormat menghormati, guru lebih bersifat manusiawi, rasio guru dan siswa yang lebih bersifat proporsional, masing-masing pihak bila perlu mengetahui latar belakang baik guru maupun siswa. Ada beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan.
  1. perlu dedikasi yang penuh dikalangan guru yang disertai dengan kesadaran akan fungsinya sebagai pamong bagi anak didiknya/siswa.
  2. menciptakan hubungan yang baik antara sesama staf pengajar dan pimpinan, sehingga mencerminkan pola hubungan baik antara guru dan siswa.
  3. sistem pendidikan dan kurikulum yang mantap.
  4. adanya fasilitas dan ruangan yang memadai bagi para guru untuk mencukupi kebutuhan tempat bertamu antara guru dan siswa.
  5. rasio guru dan siswa yang rasional, sehingga guru dapat melakukan didikan dan hubungan secara baik.
  6. perlu adanya kesejahteraan guru yang memadai sehingga guru tidak terpaksa harus mencari hasil sampingan.
Kode Etik Guru

Secara harfiah kode etik berarti sumber etik. Etik artinya tata susila (etika) atau hal-hal yang berhubungan dengan kesusilaan dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Jadi kode etik guru adalah aturan tata susila keguruan. Maksudnya aturan-aturan tentang keguruan (yang menyangkut pekerjaan-pekerjaan guru) dilihat dari segi susila. Maksud kata susila adalah hal yang berkaitan dengan baik dan tidak baik menurut ketentuan-ketentuan umum yang berlaku. Dalam hal ini kesusilaan diartikan sebagai kesopanan, sopan santun dan keadaban.

Kode etik guru juga merupakan perangkat untuk mempertegas atau mengkristalisasi kedudukan dan peranan guru serta sekaligus untuk melindungi profesinya.
Adapun rumusan kode etik guru yang merupakan kerangka pedoman guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya itu sesuai dengan kongres PGRI XIII, yang terdiri dari sembilan item berikut ini:
  1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
  2. Guru memiliki kejujuran professional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
  3. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalah gunaan.
  4. Guru menciptakan suasanan kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
  5. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
  6. Guru secara sendiri dan/atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
  7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antar sesama guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan.
  8. Guru secara bersama-sama memelihara, membina dan meningkatkan mutu organisasi guru professional sebagai sarana pengabdiannya.
  9. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.
Tugas dan Tanggung Jawab Guru

Tugas guru sebenarnya bukan hanya disekolah saja, tetapi bisa dikatakan dimana saja mereka berada. Di rumah, guru sebagai orang tua atau ayah-ibu adalah pendidik dari para putra dan putrinya. Di dalam masyarakat sekitar yaitu masyarakat kampong, desa tempat tinggalnya guru sering kali terpandang sebagai tokoh suri teladan bagi orang-orang disekitarnya, baik dalam sikap dan perbuatannya misalnya cara dia berpakaian, berbicara dan bergaul, maupun pandangan-pandangannya. Peters mengemukakan ada tiga tugas dan tanggung jawab guru yakni:
  1. Guru sebagai pengajar,
  2. guru sebagai pembimbing,
  3. guru sebagai administrator.
Peters dan Amstrong, membagi tugas dan tanggung jawab guru menjadi lima kategori, yakni:
  1. Guru bertanggung jawab dalam pengajaran. Tanggung jawab guru yang terpenting ialah memberikan pengajaran kepada siswa guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan. Guru harus membimbing siswa agar mereka memperoleh keterampilan-keterampilan, pemahaman, perkembangan berbagai kemampuan, kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan perkembangan sikap serasi.
  2. Guru bertanggung jawab dalam memberikan bimbingan. Guru memberi tekanan kepada tugas, memberikan bantuan kepada siswa dalam pemecahan masalah yang dihadapinya. Tugas ini merupakan aspek mendidik, sebab tidak hanya berkenaan dengan penyampaian ilmu pengetahuan tetapi juga menyangkut pengembangan kepribadian dan pembentukan nilai-nilai para siswa.
  3. Guru perlu menghormati pribadi anak, supaya mereka menjadi pribadi yang tahu akan hak-hak orang lain. Kebiasaan, sikap, dan apresiasinya harus dikembanggkan, hingga pada waktunya mereka menjadi nabusia yang mengerti akan hak dan tanggung jawab sebagai anggota masyarakat yang berdiri sendiri. Karena itu guru harus memahami benar tentang masalh bimbingan belajar, bimbingan pendidikan, bimbingan pribadi, dan terampil dalam memberikan penyuluhan dengan tepat.
  4. Guru bertanggung jawab dalam mengembangkan kurikulum. Sesungguhnya guru merupakan seorang key person yang paling mengetahui tentang kebutuhan kurikulum yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Untuk mengubah kurikulum itu bukan tidak mungkin, akan tetapi dalam rangka mambuat atau memperbaiki proyek-proyek pelaksanaan kurikulum, yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawabnya. Paling tidak dia berkewajiban memberi saran-saran yang berguna demi penyempurnaan kurikulum kepada pihak yang berwenang. Dalam hubungan ini guru dapat melakukan banyak hal, antara lain: menyarankan ukuran-ukuran yang mungkin dapat digunakan dalam memilih bahan kurikulum, berusaha menemukan minat, kebutuhan dan kesanggupan siswa, berusaha menemukan cara-cara yang tepat agar antara sekolah dan masyarakat terjalin hubungan kerja sama yang seimbang, mempelajari isi dan bahan pelajaran pada setiap kelas dan meninjaunya dalam hubungan dengan praktek sehari-hari.
  5. Tanggung jawab dalam mengembangkan profesional guru. Guru sangat perlu meningkatkan peranan dan kemampuan profesionalnya. Tanpa adanya kecakapan yang maksimal yang dimiliki oleh guru maka kiranya sulit bagi guru tersebut mengembang dan melaksanakan tanggung jawabnya dengan cara yang sebaik-baiknya. Peningkatan kemampuan itu meliputi kemampuan untuk melaksanakan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas di dalam sekolah dan kemampuannya yang diperlukan untuk merealisasikan tanggung jawabnya di luar sekolah. Kemampuan-kemampuan itu harus dipupuk dalam diri pribadi guru sejak ia mengikuti pendidikan guru sampai ia bekerja.
  6. Tanggung jawab dalam membina hubungan dengan masyarakat. Guru tak mungkin melaksanakan pekerjaannya secara efektif, jika seorang guru tidak mengenal masyarakat seutuhnya dan secara lengkap. Harus dipahami dengan baik tentang pola kehidupan, kebudayaan, minat, dan kebutuhan masyarakat, karena perkembangan sikap, minat, aspirasi anak sangat banyak dipengaruhi oleh masyarakat sekitarnya. Ini berarti, bahwa dengan mengenal masyarakat, guru dapat mengenal siswa dengan menyesuaikan pelajarannya secara aktif.
Peranan Guru

Sehubungan dengan fungsinya sebagi pendidik dan pembimbing, maka diperlukan adanya berbagi peranan pada diri guru. Peranan guru ini akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya baik dengan siswa (yang terutama) , sesame guru, maupun dengan staf yang lain. Peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar, secara singkat dapat disebutkan sebagai berikut.

1. Sebagai Informator. 
Sebagi pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum. Dalam pada itu berlaku teori komunikasi berikut:
  • Teori stimulus-respon
  • Teori dissonance-reduction
  • Teori pendekatan fungsional
2. Sebagai Organisator
Guru sebagai organisatorpengelola kegiatan akademik, silabus, workshop, jadwal pelajaran dan lain-lain. Komponen yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, semua diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga dapat mencapai efektifitas dan efesiensi dalam belajar pada diri siswa.

3.Sebagai Motivator
Peran guru sebagai motivator ini penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas), sehingga akan terjadi dinamika dalam proses belajar mengajar.

4.Sebagai Pengarah/Direktor
Jiwa kepemimpinan bagi guru dalam peranan ini lebih menonjol. Guru dalam hal ini harus membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan, guru harus juga “handayani”.

5.Sebagai Inisiator
Guru dalam hal ini sebagi pensetus ide-ide dalam proses balajar. Sudah barang tentu ide-ide itu merupakan ide-ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didiknya. Jadi termasuk pula dalam lingkup semboyan “ing ngarso sungtulodo”.

6.Sebagai Transmitter
Dalam kegiatan belajar guru juga akan bertindak selaku penyabar kebijaksanaan pendidikan dan pengetahuan.

7.Sebagai Fasilitator
Berperan sebagai fasilitator, guru mamberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar, misalnya dengan menciptakan menciptakan suasana kegiatan belajar yang sedemikian rupa, serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi belajar-mengajar berangsung secara efektif. Hal ini bergayut dengan semboyan “Tut Wuri Handayani”.

8.Sebagai Mediator
Guru sebagai mediator dapat diartikan sebagai penengah dalam kefiatan belajar siswa. Misalnya memberikan lajan keluar kemacetan dalam kegiatan diskusi siswa. Megiator juga diartikan penyedia media. Bagaimana cara memakai dan mengorganisasikan penggunaan media.

9.Sebagai Evaluator
Evaluator yang dimaksud adalah evaluasi yang mencangkup pola evaluasi intrinsic. Untuk ini guru harus hati-hati dalam menjatuhkan nilai atau kriteria keberhasilan.

BAB III
PENUTUP


KESIMPULAN

Banyak persyaratan guru yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang guru, antara lain persyaratan administratif, teknis, psikis, dan fisik. Kemudian sebagai guru harus memiliki kematangan jasmani, rohani, maupun edukasi. Disamping itu adanya syarat khusus yang bersifat mental, yakni: roeping. Guru sebagai tenaga professional, berarti pekerjaan guru memerlukan pendidikan lanjut di dalam science (ilmu pengetahuan) dan teknologi yang dapat digunakan sebagai perangkat dasar untuk diterapkan dalam berbagai kegiatan kemaslahatan umum.

Seorang guru perlu menciptakan hubungan baik dengan siswa, termasuk pengembanngan hubungan-hubungan secara informal dan contact-hours. Dalam melaksanakan semua tugasnya itu, guru sebagai tenaga profesional, memerlukan adanya kode etik guru yang merupakan pedoman tingkah laku bagi guru dalam berinteraksi dengan subjek didik. Ada lima macam tugas dan tanggung jawab seorang guru yaitu, tanggung jawab dalam pengajaran, tanggung jawab dalam memberikan bimbingan, tanggung jawab dalam mengembangkan kurikulum, tanggung jawab dalam mengembangkan profesi, dan tanggung jawab dalam membina hubungan dengan masyarakat.

Guru mempunyai peranan yang sangat penting yaitu menguasai dan mengembangkan materi ajar, merencanakan dan menyiapkan pelajaran, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.

