Rabu, 21 Maret 2012

Sebesar Apa Alam Semesta?



Pikiran manusia tidak mungkin dapat memahami gambaran yang sesungguhnya tentang ukuran alam semesta. Kita bukan hanya tidak mengetahui berapa besar ukurannya, juga sulit untuk membayangkan seberapa besarnya alam semesta ini.

Jika kita mulai dari bumi dan bergerak, kita akan mengetahui mengapa hal itu demikian. Bumi adalah bagian dari tata surya, tetapi merupakan bagian yang sangat kecil. Tata surya terdiri dari matahari, planet-planet yang mengelilingi matahari, asteroid-asteroid yang merupakan planet yang sangat kecil, meteor-meteor, dll.

Sekarang, keseluruhan tata surya kita ini semata-mata adalah bagian yang sangat kecil dari tata surya lain yang jauh lebih besar yang dinamakan "galaksi". Sebuah galaksi terdiri dari jutaan bintang, yang banyak di antaranya jauh lebih besar dari matahari kita, dan mungkin mempunyai tata surya sendiri.

Jadi, bintang-bintang yang kita lihat dalam galaksi kita, yang kita namakan "Bimasakti", semuanya adalah matahari. Bintang-bintang itu demikian jauh letaknya sehingga jaraknya diukur dalam tahun cahaya dan bukan dalam mil. Cahaya bergerak dengan kecepatan kira-kira 6.000.000.000.000 mil per tahun. Bintang yang paling cemerlang dan paling dekat dengan bumi adalah Alpha Centauri. Tahukah kamu berapa jaraknya? 25.000.000.000.000 mil!

Tetapi kita hanya membicarakan tentang galaksi kita sendiri. Konon lebarnya kira-kira 100.000 tahun cahaya. Ini berarti 100.000 kali 6.000.000.000.000 mil! Dan galaksi kita hanyalah bagian yang sangat kecil dari tata surya yang lebih besar!

Kemungkinan besar ada jutaan galaksi di luar galaksi Bimasakti. Dan mungkin gabungan dari semua galaksi ini hanya merupakan bagian dari tata surya yang lebih besar!

Jadi kamu tahu mengapa tidak memungkinkan bagi kita untuk memperoleh gambaran tentang ukuran alam semesta. Kadang-kadang para ilmuwan berpendapat bahwa alam semesta ini mengembang. Ini berarti bahwa setiap beberapa miliar tahun, dua buah galaksi masing-masing akan menjadi dua kali lebih besar dari ukuran sebelumnya!

Jumat, 16 Maret 2012

Galaksi Bimasakti




Kemungkinan besar tidak ada sesuatu yang lebih misterius dan kelihatan menakjubkan di langit selain dari galaksi bimasakti, yang membentang seperti untaian permata dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lainnya. Pada zaman purba, ketika orang-orang memandang pertunjukkan yang besar ini, mereka dipenuhi perasaan kagum akan keindahannya sama seperti kamu. Tetapi karena mereka tidak benar-benar mengetahui apakah itu, mereka menyusun segala macam penjelasan yang aneh dan indah tentang galaksi Bimasakti.


Misalnya, pada zaman orang Kristen mula-mula, orang-orang menganggap bahwa
galaksi Bimasakti adalah jalan setapak untuk para bidadari, sehingga mereka dapat naik ke surga melaluinya. Atau mereka membayangkannya sebagai suatu lubang di surga, sehingga kita yang berada di bumi ini secara sepintas lalu dapat melihat kemuliaan yang ada di belakangNya.

Mengetahui kenyataan tentang galaksi Bimasakti, sebagaimana yang kita ketahui sekarang, tidak menghilangkan kekaguman kita terhadapnya. Kenyataan-kenyataan itu sama menakjubkannya seperti setiap gambaran yang "dibuat-buat"!