SARAN

Saran yang dapat disampaikan yaitu agar seorang guru melaksanakan tugas, peran, dan tanggung jawab seorang guru dengan baik. Profesi guru berbeda dengan profesi lainnya. Perbedaan tersebut terletak dalam tugas dan tanggung jawab yang besar serta kemampuan dasar yang disyaratkan (kompetensi)

Makalah - Tugas dan Peran Serta Guru

Makalah - Sosiologi Sebagai Ilmu Pengetahuan

BAB I
PENDAHULUAN


Sosiologi Sebagai Ilmu Pengetahuan

A.Latar Belakang Sosiologi

Sosiologi Sebagai Ilmu Pengetahuan dan Konsep Tentang Realitas Sosial Budaya sebagaimana yang telah guru kami sampaikan bahwa ilmu sosiologi pertama kali digunakan oleh seorang filosof perancis yang bernama Auguste Marie Francois Savier Comte, berkat jasanya itu Auguste Comte di juluki sebagai bapak sosiologi. Untuk lebih jelasnya kita akan menjelaskan dibawah ini

B. Identifikasi Masalah
  • Apa itu sosiologi ?
  • Mengapa Soiologi Sebagai Ilmu pengetahuan ?
  • Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kehidupan dan tingkah laku terutama yang berkailtannya dengan satu system social, dan menyelidiki ikatan-ikatan anatar manusia yang menguasai kehidupan dengan mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubah nya perserikatan-perserikatan hidup serta kepercayaan dan keyakinan, memberisifat tersendiri kepada cara hidup bersama dalam tiap persekutuan hidup manusia. Sosiologi dapat membantu kita untuk mengontrol atau mengendalikan setiap tindakan dan peilaku kita dalam kehidupan bermasyarakat.
  • Karena ilmu sosiologi dapat bermanfaat dalam bidang ilmu pengetahuan, misalnya sosiologi mampu mengkaji status dan peran kita sebagai anggota masyarakat, serta dapat menilai ‘dunia’ atau ‘budaya’ lain yang belum kita ketahuai.dengan adanya ilmu sosiologi kita dapat mengetahui apa yang belum kita ketahui mengenai hal social.
C. Rumusan Masalah
Maka jelaslah apa itu sosiologi, dan mengenai sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, jadi kita dapat mengetahui bahwa ilmu sosiologi ilmu yang berkaitan erat nya dengan social dan peranan nya yang begitu bermanfaat bagi masyarakat.Pokok bahasan sosiolgi ada empat:

  1. Fakta sosial sebagai cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunya kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut. Contoh, di sekolah seorang murid diwajidkan untuk datang tepat waktu, menggunakan seragam, dan bersikap hormat kepada guru. Kewajiban-kewajiban tersebut dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggar. Dari contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang ada di luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan individu (murid).
  2. Tindakan sosial sebagai tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain. Contoh, menanam bunga untuk kesenangan pribadi bukan merupakan tindakan sosial, tetapi menanam bunga untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba sehingga mendapat perhatian orang lain, merupakan tindakan sosial.
  3. Khayalan sosiologis sebagai cara untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia. Menurut Wright Mills, dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Alat untuk melakukan khayalan sosiologis adalah persmasalahan (troubles) dan isu (issues). Permasalahan pribadi individu merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Isu merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu. Contoh, jika suatu daerah hanya memiliki satu orang yang menganggur, maka pengangguran itu adalah masalah. Masalah individual ini pemecahannya bisa lewat peningkatan keterampilan pribadi. Sementara jika di kota tersebut ada 12 juta penduduk yang menganggur dari 18 juta jiwa yang ada, maka pengangguran tersebut merupakan isu, yang pemecahannya menuntut kajian lebih luas lagi.
  4. Realitas sosial adalah penungkapan tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga oleh sosiolog dengan mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif

BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
A.Pengertian Sosiologi
Istilah sosiologi berasal dari kata “socious” (bahasa latin) yang artinya teman atau kawan, dan “logos” (bahasa Yunani) yang artinya ilmu pengetahuan. Secara harfiah sosiologi berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan antar teman. Yang dimaksud hubungan antar teman meliputi antara orang yang satu dengan orang yang lain, baik yang bersungguh-sungguh teman atau sahabat maupun lawan atau musuh. Pengertian ini diperluas sedikit menjadi “Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari interaksi manusia di dalam masyarakat.”
Istilah sosiologi digunakan pertama kali oleh seorang filosof dari Perancis yang bernama Auguste Marie Francois Savier Comte, ini terkenal dengan sebutan Auguste Comte pada tahun (1798 – 1857), dalam bukunya “Course de Philosophie Positive”. Karena jasanya maka Auguste Compte disebut sebagai Bapak Sosiologi. Berikut ini definisi sosiologi menurut para ahli :

Allan Jhonson. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan satu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem itu.

Anthony Giddens
Sosiologi merupakan studi tentang kehidupan sosial manusia, kelompok dan masyarakat.

Herbert Spencer dari Inggris
Sosiologi adalah penelitian tentang susunan – susunan dan proses – proses dari kehidupan sosial sebagai suatu keseluruhan.

Hassan Shadily
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat, dan menyelidiki ikatan – ikatan antara manusia yang menguasai kehidupan dengan mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh, serta berubahnya perserikatan – perserikatan hidup serta kepercayaan dan keyakinan, memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama dalam tiap persekutuan hidup manusia.

Pitirim A. Sorokin
Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari :
  • Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial, misalnya gejala ekonomi dan agama, keluarga dan moral, hukum dan ekonomi, gerak masyarakat dan politik, dan sebagainya.
  • Hubungan dan saling pengaruh antara gejala – gejala sosial dan gejala – gejala non sosial, misalnya gejala geografis, biologis dan sebagainya, serta
  • Ciri – ciri umum semua jenis gejala sosial.
Mayor Polak
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni hubungan diantara manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik kelompok formal maupun kelompok material atau kelompok statis maupun kelompok dinamis.

Roucek dan Warren
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia dengan kelompok.

Lahirnya Sosiologi
Sosiologi lahir berkaitan dengan terjadinya perubahan sosial masyarakat di Eropa Barat pada masa Revolusi Industri (di Inggris) dan Revolusi Sosial ( di Perancis).
                                                                                                      
1. Tokoh-tokoh sosiologi antara lain sebagai berikut :
Auguste Comte (1798 – 1857)
Istilah sosiologi pertama kali dikemukakan oleh Auguste Comte seorang ahli filsafat Perancis pada tahun 1839, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Sumbangannya terhadap sosiologi antara lain sebagai berikut :

1. Sosiologi harus didasarkan pada pengamatan, perbandingan, eksperimen, dan metode historis secara sistematik. Objek yang dikaji harus berupa fakta, onjektif, bermanfaat, serta mengarah pada kepastian dan kecermatan.
2. Auguste Comte menjelaskan bahwa dalam menjelaskan gejala alam dan gejala sosial, manusia akan melewtai tiga jenjang yang dikenal dengan hukum tiga jenjang yaitu :
  • jenjang teologi
  • jenjang metafisika dan
  • jenjang positif
3. Auguste Comte mengatakan bahwa sosiologi merupakan ratu ilmu – ilmu sosial dan menempati peringkat teratas dalam hierarki ilmu – ilmu sosial.
4. Auguste Comte membagi sosiologi ke dalam dua bagian, yaitu statistika sosial (sosial statics) dan dinamika sosial (sosial dinamics).

Sosiologi sebagai ilmu (sifat hakekat)
Menurut Soerjono Soekanto, ilmu dapat didefinisikan sebagai kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran (logika). Pengetahuan harus bersifat objektif, artinya selalu dapat diperiksa dan diuji secara kritis oleh orang lain. Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu. Hanya pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan teruji kebenarannya yang dapat disebut sebagai ilmu.
Sosiologi dapat disebut sebagai ilmu karena sudah memenuhi syarat – syarat tersebut. Sosiologi merupakan ilmu yang berdiri sendiri yang objeknya adalah masyarakat. Sosiologi dapat disebut memenuhi syarat sebagai ilmu pengetahuan karena memiliki sifat – sifat :
  • Sosiologi bersifat empiris, artinya sosiologi didasarkan pada observasi (pengamatan) terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif melainkan objektif;
  • Sosiologi bersifat teoritis, artinya selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil – hasil observasi, merupakan unsur – unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan antar hubungan dan sebab akibat sehingga menjadi teori;
  • Sosiologi bersifat kumulatif, artinya teori – teori sosiologi terbentuk atas dasar teori – teori yang sudah ada;
  • Sosiologi bersifat nonetis, artinya yang menjadi inti persoalan dalam sosiologi bukanlah persoalan baik buruknya suatu fakta, melainkan tujuan yang hendak dicapai dengan menjelaskan fakta – fakta tersebut.
Ciri-ciri sosiologi sebagai berikut :
  • Sosiologi merupakan ilmu sosial (bukan ilmu alam atau kerohanian)
  • Sosiologi bersifat kategoris (bukan normatif)
  • Sosiologi merupakan ilmu murni (bukan terapan)
  • Sosiologi bersifat abstrak (bukan konkret)
  • Sosiologi bertujuan untuk mendapatkan pola-pola umum terinteraksi.
  • Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan empiris – rasional.
  • Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum (bukan khusus)
  • Objek Sosiologi
  1. Objek material sosiologi adalah kehidupan sosial, gejala – gejala dan proses hubungan antar manusia yang mempengaruhi kesatuan hidup manusia itu sendiri.
  2. Objek formal sosiologi lebih ditekankan pada manusia sebagai mahkluk sosial atau masyarakat yaitu hubungan antar manusia serta proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.
2. Cabang-cabang sosiologi terdiri atas :
  1. Sosiologi Politik. Sosiologi politik adalah suatu cabang sosiologi yang mengkaji hubungan antara gejala–gejala kemasyarakatn dengan politik.
  2. Sosiologi Hukum. Sosiologi hukum adalah cabang sosiologi yang mempelajari hubungan antara gejala – gejala kemasyarakatan dengan hukum.
  3. Sosiologi Pendidikan. Sosiologi pendidikan adalah cabang sosiologi yang mengkaji hubungan gejala – gejala kemasyarakatan dengan pendidikan.
  4. Sosiologi Agama. Sosiologi agama adalah bagian dari ilmu sosiologi yang mempelajari hubungan gejala kemasyarakatan dengan agama.
  5. Sosiologi Kekeluargaan. Sosiologi kekeluargaan adalah cabang sosiologi yang membahas hubungan gejala – gejala kemasyarakatan dengan keluarga.
  6. Sosiologi Kesenian. Sosiologi kesenian adalah cabang sosiologi yang membahas hubungan gejala – gejala kemasyarakatan dengan seni.
  7. Sosiologi Kedokteran. Sosiologi kedokteran adalah cabang sosiologi yang membahas hubungan gejala – gejala kemasyarakatan dengan kedokteran.
  8. Sosiologi Ilmu Pengetahuan. Sosiologi ilmu pengetahuan adalah cabang sosiologi yang membahas hubungan gejala – gejala kemasyarakatan dengan ilmu pengetahuan.
  9. Sosiologi Ekonomi. Sosiologi ekonomi adalah cabang sosiologi yang membahas hubungan gejala-gejala kemasyarakatan dengan ekonomi.
  10. Sosiologi Persengketaan. Sosiologi persengketaan adalah cabang sosiologi yang membahas hubungan gejala – gejala kemasyarakatan dengan persengketaan.
B.Sosiologi Sebagai Ilmu
1. Manfaat sosiologi antara lain sebagai berikut :
Sosiologi dapat membantu kita untuk mengontrol atau mengendalikan setiap tindakan dan perilaku kita dalam kehidupan bermasyarakat. Sosiologi mampu mengkaji status dan peran kita sebagai anggota masyarakat, serta dapat menilai ‘dunia’ atau ‘budaya’ lain yang belum kita ketahui. Dengan bantuan sosiologi kita akan makin memahami nilai, norma, tradisi, dan keyakinan yang dianut oleh masyarakat lain, serta memanfaatkan perbedaan –perbedaan yang ada tanpa menyebabkan timbulnya konflik diantara anggota masyarakat yang berbeda. Bagi kita sebagai generasi penerus, mempelajari sosiologi membuat kita lebih tanggap, kritis, dan rasional dalam menghadapi gejala-gejala sosial masyarakat yang makin kompleks dewasa ini, serta mampu mengambil sikap dan tindakan yang tepat dan akurat terhadap setiap situasi sosial yang kita hadapi sehari – hari.