Galaksi kita dibentuk secara kasar seperti sebuah jam tangan, bundar dan datar. Jika kamu dapat naik di atasnya dan melihat ke bawah, galaksi itu akan tampak seperti sebuah jam tangan yang luar biasa. Tetapi kita sekarang berada di dalam galaksi ini, dan jika kita melihatnya ke atas berarti kita memandang ke arah tepi dari dalam "jam tangan" itu. Jadi, kita melihat tepi yang mengelilingi kita itu. Dan karena terdapat jutaan bintang di dalamnya, kita melihat galaksi itu sebagai Bimasakti.

Tahukah kamu bahwa terdapat paling tidak 3.000.000.000 bintang di dalam galaksi itu? Dan inilah gambaran tentang ukurannya. Akan memerlukan waktu selama delapan menit bagi cahaya dari matahari untuk mencapai bumi. Akan memerlukan waktu kira-kira 27.000 tahun bagi cahaya yang ada di pusat galaksi untuk mencapai matahari!

Galaksi berputar pada pusatnya seperti sebuah roda. Dari posisi kita di dalam galaksi, akan memerlukan waktu kira-kira 200.000.000 tahun hanya untuk membuat satu putaran!


Sabtu, 10 Maret 2012

Apa Sebenarnya Relativitas Umum?

Untuk analogi relativitas umum, pertimbangkan bahwa kamu membentangkan sebuah seprai atau suatu lembaran yang datar dan elastik. Sekarang kamu meletakkan sesuatu dengan berat yang bervariasi pada lembaran tersebut. Jika kita menempatkan sesuatu yang sangat ringan maka bentuk seprai akan sedikit lebih turun sesuai dengan berat benda tersebut. Tetaoi jika kamu meletakkan sesuatu yang berat, maka akan terjadi kelengkungan yang lebih besar.
Asumsikan terdapat benda yang berat berada pada lembaran tersebut, dan kamu meletakkan benda lain yang lebih ringan di dekatnya. Kelengkungan yang diciptakan oleh benda yang lebih berat akan menyebabkan benda yang lebih ringan “terpeleset” disepanjang kurva ke arah kurva
tersebut, karena benda yang lebih ringan mencoba untuk mencapai keseimbangan sampai pada akhirnya benda tersebut tidak bergerak lagi (dalam kasus ini, tentu saja terdapat pertimbangan lain, misalnya bentuk dari benda tersebut, sebuah bola akan menggelinding, sedangkan kubus akan terperosot, karena pengaruh gesekan atau semacamnya).
Hal ini serupa dengan bagaimana relativitas umum menjelaskan gravitasi. Kelengkungan dari cahaya bukan karena beratnya, tetapi kelengkungan yang diciptakan oleh benda berat lain yang membuat kita tetap melayang di luar angkasa. Kelengkungan yang diciptakan oleh bumi membuat bulan tetap bergerak sesuai dengan orbitnya, tetapi pada waktu yang sama, kelengkungan yang diciptakan bulan cukup untuk mempengaruhi pasang surut air laut.
Pembuktian Relativitas Umum
Semua temuan-temuan relativitas khusus juga mendukung relativitas umum, karena teori-teori ini adalah konsisten. Relativitas umum juga menjelaskan semua fenomena-fenomena mekanika klasik, yang juga konsisten. Selain itu, beberapa temuan mendukung prediksi unik dari relaivitas umum:
  • Presisi dari perihelion Merkurius
  • Pembelokan gravitasi cahaya bintang
  • Pelebaran alam semesta (dalam bentuk konstanta kosmologis)
  • Delay dari gema radar
  • Radiasi Hawking dari black hole

Debu Kosmis Pembentuk Galaksi


Bila kita melihat ke langit pada malam yang cerah, terlihat diantara bintang-bintang ruang kosong yang gelap. Sejak abad ke 18, para astronom bertanya-tanya, apakah alam semesta sebagian besar terdiri dari ruang kosong seperti itu?. Namun di awal abad ke 20, para astronom menemukan bukti, bahwa ruang gelap di alam semesta itu adalah kumpulan debu kosmis raksasa. Debu ini menghalangi pancaran bintang-bintang yang jauh di pinggiran alam semesta. Juga ukuran debu ini amat kecil, dengan diameter hanya 0,2 mikrometer. Memang hingga tahun 50-an, debu kosmis ini menjengkelkan para astronom,
karena sering menghalangi penelitian bintang-bintang yang jauh. Namun setelah mengukur sebaran serta perkiraan volumenya, ditarik hipotesis debu mikro inilah yang menentukan terbentuknya galaksi serta bintang di alam semesta. Prof. Mayo Greenberg, kepala laboratorium astrofisika di Universitas Leiden, Belanda bersama seorang mahasiswanya, Aigen Li mengembangkan teori yang disebut "model persamaan debu kosmis". Disebutkannya, memang terdapat model persamaan yang dikembangkan para ahli lainnya. Namun yang dikembangkan Greenberg dan Li, dianggap yang paling mendekati gambaran alam semesta sebenarnya. Setiap butiran debu kosmis, merupakan inti padatan mikro. Biasanya diselubungi es dan material organik. Akan tetapi bagaimana terbentuknya dan dari mana asal muasal debu kosmis ini. Sebab menurut teori astronomi atau astrofisika, alam semesta ini pada awalnya bebas debu. Sekitar 15 milyar tahun lalu, semua galaksi muda hanya terdiri dari hidrogen, helium dan sebagian kecil elemen ringan yang terbentuk pada saat dentuman besar. Pada saat itu hanya awan hidrogen dan helium yang bisa bertumbukan dan membentuk galaksi.  Pada awal terbentuknya alam semesta, galaksi-galaksi hanya terdiri dari bintang-bintang tipe O dan B, yang kecemerlangannya amat tinggi. Namun setelah masa kehidupan yang relatif pendek, yakni hanya beberapa juta tahun, bintang-bintang tsb mati dan meledak menjadi Supernova. Letusan Supernova inilah yang menciptakan debu kosmis pertama di alam semesta. Para astronom masih dapat melihat pertandanya, pada galaksi-galaksi muda. Lima milyar tahun kemudian, gelombang ledakan Supernova surut. Munculah bintang-bintang bermassa ringan yang disebut bintang raksasa merah. Bintang ini kemudian membesar dan mendingin. Pada fase mendingin itulah, di atmosfirnya terbentuk partikel silikat, yang tertiup kemana-mana di alam semesta. Tabrakan partikel silikat dengan gas, membentuk inti silika dan mantel gas beku di luarnya. Dalam kondisi terus mendingin, tekanan gas di dalam kumpulan awan partikel terus menurun. Tercipta gaya tarik yang menyedot awan partikel menjadi gugusan bintang-bintang kecil semacam matahari. Jika gaya tariknya membesar, partikel silika serta unsur-unsur lainnya disedot oleh bintang, atau menjadi unsur pembentuk bintang dan galaksi. Sebagian besar sisa debu kosmis yang tidak tersedot, akan dihembuskan ke alam semesta. Debu antar bintang ini kemudian mengalami siklus, terbentuk, bergabung dan kembali dimusnahkan. Sejak tiga dasawarsa lalu, pembentukan partikel silikat ini sudah dibuat modelnya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana mekanisme pembentukan molekul organik dari partikel silikat, es dan unsur lainnya. Prof Greenberg memperkirakan, pancaran sinar Ultra Violet-lah yang memainkan peranan amat menentukan. Dengan bantuan sinar ultra violet, molekul air, amoniak dan methan berubah menjadi radikal bebas, yang merupakan bentuk awal molekul organik seperti formaldehida. Keberuntungan rupanya berpihak kepada tim peneliti Prof.Greenberg. Suatu hari di akhir tahun 80-an, Gerda Horneck, pakar astrobiologi dari lembaga penerbangan dan ruang angkasa Jerman, menawarkan peluang untuk melakukan percobaan di ruang angkasa dalam missi Eureka. Terbukti, setelah 4 bulan terkena pancaran sinar ultra violet di ruang angkasa bahan ujicoba organik yang dibawa berubah warna menjadi kecoklatan. Penelitian menggunakan spektrometer inframerah membuktikan spektrum absorpsi cahaya bahan ujicoba, identik dengan spektrum debu antar bintang