Metode – metode Sosiologi
Sebagai suatu metode sosiologi menggunakan metode ilmiah dalam mempelajari gejala – gejala alamiah khususnya gejala kemasyarakatan. Teknik dasar dalam metode ilmiah adalah observasi ilmiah atau disebut juga penalaran.

Menurut Paul B. Horton, teknik riset dalam sosiologi, antara lain sebagai berikut :
Study Cross – sectional dan longitudinal, yakni suatu pengamatan yang meliputi suatu daerah yang luas dan dalam suatu jangka waktu tertentu. Sedangkan studi longitudinal adalah studi yang berlangsung sepanjang waktu yang menggambarkan suatu kecenderungan atau serangkaian pengamatan sebelum dan sesudahnya.
Eksperimen laboratorium dan eksperimen lapangan. Dalam eksperimen laboratorium, subjek orang dikumpulkan dalam suatu tempat “laboratorium” kemudian diberi pengalaman sesuai dengan yang diinginkan peneliti, kemudian dicatat dan ditarik kesimpulan.Penelitian pengamatan, hampir sama dengan eksperimen, tetapi dalam penelitian ini peneliti tidak mempengaruhi terjadinya suatu kejadian.

2 .Jenis-jenis Metode Yang Digunakan Dalam Sosiologi Metode Kualitatif :
Metode kualitatif mengutamakan bahan atau hasil pengamatan yang sukar diukur dengan angka. Metode ini meliputi :
  • Metode historis, yaitu menganalisis peristiwa – peristiwa masa lalu untuk merumuskan prinsip – prinsip umum;
  • Metode komparatif, yaitu membandingkan antara bermacam – macam – macam masyarakat;
  • Metode studi kasus, alat-alat yang diperlukan : a) wawancara, b) daftar pertanyaan, c) pengamatan partisipasi
Metode Kuantitatif
Metode kuantitatif mengutamakan bahan – bahan keterangan dengan angka atau gejala – gejala yang diteliti dapat diukur dengan skala, indeks, tabel, dan formula. Termasuk dalam metode ini adalah metode statistik, dimana gejala – gejala masyarakat sebelum dianalisis dikuantifikasi terlebih dahulu.


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Sesuai yang dikatakan oleh auguste comte sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kehidupan sosial dalam masyarakat yang sangat berguna dalam kehidupan masyarakat karna sosiologi dapat membantu masyarakat dalam menyelesaiankan berbagai persoalan dalam kehidupan. Dan Secara harfiah sosiologi berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan antar teman. Yang dimaksud hubungan antar teman meliputi antara orang yang satu dengan orang yang lain, baik yang bersungguh-sungguh teman atau sahabat maupun lawan atau musuh. Pengertian ini diperluas sedikit menjadi “Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari interaksi manusia di dalam masyarakat.”


SARAN

Di dalam kehidupan bermasyarakat sering terjadi sebuah konkrit yang harus di selesaikan dengan baik dengan demikian ilmu sosiologi dapat membantu menangani dan menyelesaikan konkrit itu secara baik. Memang tidak mudah untuk dapat menyelesaikan konkrit itu tapi dengan bermodalkan ilmu sosiologi yang di dapat sedikit demi sedikit jika di laksanakan dengan baik maka perlahan-lahan sebuah konkrit itu dapat terselesaikan.


DAFTAR PUSTAKA

William D Perdue. 1986. Sociological Theory: Explanation, Paradigm, and Ideology. Palo Alto, CA: Mayfield Publishing Company. Hlm. 20
Kamanto Sunarto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI. Hlm. 5
James. M. Henslin, 2002. Essential of Sociology: A Down to Earth Approach Fourth Edition. Boston: Allyn and Bacon. Hlm 10
Pitirim Sorokin. 1928. Contemporary Sociological Theories. New York: Harper. Hlm. 25
Randall Collins. 1974. Conflict Sociology: Toward an Explanatory Science. New York: Academic Press. Hlm. 19
George Ritzer. 1992. Sociological Theory. New York: Mc Graw-Hill. Hlm. 28
Sosiologi: KBBI. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka, 2002
Andrey Korotayev, Artemy Malkov, and Daria Khaltourina, Introduction to Social Macrodynamics, Moscow: URSS, 2006.

Sosiologi Sebagai Ilmu Pengetahuan

Reaksi Redoks

REAKSI REDOKS 
1. Metode Biloks ( Bilangan Oksidasi )

a) Reaksi Ion
Langkah-langkah yang harus di tempuh dalam penyetaraan reaksi, sebagai berikut :

  1. Tentukan unsur yang mengalami perubahan Biloks
  2. Setarakan unsur yang mengalami perubahan biloks dengan memberi koefisien yang sesuai.
  3. Tentukan jumlah penurunan biloks dari oksidator dan jumlah penambahan biloks dari reduktor. jumlah perubahan biloks = jumlah atom yang terlibat di kalikan dengan perubahan biloksnya.
  4. Samakan jumlah perubahan biloks tersebut dengan memberikan koefisien yaang sesuai
  5. Setarakan muatan dengan menambah ion H+ ( Dalam Suasana Asam ), atau ion OH- ( Dalam Suasana Basa )
  6. Setarakan atom H dengan menambahkan H2O
Contoh Soal :
1. Setarakan reaksi redoks berikut :
Zn + NO– 3 → ZnO22– + NH3 ( Suasana Basa )

Jawab :
Langkah 1 : Zn dan N
Langkah 2 : Zn + NO– 3 → 2n O22– + NH3
Langkah 3 : Unsur Zn = Dari 0 menjadi + 2 bertambah 2 Unsur N = Dari +5 menjadi – 3 berkurang 8
Langkah 4 : 8 Zn + 2No– 3 → 8ZnO22– + 2NH3
Langkah 5 : 8Zn + 2No3– → 8ZnO22– + 2NH3 – 2 – 16
Langkah 6 : 14oH– + 8Zn + Zno– 3 → 8ZnO22– + 2NH3 + 4H2O

b) Reaksi Rumus

Langkah-langkah yang harus di tempuh dalam cara ini adalah sebagai berikut :
  1. Tentukan unsur yang mengalami perubagan biloks. Tuliskan biloks tersebut tepat di atas lambang atomnya masing-masing
  2. Setarakan unsur yang mengalami perubahan biloks dengan memberi koefisien yang sesuai
  3. Tentukan jumlah penurunan biloks dari oksidator ( yang mengalami reduksi ) dan jumlah pertambahan bilangan oksidasi dari reduktor ( yang mengalami oksidasi )
  4. Samakan jumlah perubahan bilangan oksidasi reduktor dan oksidator dengan memberi koefisien yang sesuai
  5. Setarakan unsur-unsur yang lainnya dalam urutan kation ( Logam ), anion ( Nonlogam ) hidrogen dan terakhir oksigen ( KAHO ).
Contoh soal :
1. Tentukan reaksi redoks berikut :
Zn + HNO3 → Zn ( NO3 )2 + NH4 NO3 + H2O

Jawab :

Langkah 1 : Znº + HNO3 → Zn+2 (NO3 )2 + NH4 NO3 + H2O
Langkah 2 : Zn + HNO3 → Zn ( NO3 )2 + NH4 NO3 + H2O
Langkah 3 : Znº → Zn+2 Bertambah 2 Zn+5 → N-3 Bertambah 8
Langkah 4 : 8 Zn + 2HNO3 → 8Zn ( NO3 )2 + 2NH4NO3 + H2O
Langkah 5 : Kation : 8Zn + 2HNO3 → 8Zn ( NO3 )2 + 2NH4NO3 + H2O
Anion : 8Zn + 20HNO3 → 8Zn ( NO3 )2 + 2NH4NO3 + H2O
Hidrogen : 8Zn + 20HNO3 → 8Zn ( NO3 )2 + 2NH4NO3 + 6H2O

Metode setengah reaksi ( Ion – Elektron )
Proses penyetaran berlangsung menurut langkah-langkah sebagai berikut :
  1. Tuliskan kerangka dasar dari setengah reaksi reduksi dan reaksi oksidasi secara terpisah dalam bentuk reaksi ion
  2. Masing-masing setengah reaksi di setarakan dengan urutan sebagai berikut :
  • Setarakan atom unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi
  • Setarakan Oksigen dan Hidrogen
  • Apabila terdapat spesi lain selain unsur yang mengalami perubahan biloks, oksigen dan hidrogen, maka petaraan di lakukan dengan menambahkan spesi yang bersangkutan pada ruas lainnya.
  • Setarakan muatan dengan menambahkan elektron pada ruas yang jumlah muatannya lebih besar.
  • Samakan jumlah elektron yang di serap pada setengah reaksi reduksi dengan jumlah elektron yang di bebaskan pada setengah reaksi oksidasi dengan cara memberi koefisien yang sesuai, kemudian jumlahkam kedua ruas setengah reaksi tersebut.

Pengertian REAKSI REDOKS

Senin, 10 Desember 2012

Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

pancasila sebagai sistem filsafat

EDUKATIF BLOG
PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

EDUKATIF BLOGPancasila sebagai sistem filsafat adalah suatu kesatuan yang saling berhubungan untuk satu tujuan tertentu,dan saling berkualifikasi yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Jadi Pancasila pada dasarnya satu bagian/unit-unit yang saling berkaitan satu sama lain,dan memiliki fungsi serta tugas masing-masing.

Download Makalah - Pancasila Sebagai Sistem Filsafat.docx

Definisi Sistem :
Sistem adalah suatu kebulatan atau keseluruhan, yang bagian dan unsurnya saling berkaitan (singkron), saling berhubungan (konektivitas), dan saling bekerjasama satu sama lain untuk satu tujuan tertentu dan merupakan keseluruhan yang utuh

Definisi Filsafat :
Filsafat dalam Bahasa Inggris yaitu Philosophy, adapun istilah filsafat berasal dari Bahasa Yunani yaitu Philosophia, yang terdiri atas dua kata yaitu Philos (cinta) atau Philia (persahabatan, tertarik kepada) dan Sophos (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, intelegensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran (love of wisdom). Orangnya disebut filosof yang dalam bahasa Arab disebut Failasuf. Dalam artian lain Filsafat adalah pemikiran fundamental dan monumental manusia untuk mencari kebenaran hakiki (hikmat, kebijaksanaan); karenanya kebenaran ini diakui sebagai nilai kebenaran terbaik, yang dijadikan pandangan hidup (filsafat hidup, Weltanschauung). Berbagai tokoh filosof dari berbagai bangsa menemukan dan merumuskan sistem filsafat sebagai ajaran terbaik mereka; yang dapat berbeda antar ajaran filosof. Karena itulah berkembang berbagai aliran filsafat: materialisme, idealisme, spiritualisme; realisme, dan berbagai aliran modern: rasionalisme, humanisme, individualisme, liberalisme-kapitalisme; marxisme-komunisme; sosialisme dll.

Faktor timbulnya keinginan manusia untuk berfilsafat adalah :
  • Keheranan, sebagian filsuf berpendapat bahwa adanya kata heran merupakan asal dari filsafat. Rasa heran itu akan mendorong untuk menyelidiki dan mempelajari.
  • Kesangsian, merupakan sumber utama bagi pemikiran manusia yang akan menuntun pada kesadaran. Sikap ini sangat berguna untuk menemukan titik pangkal yang kemudian tidak disangsikan lagi.
  • Kesadaran akan keterbatasan, manusia mulai berfilsafat jika ia menyadari bahwa dirinya sangat kecil dan lemah terutama bila dibandingkan dengan alam sekelilingnya. Kemudian muncul kesadaran akan keterbatasan bahwa diluar yang terbatas pasti ada sesuatu yang tdak terbatas.
Pada umumnya terdapat dua pengertian filsafat yaitu filsafat dalam arti Produk dan filsafat dalam arti Proses. Selain itu, ada pengertian lain, yaitu filsafat sebagai  pandangan hidup. Disamping itu, dikenal pula filsafat dalam arti teoritis dan filsafat dalam arti praktis.

Filsafat dapat di klasifikasikan sebagai berikut:
Filsafat sebagai produk yang mencakup pengertian.
  1. Filsafat sebagai jenis pengetahuan, ilmu, konsep, pemikiran-pemikiran dari para filsuf pada zaman dahulu yang lazimnya merupakan suatu aliran atau sistem filsafat tertentu, misalnya rasionalisme, materialisme, pragmatisme dan lain sebagainya.
  2. Filsafat sebagai suatu jenis problema yang dihadapi oleh manusia sebagai hasil dari aktivitas berfilsafat. Jadi manusia mencari suatu kebenaran yang timbul dari persoalan yang bersumber pada akal manusia.
Filsafat Sebagai Suatu Proses :
  1. Yaitu bentuk suatu aktivitas berfilsafat, dalam proses pemecahan suatu permaslahan dengan menggunakan suatu cara dan metode tertentu yang sesuai dengan objeknya.
Definisi Pancasila:
Pancasila adalah lima sila yang merupakan satu kesatuan rangkaian nilai-nilai luhur yang bersumber dari nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia yang sangat majemuk dan beragam dalam artian BHINEKA TUNGGAL IKA. Esensi seluruh sila-silanya merupakan suatu kasatuan. Pancasila berasal dari kepribadian Bangsa Indonesia dan unsur-unsurnya telah dimiliki oleh Bangsa Indonesia sejak dahulu. Objek materi filsafat adalah mempelajari segala hakikat sesuatu baik materal konkrit (manusia,binatang,alam dll) dan abstak (nilai,ide,moral dan pandangan hidup). Pancasila mempunyai beberapa tujuan sebagai berikut:
  • Pancasila sebagai Dasar Negara. Pancasila sebagai Dasar Negara atau sering juga disebut sebagai Dasar Falsafah Negara ataupun sebagai ideologi Negara, hal ini mengandung pengertian bahwa Pancasila sebagai dasar mengatur penyelenggaraan pemerintahan. Kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara mempunyai fungsi dan kedudukan sebagai kaidah Negara yang fundamental atau mendasar, sehingga sifatnya tetap, kuat dan tidak dapat dirubah oleh siapapun, termasuk oleh MPR/DPR hasil pemilihan umum.
  • Pancasila sebagai Sumber Hukum Dasar Nasional.  Dalam ilmu hukum istilah sumber hukum berarti sumber nilai-nilai yang menjadi penyebab timbulnya aturan hukum. Jadi dapat diartikan Pancasila sebagai Sumber hukum dasar nasional, yaitu segala aturan hukum yang berlaku di negara kita tidak boleh bertentangan dan harus bersumber pada Pancasila.
  • Pancasila sebagai Pandangan hidup Bangsa Indonesia. Pancasila sebagai Pandangan Hidup bangsa atau Way of Life mengandung makna bahwa semua aktifitas kehidupan bangsa Indonesia sehari-hari harus sesuai dengan sila-sila daipada Pancasila, karena Pancasila juga merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki dan bersumber dari kehidupan bangsa Indonesia sendiri. Nilai-nilai yang dimiliki dan bersumber dari kehidupan bangsa Indonesia sendiri. 
  • Pancasila sebagai Jiwa dan Kepribadian Bangsa Indonesia. Pancasila sebagai jiwa bangsa lahir bersamaan adanya Bangsa Indonesia. Jadi Pancasila lahir dari jiwa kepribadian bangsa Indonesia yang terkristalisasi nilai-nilai yang dimilikinya.
  • Pancasila sebagai Perjanjian Luhur Bangsa Indonesia. Pada saat bangsa Indonesia bangkit untuk hidup sendiri sebagai bangsa yang merdeka, bangsa Indonesia telah sepakat untuk menjadikan Pancasila sebagai Dasar Negara. Kesepakatan itu terwujud pada tanggal 18 Agustus 1945 dengan disahkannya Pancasila sebagai Dasar Negara oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang mewakili seluruh bangsa Indonesia.
  • Pancasila sebagai Ideologi Negara. Pancasila sebagai Ideologi Negara merupakan tujuan bersama Bangsa Indonesia yang diimplementasikan dalam Pembangunan Nasional yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila dalam wadah Negara Kesatuan RI yang merdeka, berdaulat, bersatu dan berkedaulatan rakyat dalam suasana perikehidupan bangsa yang aman, tentram, tertib dan dinamis serta dalam lingkungan pergaulan dunia yang merdeka, bersahabat, tertib dan damai.
  • Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa. Bangsa Indonesia yang pluralis dan wilayah Nusantara yang terdiri dari berbagai pulau-pulau, maka sangat tepat apabila Pancasila dijadikan Pemersatu Bangsa, hal ini dikarenakan Pancasila mempunyai nilai-nilai umum dan universal sehingga memungkinkan dapat mengakomodir semua perikehidupan yang berbhineka dan dapat diterima oleh semua pihak.
Intisari Pancasila Sebagai Sistem Filsafat:
Sebagaimana yang sudah dijelaskan pada paragraf pertama, makna dasar Pancasila Sebagai Sistem Filsafat adalah dasar mutlak dalam berpikir dan berkarya sesuai dengan pedoman diatas, tentunya dengan saling mengaitkan antara sila yang satu dengan lainnya. Misal : Ketika kita mengkaji sila kelima yang intinya tentang kedilan. Maka harus dikaitkan dengan nilai sila-sila yang lain artinya :
  • Keadilan yang ber keTuhanan (sila 1)
  • Keadilan yang berPrikemanusian (sila 2)
  • Keadilan yang berKesatuan/Nasionalisme,Kekeluargaan (sila 3)
  • Keadilan yang Demokratis
Dan kesemua sila-sila tersebut saling mencakup,bukan hanya di nilai satu persatu. Semua unsur (5 sila) tersebut memiliki fungsi/makna dan tugas masing-masing memiliki tujuan tertentu.

Filsafat Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia:
Merupakan kenyataan objektif yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Pancasila memberi petunjuk mencapai kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan suku atau ras.

Filsafat Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan negara:
Yang dimaksud adalah bahwa semua aturan kehidupan hukum kegiatan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berpedoman pada pancasila. Karena pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum bangsa dan negara republik indonesia.

Orang yang berfikir kefilsafatan ialah orang yang tidak meremehkan terhadap orang yang lebih rendah derajatnya dan tidak menyepelekan masalah yang kecil, dan selalu berfikiran positif, kritis, dan berdifat arif bijaksana, universal dan selalu optimis.

CONTOH.

Seorang ilmuan tidak puas mengenal ilmu hanya dari segi/sudut pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dari konstelasi lainnya.
  • Sumber pengetahuan pancasila pada dasarnya adalah bangsa indonesia itu sendiri yang memiliki nilai adat istiadat serta kebudayaan dan nilai religius.
  • Tentang kebenaran pengetahuan pancasila berdasarkan tingkatnya, maka pancasila mengakui kebenaran yang bersumber pada akal manusia. Potensi yang terdapat dalam diri manusia untuk mendapatkan kebenaran dalam kaitannya dengan pengetahuan positif. Pancasia juga mengakui kebenaran pengetahuan manusia yang bersumber pada intuisi/perasaan.
Manusia pada hakikatnya kedudukan kodratnya adalah sebagai makhluk tuhan yang maha esa, maka sesuai dengan sila pertama pancasila juga mengakui kebenaran wahyu yang bersifat mutlak sebagai tingkatan kebenaran yang tertinggi.
Selain itu dalam sila ke 3, ke 2, ke 4, dan ke 5, maka epistimologis ( hakikat dan sistem pengetahuan ) pancasila juga mengakui kebenaran konsensus terutama dalam kaitannya dengan hakikat sifat kodrat manusia makhluk individu dan sosial.