Supernova


Bintang memulai hidupnya sebagai awan dingin dari gas di dalam ruang antar bintang yang mengembang. Setiap butiran materi di awan mengalami gaya gravitasi yang menarik satu sama lain. Tarikan kolektif ini menyebabkan bagian luar menekan bagian dalam serta menyusutkan awan. Ketika mampat suhu gas meningkat, lebih mampat awan akan lebih panas dan bila
kontraksinya cukup kuat ia pun akan bersinar.
Begitu terbentuk bintang perlu sumber energi panas internal yang menjaga dari pengerutan lebih lanjut. Tanpa sumber ini ia tidak akan bisa bersinar kecuali melalui aliran panas dari bagian dalam. Kehilangan panas akan menyebabkan tekanan dalamnya jatuh dan tidak mampu menahan berat lapisan luar yang menghancurkan. Selanjutnya bintang akan terus mengalami keruntuhan, dan disebut supernova.
Terdapat dua tipe kurva cahaya supernova. Supernova tipe I setelah gemerlap pertama tampak, cahaya segera meningkat cepat menuju maksimum dalam waktu sekitar dua pekan kemudian segera menurun secara eksponensial. Kurva maksimum tipe II bertahan beberapa lama baru kemudian menurun lebih lambat dibanding tipe terdahulu.
Perbedaan paling menyolok adalah adanya garis emisi lebar dari gas hidrogen pada supernova tipe II yang tidak pernah ditemukan pada tipe I. Tempat keduanya juga berbeda. Supernova tipe II muncul di lengan galaksi spiral, di antara gugusan bintang massif dan cerah. Sedangkan tipe I bisa berada di mana-mana; di pusat, lengan atau tepi galaksi spiral, juga di sekitar galaksi eliptik.
Supernova berperan dalam menyibak rahasia alam semesta. Pertama, sebagai alat untuk menentukan dimensi alam semesta. Karena supernova sangat terang maka bisa dilihat dari jarak milyaran tahun cahaya. Pengukuran jarak mengestimasi berapa lama galaksi-galaksi bergerak, dengan demikian menentukan usia jagat raya. Kedua, sebagai agen perubahan dalam jagat raya. Gelombang kejut ledakan supernova bertanggungjawab bagi banyak pola di ruang angkasa. Bahkan sangat mungkin menyebabkan mutasi genetik dalam organisme hidup, karenanya menghasilkan mekanisme bagi perubahan evolusioner 

Jumat, 09 Maret 2012

Vibrasi, Densitas dan Dimensi



evolusispiritual2Segala sesuatu di alam semesta diciptakan dari cahaya murni elektron.  Kemudian elektron inilah yang membentuk atom dari dunia fisik. Desain geometrik dan kecepatan aksi di sekitar inti pusat (ditambah faktor-faktor lain) menentukan jenis atom dan tingkat vibrasi atau getaran. Planet, manusia, hewan, tumbuhan, pohon-pohon semua memancarkan tingkat getaran tertentu. Yang padat memilki tingkat getaran atau vibrasi yang lebih rendah dalam spektrum cahaya.
Densitas (Kepadatan)
Tingkat Kepadatan (TERBERAT adalah terendah dalam spektrum cahaya):

1. Kerajaan Mineral  – Memiliki kepadatan TERBERAT.
2. Kerajaan Tumbuh-tumbuhan.
3. Kerajaan  Hewan +  Tingkat getaran Manusia yang paling rendah
4. Tingkat Getaran yang lebih tinggi dari Manusia
5. Light Body
6. Body Soul
7. Oversoul
8. Malaikat
9. Malaikat dan Ascended Masters
10. Pemimpin Spiritual Hierarchy
11. Universal Gods
12. Absolut Ketuhanan – Sumber cahaya yang paling murni
Dimensi
Tidak seperti Kepadatan, Dimensi mencakup seluruh realitas dan tumpang tindih satu sama lain. Dimensi yang lebih rendah yang terkandung di dalam yang lebih tinggi. Misalnya, dimensi ketiga berisi dimensi satu dan dimensi dua.
Dimensi Kesatu- Adanya melalui sebuah titik dalam ruang dan waktu
Dimensi Kedua- Magnitude (jarak atau path) dalam waktu dan ruang
Dimensi ketiga – Tingkatan dan eksistensi di alam semesta fisik melalui jalan pilihan dalam ruang dan waktu
Dimensi Keempat – Sisa (gerakan) melalui ruang dan waktu dalam modus yang lebih tinggi eksistensi fisik
Dimensi Kelima – Cinta adalah jembatan dari dunia Materi  dan dunia Roh (Membebaskan diri dari dualitas menjadi cinta dan kesatuan)
Pemahaman bahwa segala sesuatu di Semesta adalah energi dan bahwa semua energi  berada pada berbagai tingkat getaran dan frekuensi, menunjukkan bahwa semua planet dan isinya bergetar pada tingkat yang berbeda. Planet bumi adalah planet dimensi ketiga dengan proses sedang menuju ke dimensi kelima. Saat ini makhluk di planet bumi diperkirakan 60 persen dalam dimensi ketiga, 35 persen di dimensi ke-empat dan 5 persen di dimensi kelima.
Planet bumi saat ini sedang mengalami kenaikan dimensi, bergerak dari dimensi ketiga untuk menuju ke dimensi keempat dengan tujuan berada di dalam dimensi kelima. Bagi setiap manusia untuk mampu mengikuti kenaikan dimensi planet, mereka harus fokus pada masing-masing tingkat getaran atau frekuensi. Setiap dimensi memiliki tujuh ‘kendaraan/pesawat’. Sebagai tingkat getaran yang dibangkitkan (dengan melepaskan semua hambatan dalam fisik, emosi dan mental tubuh) pergeseran frekuensi sampai mengangkat orang ke ‘kendaraan/pesawat’ yang lebih tinggi. Untuk sepenuhnya berkembang menjadi dimensi kelima orang harus membuka diri untuk sampai pada cinta tanpa syarat, memperluas / cahaya batinnya atau kecerdasan spiritualnya, memaafkan sepenuhnya dalam semua keadaan dan tidak menghasilkan pola pikir negatif.
Setiap dimensi memiliki karakteristik masyarakat yang berbeda. Ini adalah sebuah contoh  akan reaksi manusia dari dimensi yang berbeda-beda mengenai sebuah kecelakaan lalu lintas yaitu  ketika  sebuah mobil menabrak atau menyenggol  mobil baru Anda ketika Anda sedang berhenti di lampu merah.
sumber : http://www.selftransform.net/DensitiesandDimensions.htm