Dasar Axiologis ( Hakikat, Nilai, Kriteria ) Sila Sila Pancasila

Bidang axiologis adalah cabang filsafat yang menyelidiki makna nilai, sumber nilai, jenis & tingkatan nilai serta hakikat nilai seperti nilai alamiah & jasmaniah, tanah subur, udara bersih, air bersih, cahaya dan panas cahaya matahari

Menurut tinggi rendahnya, nilai dapat digolongkan menjadi 4 tingkatan sebagai berikut :
  1. Nilai kebenaran, yaitu nilai bersumber pada akal, rasio, budi atau cipta manusia
  2. Nilai keindahan/nilai estetis yaitu yang bersumber pada perasaan manusia
  3. Nilai kebaikan/nilai moral, yaitu nilai yang bersumber pada unsur kehendak manusia
  4. Nilai religius yang merupakan nilai keharmonian tertinggi dan bersifat mutlak.
Nilai ini berhubungan dengan kepercayaan dan keyakinan manusia dan bersumber pada wahyu yang berasal dari tuhan yang maha esa. Sistem Filsafat Pancasila mengandung citra tertinggi terbukti dengan berbedanya sistem filsafat pancasila dengan sistem filsafat lainnya, Berikut adalah ciri khas berbedanya sistem filsafat pancasila dengan sistem filsafat lainnya:
  1. Sila-sila pancasila merupakan satu kesatuan system yang bulat dan utuh (sebagai satu totalitas). Dengan pengertian lain, apabila tidak bulat dan tidak utuh atau satu sila dengan sila yang lainnya terpisah-pisah,maka ia bukan pancasila.
  2. Prinsip – prinsip filsafat pancasila
  3. Susunan pancasila dengan suatu system yang bulat dan utuh :
  • Sila 1, meliputi,mendasari,menjiwa:sila 2,3,4 dan 5
  • Sila 2,diliputi,didasari,dan dijiwai sila 1,serta mendasari dan menjiwai sila 3,4,dan 5
  • Sila 3,meliputi,mendasari,dan menjiwai sila 1,2 serta mendasari jiwa ;sila 4 dan 5
  • Sila 4, meliputi,didasari,dan di jiwai sila 1,2,dan 3,serta mendasari dan menjiwai sila 5
  • Sila 5,meliputi didasari,dan dijiwai sila 1,2,3 dan 4
  • Pancasila sebagai suatu substansi. Artinya unsur asli/permanen/primer pancasila sebagai suatu yang ada mandiri,yaitu unsure-unsurnya berasal dari dirinya sendiri
Pancasila Sebagai Sistem Filsafat memiliki beberapa nilai yaitu Nilai Obyektif dan Subyektif.
Nilai-nilai Sistem Filsafat Pancasila adalah senagai berikut :
  1. Rumusan dari sila-sila pancasila menunjukkan adanya sifat-sifat yang umum, universal dan abstrak. Karena pada hakikatnya pancasila adalah nilai.
  2. Inti nilai-nilai Pancasila berlaku tidak terikat oleh ruang. Artinya keberlakuannya sejak jaman dahulu, masa kini dan juga untuk masa yang akan dating, untuk bangsa Indonesia boleh jadi untuk Negara lain yang secara eksplisit tampak dalm adat istiadat, kebudayaan, tata hidup kenegaraaan dan tata hidup beragama.
  3. Pancasila yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 memenuhi syarat sebagai pokok kaidah negara yang fundamental, sehingga merupakan suatu sumber hokum positif di Indonesia. Oleh karena itu hierarki suatu tertib hokum di Indonesia berkedudukan sebagai tertib hukum tertinggi. Maka secara objektif tidak dapat diubah secara hokum, sehingga melekat pada kelangsungan hidup Negara. Sebagai konsekwensinya jikalau nilai-nilai yang terkandung dalam pembukaa UUD 45 itu diubah maka sama halnya dengan membubarkan Negara proklamasi 17 Agustus 1945.
Sedangkan Nilai-nilai Sistem Filsafat Pancasila adalah senagai berikut :
  1. Nilai Pancasila timbul dari bangsa Indonesia itu sendiri. Nilai-nilai yang terdapat dalam pancasila merupakan hasil dari pemikiran, panilaian, dan refleksi filosofis dari bangsa Indonesia sendiri. Deologi pancasila berbeda denagn ideology-ideologi lain karena isi pancasila diambil dari nilai budaya bangsa dan religi yang telah melekat erat, sehingga jiwa pancasila adalah jiwa bangsa Indonesia sendiri, sedangkan ideology lain seperti liberalis, sosialis, komunis, dan lain sebagainya merupakan hasil dari pemikiran filsafat orang.
  2. Nilai Pancasila merupakan filsafat bangsa Indonesia. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia menjadi pedoman bangsa untuk mengatur aspek kehidupan berbangsa dan bernegara sekaligus menjadi cermin jati diri bangsa yang diyakini sebagai sumber nilai atas kebenaran, keadilan, kebaikan, dan kebijaksanaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  3. Pancasila merupakan nilai-nilai yang sesuai dengan hati nurani bangsa Indonesia, karena bersumber dari kepribadian bangsa. Sehingga dalam perjalanannya akan selaras dengan nilai-nilai pancasila.
Dalam kehidupan bernegara, nilai dasar Pancasila harus tampak dalam produk peraturan perundangan yang berlaku, dengan kata lain, peraturan perundangan harus dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila, sehingga tidak boleh bertentangan denagn nilai-nilai Pancasila.

DEMOKRASI INDONESIA

Semua negara mengakui bahwa demokrasi sebagai alat ukur dan keabsahan politik. Kehendak rakyat adalah kehendak utama kewenangan pemerintah menjadi basis tegaknya sistem politik demokrasi. Demokrasi meletakkan masyarakat pada posisi penting, hal ini di karenakan masih memegang teguh rakyat selaku pemegang kedaulatan. Negara yang tidak memegang demokrasi disebut negara otoriter. Ini menunjukkan bahwa demokrasi itu begitu penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Pengertian Demokrasi

Secara etimologi, demokrasi berasal dari bahasa yunani, yaitu demos = rakyat, dan cratos / cratein = pemerintahan atau kekuasaan. Yang i ntinya adalah pemerintahan rakyat atau kekuasaan rakyat.
Pelaksanaan demokrasi ini ada 2 yaitu :
Demokrasi langsung dan demokrasi tidak langsung.
  • Demokrasi langsung adalah demokrasi yang seluruh rakyatnya di ikut sertakan dalam permusyawaratan untuk menentukan kebijakan dan mengambil keputusan
  • Demokrasi tidak langsung adalah demokrasi yang dilaksanakan melalui sistem perwakilan ke dewan perwakilan rakyat ( DPR ) dan mejlis permusyawaratan rakyat ( MPR ).
Demokrasi Sebagai Sikap Hidup

demokrasi ini dipahami sebagai sikap hidup dan pandangan hidup yang demokratis dengan didasarkan nilai-nilai demokrasi dan membentu budaya/kultur demokrasi baik dari warga negara maupun dari pejabat negara/pemerintah. Demokrasi merupakan penerapan kaidah-kaidah prinsip demokrasi pada kekuatan sistem politik kenegaraan. 

Demokrasi Di Indonesia

Bangsa indonesia sejak dulu sudah mempraktekkan ide tentang demokrasi meskipun bukan tingkat kenegaraan tetapi masih dalam tingkat desa dan disebut demokrasi desa.  Pendekatan kontekstual demokrasi di indonesia adalah demokras pancasila karena pancasila merupakan ideologi negara, pandangan hidup bangsa indonesia, dan sebagai identitas nasional indonesia. Pancasila ideologi nasional karena sebagai cita-cita masyarakat dan sebagai pedoman membuat keputusan politik. Keterkaitan demokrasi pancasila dengan civil society atau mayarakat madani indonesia secara kualitatif di tandai oleh keimanan dan ketakwaan terhadap tuhan yang maha esa.
Sistem Politik Demokrasi

Landasan sistem politik demokrasi di indonesia adalah sistem politik demokrasi didasarkan pada nila, prinsip, prosedur dan kelambangan yang demokratis. Sistem ini mampu menjamin hak kebebasan warganegara, membatasi kekuasaan pemerintah dan memberikan keadilan. Indonesia sejak awal berdiri sudah menjadikan demokrasi sebagai pilihan sistem politik. Negara indonesia sebagai negara demokrasi terdapat pada,
Pancasila ( sila ke 4 ).
Uud 1945 pasal 1 ( ayat 2 ) sebelum di amandemen dan sesudah di amandemen.
Apapun perubahannya ini membuktikan sejak berdirinya negara indonesia telah menganut demokrasi.

Pancasila sebagai Ideologi NegaraPancasila sebagai filsafatFilsafat PancasilaPancasila sebagai sistem filsafatIntisari Pancasila Sebagai Sistem FilsafatDefinisi FilsafatDefinisi Pancasila sebagai Dasar NegaraPancasila sebagai Dasar NegaraPancasila sebagai Sumber Hukum Dasar Nasional

Rabu, 05 Desember 2012

Skripsi Pertanian - Analisis Pendapatan Petani

Skripsi Pertanian - Analisis Pendapatan PetaniEDUKATIF BLOG. Mempersembahkan sebuah skripsi Pertanian untuk anda dengan judul ANALISIS PENDAPATAN PETANI DALAM PENJUALAN HASIL PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza Sativa L) DI DESA JONGGON JAYA KECAMATAN LOA KULU KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA. Ini adalah Skripsi sumbangan milik saudara saya Teguh Widodo, Mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara Jurusan Agrobisnis, terima kasih saya ucapkan untuk beliau karena menyumbangkan tulisan berharganya untuk anda semua dan juga kemajuan EDUKATIF BLOG ini.

SKRIPSI PERTANIAN


ANALISIS PENDAPATAN PETANI DALAM PENJUALAN HASIL PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza Sativa L) 
DI DESA JONGGON JAYA KECAMATAN LOA KULU 
KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA




Oleh : 



TEGUH WIDODO 
NPM: 08.11.108.601103.000311


Skripsi Pertanian - Analisis Pendapatan Petani



PROGRAM STUDI AGRIBISNIS 
FAKULTAS PERTANIAN 
UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA 
TENGGARONG 
2012




KATA PENGANTAR


Bismillahirrohmanirrohim

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas karunia serta hidayah-Nya, sehingga penulis selalu diberi kemudahan untuk menyelesaikan proposal penelitian yang berjudul “Analisis Pendapatan Petani Dalam Penjualan Hasil Produksi Padi Sawah (Oryza Sativa L) di Desa Jonggon Jaya Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara.
Dalam penyusunan proposal ini, tentunya penulis sangat terbantu atas segala bentuk dukungan dari seluruh pihak yang terlibat didalamnya, yang telah memberikan sumbangsih pemikiran maupun tenaganya sehingga penulisan proposal ini dapat terselesaikan. Dalam kesempatan yang baik ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada:
  1. Dekan, Pembantu Dekan, Dosen atau Staf Pengajar dan Staf Administrasi Fakultas Pertanian Universitas Kutai Kartanegara yang telah mendidik dan memberikan ilmu yang bermanfaat kepada penulis.
  2. Bapak Ir. H. M. Arifin Mas’ud M.Si selaku dosen pembimbing I dan Ibu Indah Fitriani S.P., M.Si selaku dosen pembimbing II yang telah banyak memberikan pengarahan dan bimbingan kepada penulis dalam penyusunan proposal ini.
  3. Ayah dan Ibu beserta seluruh keluarga yang telah memberikan dorongan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan proposal ini.
  4. Rekan-rekan mahasiswa-mahasiswi Universitas Kutai Kartanegara Fakultas Pertanian khususnya Jurusan Agribisnis angkatan 2008 yang telah bersama-sama dalam menempuh pendidikan di Universitas Kutai Kartanegara.
  5. Semua pihak yang turut membantu baik memberikan bantuan moril maupun materiil yang berharga bagi penulis hingga tersusunnya proposal ini.
Penulis menyadari bahwa proposal ini masih banyak terdapat kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, karenanya saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan kedepan.