Teori Ruang Hiper : Kunci untuk Memahami Alam Semesta

Steven Weinberg, seorang fisikawan AS dan ikut meraih Hadiah Nobel dalam Ilmu Fisika 1979, mengatakan ilmu fisika teoritis tampak makin mirip rekaan ilmiah (science fiction). Ilmu fisika yang dia maksudkan mencakup teori tentang ruang hiper (hyperspace). Ruang hiper sudah dikembangkan melalui komputer canggih yaitu suatu komputer 4D yang diciptakan di Amerika Serikat. Komputer ini mampu menciptakan lingkungan 4 dimensi spasial, suatu penerapan dari teori ilmu fisika tentang ruang hiper. Komputer 4D ini membingungkan mata yang tidak terlatih dan mendemonstrasikan berbagai tampilan yang begitu membingungkan sehingga para guru menasihati murid-murid yang datang menyaksikannya agar mengabaikannya. Teori tentang ruang hiper menimbulkan juga gagasan tentang penerbangan ruang angkasa di masa depan yang mampu menembus dimensi di luar dimensi dunia kita sehari-hari. Ruang-waktu yang kita alami sehari-hari dengan demikian bersifat caturdimensional (four-dimensional)
. Tapi teori tentang ruang hiper mengatakan alam semesta kita punya lebih dari empat dimensi; ada sepuluh dimensi, bahkan lebih dari itu. 
Seperti kebingungan mereka yang menyaksikan komputer 4D tadi, kita pun menemukan melalui teori tentang keanehan ruang hiper. Ini secara khusus bisa kita amati dalam ilmu fisika  kuantum, ilmu yang mengkhususkan diri pada forsa-forsa (forces) dalam partikel-partikel atomik dan subatomik. Para ilmuwan teori kuantum menemukan secara mengejutkan melalui suatu percobaan bahwa satu atom yang ditembakkan melalui satu dari dua celah yang berdampingan bisa mendarat di dua tempat sekaligus pada layar di belakang celah untuk menembaknya! Bagaimana mungkin satu benda bisa hadir pada dua tempat sekaligus? Ini melawan logika sehari-hari. Aneh tapi nyata. Keanehan realitas pada tingkat subatomik menimbulkan suatu konsep ilmu fisika lain yang menghantam logika sehari-hari. Dalam skalanya yang paling kecil seperti ini, realitas dipercaya adalah hasil ciptaan pengamatan kita! Dalam ilmu fisika Newtonian, realitas berisi kepercayaan pada kepastian. Kalau sebatang pohon tumbang di hutan, ia memang tumbang; tidak perlu ada saksi mata tentang peristiwa ini. Tapi teori kuantum menunjukkan realitas yang berbeda. Sebelum Anda memandang pohon itu, ia bisa dalam kondisi apa pun. Ia bisa dibakar, dijadikan kayu bakar, ia bisa hangus. Ia bisa berada dalam sejumlah yang tak terkira dari keadaan apa pun yang bisa timbul. Tapi begitu Anda memandangnya, ia muncul dan berada sebagai pohon. Dipercaya “pengamatan menciptakan alam semesta”!
Konsep tentang adanya banyak dunia di luar dunia kita disebut dekoherens dalam mekanika kuantum, istilah lain untuk ilmu fisika kuantum. Ini adalah teori tentang banyak dunia yang terjadi karena pengamatan kita! Menurut teori ini, alam semesta terbelah setiap kali kita mengamatinya! Jadi, dunia pun terbelah setiap kali kita mengamatinya. Ini mengakibatkan timbulnya banyak alam semesta dan dunia. Ini berarti seseorang bisa hidup di suatu dunia tapi sekaligus mati di dunia lain, atau sebaliknya. Dalam realitas banyak dunia, tidak benar seseorang entah mati entah hidup. Yang benar adalah seseorang mati dan hidup sekaligus!
Kalau nanti terbukti benar dan diterapkan untuk kehidupan manusia, ilmu fisika tentang ruang hiper bukan saja akan menjungkirbalikkan konsep kita tentang realitas tridimensional kita (ditambah waktu). Ia pun akan meniadakan berbagai hukum logika yang mendasari kebenaran duniawi kita sejauh ini. Salah satu yang kita terima sebagai benar adalah sesuatu atau seseorang tidak mungkin mengalami dua keadaan sekaligus. Dia entah mengalami suatu keadaan atau mengalami keadaan lain; dia entah hidup atau mati. Tapi dalam ruang hiper, khususnya dunia kuantum, seseorang bisa ada dalam dua keadaan yang berbeda sekaligus; dia, karena itu, bisa hidup dan mati sekaligus dan bisa ada di dua dunia sekaligus!
Teori tentang ruang hiper memang adalah salah satu revolusi konseptual dalam ilmu fisika teoritis menjelang akhir abad ke-20 dan pada awal abad ke-21. Disadari bahwa ruang hiper mungkin adalah kunci untuk membuka rahasia-rahasia dari alam semesta dan Penciptaan itu sendiri. Teori tentang ruang hiper karena itu sering disebut ruang berdimensi lebih “tinggi”. Secara ringkas, ruang ini memiliki dimensi-dimensi tambahan yang ada di luar empat dimensi yang sudah diterima umum: ruang – panjang, lebar, tinggi atau dalam – ditambah waktu. Teori tentang ruang hiper adalah suatu rangkaian kesatuan ruang dan waktu hiper yang di atas kertas dipandang ada. Diduga rangkaian kesatuan ini memungkinkan gerak (motion) dan komunikasi mencapai kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya, unsur tercepat dalam ruang hampa di alam semesta, yaitu sekitar 300.000 kilometer per detik!
Para pakar ilmu fisika teoritis modern tentang ruang hiper mengatakan dimensi ketiga ditambah waktu terlalu kecil untuk mencakup realitas yang sangat luas dan dalam yang masih tersembunyi “di luar sana.” Untuk mampu memahami realitas yang masih tersembunyi itu, mereka mengemukakan teori tentang ruang hiper. Teori tentang ruang hiper belum dibuktikan melalui percobaan-percobaan ilmiah. Sesungguhnya, teori ini sulit sekali dibuktikan di laboratorium. Akan tetapi, teori ini tak pelak sudah mengubah pandangan ilmiah tentang ilmu fisika modern. Ia sudah menghasilkan sekitar 5.000 makalah riset dalam kesusastraan ilmiah. Selain itu, lebih dari 200 konferensi internasional sudah disponsori untuk menjelajahi konsekuensi-konsekuensi dari dimensi-dimensi lebih tinggi dari teori ruang hiper.
Meskipun belum bisa dibuktikan melalui eksperimen-eksperimen, teori tentang ruang hiper sudah dimantapkan sebagai suatu cabang yang sah dari ilmu fisika modern. Cabang ini akan makin berkembang di masa depan. Sebagai makhluk tridimensional, kita tidak bisa melihat ruang hiper, ruang dengan dimensi ekstra. Ia seperti dunia kita: meskipun berbentuk bola, dunia kita tampak datar bagi kita. Jadi, ruang hiper hanya bisa kita lihat begitu kita memasukinya.