           

1.      PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian disektor pertanian, sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian nasional, hal ini terlihat dari banyaknya jumlah penduduk Indonesia yang hidup dan bekerja disektor tersebut.Tujuan pembangunan pertanian adalah untuk meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan dan industri dalam negeri, meningkatkan ekspor, pendapatan petani, memperluas lahan pekerjaan dan mendorong pemerataan berusaha. Seiring dengan meningkatnya pebangunan nasional terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan maka permintaan bahan pangan pun meningkat, mengingat sumber daya alam yang besar pada sector pertanian maka di masa mendatang sector ini masih merupakan sector penting dalam memberikan konstribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional (Adiwilanga, 1992). 

Tahun 2004 oleh pemerintah di canagkan sebagai ‘‘Tahun Padi Nasional’’.Pencanagan ini dilaksanakan dalam upacara Hari Pangan Sedunia tingkat nasional yang dipusatkan di Ambarawa Kabupaten Semarang Jawa Tengah beberapa waktu yang lalu.Pencanagan Tahun Padi Nasional ini berkaitan erat dengan upaya pemerintah untuk mensukseskan program ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani (Kompas 2004). 

Kabupaten Kutai Kartanegara secara geografis terletak antara 115026’28’’ BT – 117036’43’’ BT dan 1028’21’’ LU – 1008’06’’ LS. Topografi wilayah sebagian besar bergelombang sampai berbukit dengan kelerengan landai sampai curam, pada wilayah pedalaman dan perbatasan pada umumnya merupakan kawasan pegunungan dengan ketinggian 500-2000 m dpl.(Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, 2011 Kabupaten Kutai Kartanegara mempunyai luas wilayah 2.726,310 km², dengan luas areal pertanian sekitar 809,161 ha dimana potensi lahan sawah 74,362 ha. Lahan fungsional atau yang telah dimanfaatkan 24,798 ha. Sedangkan luas panen padi sawah dari tahun ketahun mengalami peningkatan pada tahun 2009 sebesar 37.514 ha, tahun 2010 sebesar 38.658 ha dengan produktivitas hasil panen tahun 2009 190.146 ton dan tahun 2010 sebesar 202.746 ton yang terbagi dalam 18 Kecamatan yang mana hasil produksi padi sawah terbesar dari kecamatan Tenggarong Seberang sebesar 41.949 ton dan selanjutnya kecamatan Loa Kulu sebesar 31.122 ton (Kutai Kartanegara Dalam Angka.2011). 

Kecamatan Loa Kulu menjadikan padi sebagai mata pencaharian utama mereka ini dapat dilihat dari hasil produksi mereka yang meningkat meskipun lahan pertanian juga semakin berkurang seiring berkembangnya sector pertambangan terutama tambang batu bara di wilayah ini, secara keseluruhan luas panen seluas 5.838 Ha, dengan produktifitas atau hasil perhektar 51,12 ton dan produksinya sebesar 29.842,65 ton yang mana desa Jonggon Jaya adalah desa yang mempunyai areal luas panen paling luas yaitu 900 Ha, dengan diikuti produksi padinya yang juga tinggi yaitu sebesar 4.207,65 ton (Kecamatan Loa Kulu Dalam Angka, 2011). 

Melihat luas panen dan produksi padi sawah yang besar di Desa Jonggon Jaya ternyata masih banyak permasalahan yang dihadapi petani di antaranya ketika saat panen tiba dengan hasil yang melimpah pendapatan mereka masih sangat kurang dibandingkan dengan biaya pengelolaan produksi padi sawah mulai dari pengadaan bibit, pupuk, pengolahan, pestisida dan biaya lainnya yang tidak terduga ini terjadi dikarenakan hasil panen mereka hanya di jual pada pedagang (tengkulak) lokal yang berada di Desa Jonggon Jaya yang mana mereka terbatas dengan modal sehingga terkadang padi yang dijual pembayarannya setengah dari jumlah yang dijual dan akan dibayar kembali setelah padi diolah menjadi beras dan dipasarkandan ada juga pedagang yang datang dari luar daerah tetapi kedatangan pedagang dari luar daerah tersebut tidak menentu kedatanganya dikarnakan sarana prasarana berupa jalan menuju Desa Jonggon Jaya rusak berat sehingga menyebabkan biaya pengangkutan yang bertambah dan permasalahan lainnya adalah belum adanya suatu instansi yang memfasilitasi dalam mendistribusikan atau memasarkan hasil produksi padi sawah, sehingga mengakibatkan belum meratanya pendapatan yang diterima oleh petani di Desa Jonggon Jaya. 

Berdasarkan uraian di atas maka perlu melaksanakan penelitian dengan mengambil judul “Analisi Pendapatan Petani Dalam Penjualan Hasil Produksi Padi Sawah (Oryza Sativa L) di Desa Jonggon Jaya Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara”.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, maka yang menjadi permasalahan penelitian ini adalah :
  1. Bagaimana proses pemasaran hasil produksi padi sawah di Desa Jonggon Jaya Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara ? 
  2. Berapa pendapatan petani dalam penjualan hasil produksi padi sawah dalam satu kali periode penanaman ?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
  1. Mengetahui proses pemasaran hasil produksi padi sawah ?
  2. Mengatahui pendapatan petani dalam penjualan hasil produksi padi sawah dalam satu kali periode ?
1.4. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian tersebut diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut : 
  1. Sebagai sumbangan pemikiran bagi pemerintah daerah khususnya dalam hal ini adalah Desa Jonggon Jaya, dalam rangka pembinaan terhadap petani padi dalam upaya peningkatan hasil produksi dan tingkat pendapatan petani. 
  2. Untuk menambah pengalaman dan pengetahuan penulis tentang masalah pertanian khususnya sektor tanaman padi. 
  3. Sebagai bahan masukan bagi instansi yang terkait untuk merumuskan kebijakan pengembangan padi sawah yang bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan para petani padi sawah. 
  4. Sebagai bahan perbandingan bagi pihak lain yang akan melanjutkan penelitian lebih lanjut.



II. TINJAUAN PENELITIAN 

2.1. Tinjauan Penelitian Sebelumnya 

Putri Aprilia R (2011), meneliti tentang Analisis Pendapatan Usaha Tani Padi Sawah (Oryza Sativa L) di Kelurahan Mangkurawang Kecamatan Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara. 

Pendapatan usahatani padi sawah diperoleh dari selisih antara penerimaan dengan biaya produksi selama satu kali musim tanam dengan perhitungan pendapatan per musim tanam sebesar Rp. 201.300.000,- dengan rata-rata Rp. 5.651.189,30 dengan pendapatan per bulan Rp. 1.412.972,82. 

Adapun persamaan sama-sama meneliti tentang komunditi padi sawah, sedangkan perbedaannya terletak pada tempat penelitiannya sebelumya di lakukan di Kelurahan Mangkurawang Kecamatan Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara. Sedangkan penelitian yang akan saya laksanakan di Desa Jonggon Jaya Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara. 

Sarinda Jamin (2009) meneliti tentang Analisis Pendapatan Petani Karet di Kecamatan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan petani karet yang di kecamatan barong tongkok Kabupaten Kutai Barat. 

Hasil penelitian ini diketahui pendapatan petani karet di Kecamatan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat adalah Rp. 124.018.000,00 atau rata-rata Rp. 2.841.319.00 per responden. Penerimaan petani karet adalah Rp. 290.500.000,00 atau rata-rata Rp. 60602.27,00 per responden, jumlah produksi sebesar 33. 080 kg atau rata0rata 752,83 kg per responden, total biaya produksi yang dikeluarkan petani adalah Rp. 166.212.000,00 atau rata-rata Rp. 3.777.545,00 per responden dengan demikian tanaman karet yang dilaksanakan petani di Kecamatan Barong Tongkok dapat dikatakan layak untuk diusahakan. 

Adapun persamaan penelitian ini dengan yang akan dilaksanakan sama-sama meneliti tentang pendapatan petani namun perbedaanya terletak pada komonditinya dan tempat penelitian. 

2.2. Tinjauan umum padi sawah 
2.2.1. Sejarah Padi

Menurut sejarahnya, padi termasuk genus Oriza L. yang meliputi lebih kurang 25 species, terbesar di daerah tropik dan daerah subtropika seperti di Asia, Afrika, Amerika dan Australia.

Menurut Chevalier dan Neguier, padi berasal dari dua benua : Oryza Fatua Koenig dan Oriza Satifa L berasal dari benua Asia, sedangkan jenis padi lainya yaitu Oryza Stapfii Roschev dan Oryza Glaberrima Steund berasal dari afrika barat (Benua Afrika). Oryza Fatua Konig dan Oriza MinutaPresl berasal dari India (Himalaya). 

Padi yang ada sekarang ini merupakan persilangan antara Oryza officinalis dan Oryza Sativa f. spontanea.Di Indonesia pada mulanya tanaman padi di usahakan di daerah tanah kering dengan system ladang, tanpa pengairan.Hal ini dilakukan pula di negara-negara lain (AAK, 1983). 

Menurut Suparyono dan A. Setyono (1993), berdasarkan kedudukanya dalam taksonomi tumbuhan, klasifikasi tanaman padi adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisi : Spermathophyta (tumbuhan berbiji)
Kelas : Angiospermae
Sub kelas : Monocotyledone
Famili : Graminaceae
Sub family : Oryzidae
Genus : Oryza
Spesies : Oryza sativa L.

2.2.2. Proses Bercocok Tanam Padi

Menurut AAK ( 1990), bahwa tekhnik bercocok tanaman padi yang baik sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan. Hal ini harus dimulai dari awal, yaitu sejak di lakukan persemean tanaman itu bisa dipanen sebagaimana diuraikan sebagai berikut: 

1. Persemaian 
Membuat persemean merupakan langkah awal bertanam padi dimana dimulainya dengan penggunaan benih unggul.benih yang digunakan harus sebaik-baiknya dan sehat dimana tujuannya adalah membantu memberikan keadaan lingkungan yang baik untuk saat awal pertumbuhan. Dari umur 25 – 40 hari benih siap ditanam disawah yang telah disiapkan. 

2. Persiapan dan pengolahan tanah sawah 
Pengolahan tanah bertujuan mengubah keadaan tanah pertanian dengan alat tertentu sehingga memperoleh susunan tanah yang dikehendaki oleh tanaman, pengolahan tanah yaitu pembersihan lahan, pencangkulan, pembajakan dan penggaruan. 

3. Penanaman 
Dalam penanaman yang baik harus diperhatikan sebelumnya adalah persiapan lahan umur bibit dan tahap penanaman. 

4. Pemeliharaan 
Tanaman padi ditanam dengan baik dapat membuahkan hasil yang memuaskan, sesuai dengan yang diharapkan.Yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan adalah penyulaman dan penyiangan, pengairan padi sawah dan pemumupukan. 

5. Pengendalian organisme tanaman 
Menurut Soemartono. B. (1984) ada beberapa cara memberantas pengganggu tanaman padi sawah yaitu:
  • Cara fisik dan mekanik, misalnya dengan cara Gropyokan untuk memberantas hama tikus. 
  • Cara Biologis, dengan menggunakan predator atau parasit misalnya burung yang memakan ulat. 
  • Dengan mengatur waktu tanaman dengan carapergiliran tanaman. 
  • Menanam tanaman yang resisten, yaitu tanaman yang tahan terhadap hama dan penyakit. 
  • Penggunaan bahan kimia yaitu dengan cara penggunaan prestisida (Insektisida, fungsida, rodentisida, dan herbisida)
6. Panen 
Panen merupakan tahap akhir penanaman padi sawah.Bila hasil yang diharapkan telah menjadi kenyataan, berarti bua padi sudah cukup masak dan siap untuk di panen atau di petik.Namun pemanenan padi harus di lakukan pada waktu yang tepat, sebab ketepatan waktu memanen berperngaruh terhadap jumlah dan mutu gabah dan berasnya. 

Panen yang terlambat pada varietas padi yang mudah rontok, dan menurunkan hasil produksi.Sedangkan panen yang teralu awal menyebabkan mutu padi kurang baik. 

7. Tahap Pascapanen 
Menurut AAK (1990) bahwa tahap pascapanen atau perlakuan pascapanen meliputi kegiatan pasca perontokan, pengangkutan, pengeringan, pembersiahan dan penyiapan serta penggilingan.

Ditambahkan Soeparyono dan A. Setyono (1993), bahwa pasca panen hasil petani merupakan tahanan kegiatan yang dimulai sejak pemungutan hasil sampai siap untuk dipasarkan.Penanganan pasca panen tindakan yang dilakukan atau disiapkan agar hasil pertanian siap dan aman digunakan oleh konsumen atau dapat oleh lebih lanjut melalui kegiatan industri.

2.2.3.Produksi Padi sawah

Menurut M.Fuad, dkk (2006), mendefisikan produksi adalah sebagai suatu kegiatan atau proses yang mentransformasikan masukan menjadi keluaran dalam arti sempit. Pengertian produksi hanya di maksudkan sebagai kegiatan yang menghasilkan barang, baik barang jadi atau setengah jadi, barang industri, suku cadang maupun komponen-komponen penunjang.

Ditambahkan Aristanti dan Bambang, (2007).Produksi adalah merupakan kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa. Pengertian produksi secara sempit adalah perbuatan atau kegiatan manusia untuk membuat suatu barang atau mengubah suatu barang menjadi barang lain. Secara luas produksi dapat diartikan sebagai segala perbuatan atau kegiatan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung, yang di tunjukan untuk menambah atau mempertinggi nilai dan guna suatu barang untuk memenuhi kebutuhan manusia.

2.2.4. Biaya Produksi

Biaya adalah setiap kegiatan yang dilakukan pada suatu usaha memerlukan pengorbanan fisik non fisik, baik langsung maupun tidak langsung. Dalam kegiatan ekonomi setiap kegiatan untuk memperoleh suatu barang atau jasa diperlukan pengorbanan dari barang atau jasa lain dengan demikian perngorbanan ini diartikan sebagai modal atau baiya. Biaya produksi dalam usahatanidapat berupa uang tunai, upah kerja untuk biaya persiapan dan penggarapan tanah, biaya pembelian pupuk, biaya bibit, herbisida dan sebagainya (Mubyarto, 1991).
Biaya dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu:
  1. Biaya tetap, biaya yang harus dikeluarkan oleh para petani yang penggunaannya tidak habis dalam masa satu kali produksi, seperti membajak tanah pertanian, retribusi air, gajih karyawan tetap, premi asuransi, penyusutan alat dan bangunan pertanian. 
  2. Biaya variabel, yaitu biaya yang besar dan kecilnya tergantung pada jumlah produksi seperti biaya pupuk, herbisida, upah langsung petani, dan alat – alat pertanian. 
  3. Biaya semi variable, ialah biaya yang sifatnya bisa di anggap tetap, namun bisa juga di anggap variabel, seperti biaya pemeliharaan dan perawatan padi sawah secara langsung bisa berpengaruh pada produksititas pertanaman dan karyawan harian (Supari, 2001)
2.2.5. Penerimaan


Menurut Sudarsono (1995), penerimaan merupakan suatu hasil penjualan dari barang tertentu yang diterima atas penyerahan sejumlah barang pada pihak lain. Jumlah penerimaan (total revenue) di definisikan sebagai penerimaan dari penjualan dari barang tertentu yang peroleh dari sejumlah satuan barang yang terjual di kalikan harga penjualan setiap satuan barang. 

Penerimaan dibidang pertanian adalah produksi yang dinyatakan dalam betuk uang tunai sebelum dikurangi dengan biaya pegeluaran selama kegiatan usaha tani tersebut (Daniel, 2002).Sedangkan menurut Soeharno (2009), penerimaan adalah harga di kalikan dengan jumlah yang di jual. Secara matematis dapat dilihat seperti :

TR = P.Q

Keterangan :
TR : Total Penerimaan (Total Revenue)
Q : Kualitas barang yang di hasilkan (Quantity)
P : Harga (Price)

2.2.6.      Pendapatan

Menurut Adiwilanga, (1992) pendapatan diperlukan oleh keluarga petani untuk memenuhi kebutuhan hidup ini tidak tetap melainkan terus menerus. Oleh karena itu, pendapatan yang dimaksimal itulah yang selalu diharapkan petani dari usaha tani.Di tambahkan oleh (Mosher, 1991), pendapatan merupakan produksi yang dinyatakan dalam bentuk uang setelah dikurang biaya yang dikeluarkan selama kegiatan usaha tani.

Menurut Aukley (1983), pendapatan seseorang indifidu di definisikan sebagai jumlah penghasilan yang diperoleh dari jasa – jasa produksi yang diserahkan pada suatu atau diperolehnya dari harta kekayaannya, sedangkan pendapatan tidak lebih dari pada penjumlahan dari semua pendapatan individu.
Menurut Soekarwati (1995), pendapatan dibedakan atas dua pengertian yaitu:
  • Pendapatan kotor usahatani. Sebagai nilai produksi usahatani dikalikan harga dalam jangka waktu tertentu baik yang jual maupun yang dikonsumsi sendiri, digunakan untuk pembayaran dan simpanan atau ada digudang pada akhir tahun. 
  • Pendapatan bersih usahatani. Merupakan selisih antara pendapatan kotor dengan usahatani dengan pengeluaran total usahatani.
Hubungan biaya dengan pendapatan dapat diperitungkan untuk seluruh usaha tani sebagai satu unit selama periode tertentu, misalnya pada musim tanam.Dalam hal ini semua biaya semua produksi dijumlahkan kemudian di bandingkan dengan pendapatan diperoleh (Hadisaputro, 1985).

Menurut Soekarwati, dkk (1994), pendapatan keluarga mencerminkan tingkat kekayaan besarnya modal yang dimiliki petani. Pendapatan yang besar mencerminkan dana yang besar dalam usahatani, sedangkan pendapatan yang rendah dapat menyebabkan menurunnya infestasi dan upaya pemupukan modal, pendapatan bersih petani hasil kotor dari produksi yang dinilai dengan uang kemudian hasil kotor tersebut dikurangi dengan biaya produksi dan biaya pemasaran.

2.2.7. Pemasaran

Pengertian sehari-hari arti pemasaran adalah aktfitas jual beli dalam bidang ekonomi pemasaran tidak terbatas pada kegiatan jual beli saja akan tetapi semua aktifitas ekonomi uang memungkinkan barang dan jasa bergerak dari produksen sampai ke konsumen.

Menurut Soekartawi (1993) pemasaran atau marketing pada prinsipnya adalah aliran barang dari produksen ke konsumen, aliran barang ini dapat terjadi karena adanya lembaga pemasaran. Sedangkan menurut Mubyarto (1994) tataniaga atau pemasaran diartikan sabagai suatu kegiatan ekonomi yang mengakibatkan terjadinya pemindahan milik barang dan jasa untuk menyalurkan distiribusi dari produksen ke konsumen.

Fungsi dan peranan tataniaga atau pemasaran yaitu mengusahakan agar pembeli mempperoleh barang yang diinginkan pada tempat, waktu, bentuk dan harga yang tepat. Fungsi utama dari tataniaga atau pemasaran adalah menyangkut penyimpanan, pengolahan dan pembiayaan.

Menurut gilarso (1992) funsi-fungsi pemasaran mencakup semua kegiatan yang perlu diselengarakan dalam proses memasarkan barang/jasa hingga barang tersebut sampai ketangan konsumen. Pemasaran mempunyai peranan yang sangat penting dalam dunia usaha, peranan lembaga tataniaga ini sangat tergantung dari sistem pasar yang berlaku dan karakteristik aliran yang dipasarkan atau lebih di kenal dengan istilah saluran pemasaran. Sedangkan lembaga tataniaga ini sangat tergantung dari sistem pasar yang berlaku dan karakteristik aliran yang dipasarkan atau lebih di kenal dengan istilah saluran pemasaran. Sedangkan lembaga tataniaga adalah orang, badan atau perusahaan yang terlibat dalam proses pemasaran.

Ditambahkan oleh Soekartawi (1993) mengemukakan bahwa saluran pemasaran dapat berbentuk secara sederhana dan dapat pula rumit sekali, hal demikian tergantung dari macam komonditi lembaga pemasaran dan sistem pasar (iklim pasar). Sedangkan yang dimaksud dengan saluran pemasaran adalah suaatu jalur yang dilalui oleh arus barang-barang dari produksen ke perantara dan sampai akhiranya ke tangan konsumen. Selanjutnya menurut Daniel (2004)

Tataniaga atau pemasaran memerlukan biaya, dan biaya ini makin besar dengan perkembangan pertanian maupun peternakan dan makin kompleksnya tataniaga atau pemasaran tersebut. Menurut Danil (2004) setiap kegiatan pemasaran memerlukan biaya mulai dari pengumpulan, pengangkutan, pengolahan pembayaran retribusi, bongkar muat dan lain-lain. Jadi bias disimpulkan biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran (pedagang) dalam menyalurkan hasil pertanian dari produksen ke konsumen.


Menurut Daniel (2004) margin memasaran adalah selisih antara harga yang di bayarkan oleh konsumen dengan harga yang diterima Produksen. margin ini akan diterima oleh lembaga niaga yang terlibat dalam proses pemasaran tersebut. Sedangkan keuntungan pemasaran adalah selisih margin pemasaran pedagang dengan biaya pemasaran yang dikeluarkan selama proses mengalirnya barang (produk) dari produksen ke konsumen.




III. METODE PENELITIAN


3.1.Waktu Dan Tempat penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Agustus 2012, terhitung sejak pengambilan data awal ke lapangan sampai pengolahan data ahir.Adapun lokasi penelitian yaitu pada Petani Desa Jonggon Jaya Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara.

3.2. Devinisi Operasional

Penelitian ini diarahkan pada perhitungan pendapatan dan produksi usahatani padi sawah di desa Jonggon Jaya.Perhitungan ini dilakukan pada satu kali musim tanam atau 4 bulan. Untuk memudahkan ukuran variabel – variabel, maka diberikan batasan – batasan sebagai berikut:

  1. Petani responden yang dimaksud dalam penelitian ini adalah petani padi sawah yang berada di Desa Jonggon Jaya Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara.
  2. Luas lahan adalah luas tanah sawah yang ditanami padi sawah oleh petani responden yang dikonversikan kedalam satuan hektar. 
  3. Penjualan produksi adalah padi sawah berupa gabah kering, menjadi gabar kering giling, dan selanjutnya diproses menjadi beras yang dihasilkan oleh petani responden dalam satu kali musim tanam, diukur dalam satuan kilogram.
  4. Penerimaan merupakan hasil kali dari jumlah penjualan produksi dalam satu kilogram dikali dengan harga jual dalam satua Rupiah (Rp).
  5. Biaya tenaga kerja adalah biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk membayar tenaga kerja yang bekerja dalam proses penjualan produksi Biaya pengangkutan padi, penjemuran, padi yang sudah kering dimasukan kedalam karung lalu dikumpulkan menjadi satu dan disusun atau di masukan ke dalam gudang. 
  6. Biaya penyusutan padi adalah biaya berkurangnya padi yang disimpan digudang dikarnakan hama tikus dan berkurangnya kadar air yang menyebabkan berkurangnya berat padi
  7. Pendapatan merupakan selisih dari jumlah peneriamaan dengan biaya – biaya penjualan produksi, yang dikonversikan dalam satuan Rupiah (Rp).
  8. Pemasaran adalah proses penjualan hasil padi dari petani ke pedagang.

3.3. Populasi dan Sampel

Menurut Mardalis (1989), populasi itu adalah sekumpulan kasus yang perlu memenuhi syarat – syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian tersebut dapat berupa orang, barang, binatang, hal atau peristiwa. Ditambah oleh Pangestu Subagyo (2003), keseluruhan fakta dari hal ini disebut populasi, sedangkan bagaian dari semua fakta yang dianggap dapat mewakili seluruhnya disebut sebgai sampel. Berdasarkan pendapat tersebut diatas maka seluruh petani padi sawah yang berada di Desa Jonggon Jaya diasumsikan sebagai polulasi berdasarkan profil Desa Jonggon Jaya (2012), jumlah petani padi sawah yang berada di Desa Jonggon Jaya sebanyak 364 orang dari ke tiga belas kelompok petani.

Menurut pendapat Husein Umar (2005), ukuran sampel minimum yang dapat diterima berdasarkan desain penelitian yang digunakan untuk metode deskriftif yaitu 10%-20% populasi atau minimal 30 sampel. Untuk menentukan jumlah sampel, digunakan 10% dari jumlah populasi atau 0,1 x 364 opulasi, maka didapat 30.6 sampel. Untuk memudahkan penghitungan data, maka jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini dibulatkan menjadi 30 orang petani padi sawah yang berada di Desa Jonggon Jaya.Pengambilan sampel pada penelitian ini dengan mengunakan metode simple random sampling atau metode acak sederhana.

3.4. Data yang diperlukan

Untuk memudahkan perhitungan, maka rincian data yang akan diperlukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Data Desa Jonggon Jaya meliputi penduduk, luas wilayah, letak geografis dan lain-lain. 
  2. Profil responden atau petani sawah di Desa Jonggon Jaya yang meliputi keseluruhan kelompok petani, luas lahan dan status kepemilikan, komonditas yang ditanam dan umur komonditas. 
  3. Jumlah produksi yang dihasilkan pada musim tanam bulan Agustus-september 2012. 
  4. Biaya tenaga kerja meliputi , biaya pengangkutan, biaya penjemuran, biaya pengarungan, biaya pegumpulan padi kedalam gudang. 
  5. Biaya pembelian alat dan mesin pertanian meliputi pembelian kipas agin, pembelian terpal, pembelian karung dan lain-lain dimana selanjutnya akan dihitung biaya penyusutannya. 
  6. Data penunjang meliputi jumlah hasil produksi yang dikonsumsikan, jumlah yang dijual yang disimpan.
3.5. Tenik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitU:
  1. Penelitian lapangan ( field work research ), yaitu melakukan wawancara langsung dengan respoden, mengunakan kuisioner dan mendatangi atau observasi langsung kelapangan. 
  2. Penelitian kepustakaan ( library research ), yaitu dengan cara mengumpulkan data-data dari bahan kepustakaan dilanjutkan dengan pengutipan bagian-bagian releven yang ada hubungannya dengan peneliti.
Untuk memudahkan perhitungan maka pengolahan data dilakukan secara manual mengunakan rumus yang telah ditetapkan sebelumnya dengan alat bantu Microsoft Office Exel 2007. Kemudian dari perhitungan tersebut diketahui seluruh data yang diperlukan sebagai hasil penelitian sehingga dapat ditarik kesimpulan.

3.6. Alat Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil pengamatan langsung dilapangan dengan wawancara kepada petani padi sawah dengan mengunakan pertanyaan (kuisioner) sesuai dengan tujuan penelitian maka digunakan perhitungan sebagai berikut: untuk menghitung penerimaan mengunakan rumus (Sudaesono, 1995), yaitu :

TR = P.Q

Keterangan :
TR = Jumlah Penerimaan / total revenue( Kg )
P = Harga / Price( Rp )
Q = Produksi / Quantity( Rp )

Pendapatan usaha tani padi dengan menggunakan konsep pendapatan dikemukakan oleh ( Mosher, 1991 ) dengan mengunakan total biaya dengan rumus :

I = TR – TC

Keterangan :
I = Pendapatan usaha tani padi / Income
TR = Total Penerimaan / Total Revenue
TC = Jumlah Biaya Produksi / Total Cost

Selanjutnya untuk mengetahui jenis saluran pemasaran hasil padi sawah dalam menyalurkan pertanian ke tangan konsumen, maka dapat digunakan pendapat Daniel (2004)
Dengan demikian kita dapat mengetahui jenis saluran pemasaran manakah yang diterapkan dalam pertanian padi sawah dalam menyalurkan produksinya ketangan konsumen akhir. Untuk menghitung biaya yang dikeluarkan oleh satuan lembaga pemasaran berlangsung kemudian menjumlahkan biaya tersebut secara keseluruhan.
            Menurut Agustina dan setiajie (2008) untuk menghitung margin pemasaran di masing-masing lembaga pemasaran mengunakan rumus sebagai berikut :
                        M   = Hp – Hb
            Keterangan :
                        M   = Margin pemasaran.
                        Mp = Harga penjualan.
                        Mb = Harga pembelian.
            Sedangkan untuk margin diperoleh dengan menjumlahkan tiap margin lembaga pemasaran yang terlibat dengan mengunakan rumus sebagai berikut :
                        Mt = M1 + M2 + M3 + …………Mn
            Keterangan :
                        Mt                               = Margin total
                        M1,M2, M3,……Mn  = Margin pedagang.
Selanjutnya untuk menghitung keuntungan yang diperoleh masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat menurut Nurasa dan Darwis (2007; 42), digunakan rumus sebagai berikut :
                         = Mt – Bt
            Keterangan :
                          = Keteranagn pemasaran dengan satuan (Rp/ Kg).
                        Mt = Margin pemasaran dengaan satuan (Rp/ Kg).
                        Bt  = Biaya pemasaran dengan satuan (Rp/ Kg)




DAFTAR PUSTAKA


AAK. 1990. Budidaya Tanaman Padi. Kansius, Yogyakarta

Adiwilaga, A. 1992. Ilmu usahatani. Alumni, Bandung

AAK. 1983. Dasar-dasar bercocok tanam. Kansius, Yogyakarta

Aukley, G. 1983. Teori makro ekonomi. Terjemahan Paul Sihothan. Unuversitas Indonesia, Jakarta

Agustian, A. Setiajie, I. 2008. Analisis perkembangan harga dan rantai pemasaran komonditas cabai merah di Provinsi Jawa Barat. Pusat analisis social ekonomi dan kebijakan pertanian Departemen Pertanian.

BPS Kutai Kartanegara. 2011. Kutai Kartanegara Dalam Angka. BPS Kutai Kartanegara, Kutai Kartanegara.

BPS Kutai Kartanegara. 2011. Kecamatan Loa Kulu Dalam Angka. BPS Kutai Kartanegara, Kutai Kartanegara.

Bambang Dan Aristanti.2007. Mengasah Kemanpuan Ekonomi. Citra Praya. Bandung.

Departemen Pertanian CV Yasa Guna, Jakarta.

Daniel, M. 2004. Pengantar ekonomi pertanian. Jakarta . PT. Bumi Aksara.

Fuad, M. dkk. 2003. Pengantar Bisnis. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Gilarso,T. 1992. Pengantar ilmu ekonomi bagian makro. Yogyakarta. Kanisius.

Hadisaputro, S. 1985. Biaya dan pendapatan didalam usahatani. Departemen Ekonomi Pertanian. UGM Yogyakarta

Kompas. 2004. Dicanangkan sebagai tahun padi Nasional. [www. Situs Hijau.co.id.] dikunjungi 27. Juli 2012.

Mosher, A.T. 1991. Mengerakkan dan membangun pertanian, dinas pendidikan Departemen Pertanian CV Yusa Guna, Jakarta.

Mubyarto. 1991. Pengantar ekonomi pertanian, Edisi – 3 Lembaga Penelitian pendidikan dan penerangan ekonomi social, Jakarta.

Mubyarto. 1994. Pengantar ekonomi pertanian. Jakarta . LP3ES.

Nurasa, T. Darwis, V. 2007. Analisis usahatani dan keragaman margin pemasaran bawang merah di Kabupaten Brebes. Bogor. Pusat analisis social ekonomi dan kebijakan pertanian.

Soedarsono, H. 1995. Pengantar ekonomi mikro. LP3ES, Jakarta,

Soemartono, B. dkk. 1984. Bercocok Tanam Padi. Yasguna, Jakarta

Suparyono dkk. 1993. Padi. Penebar Swadya, Jakarta.

Supari, D. H. 2001. Manajemen produksi dan oprasional agribisnis hortikultura. Kelompok Gramedia, Jakarta.

Soekarwati. 1995. Analisis usaha. UI, Jakarta.

Soekarwati Dkk. Ilmu usahatani dan penelitian untuk pengembangan petani kecil. UI Press, Jakarta.

Soekartawi, A. 1993. Prinsip dasar ekonomi pertanian. Jakarta . PT. Raja Grafindo Persada.

Skripsi Pertanian - Analisis Pendapatan Petani