Kajian Fisika Tentang Perjalanan antar Bintang



stargate2Ketika mendiskusikan tentang kemungkinan perjalanan antar bintang, ada sesuatu yang disebut sebagai “faktor yang menggelitik” . Sebagian ilmuwan cenderung untuk mencemooh ide perjalanan antar bintang karena jarak yang sangat besar yang memisahkan bintang-bintang. Menurut Relativitas Khusus (1905), tidak terdapat informasi tentang sesuatu yang dapat berjalan lebih cepat daripada cahaya, dan oleh karenanya akan memakan waktu berabad-abad hingga ribuan tahun bagi suatu peradaban dari luar Bumi untuk menempuh perjalanan antar bintang. Bahkan bintang-bintang yang kita kenal di langit malam itu jaraknya kira-kira 50 hingga 100 tahun cahaya, dan galaksi kita membentang 100.000 tahun cahaya
. Galaksi terdekat jaraknya 2 juta tahun cahaya dari planet kita. Para kritikus mengatakan bahwa pada prakteknya jagad raya terlalu besar bagi perjalanan antar bintang.
Hal yang sama, investigasi terhadap UFO yang mungkin berasal dari planet lain terkadang merupakan “jalur ketiga” bagi karir ilmiah seseorang. Tidak ada pendanaan bagi seseorang yang secara serius mencari obyek-obyek tidak dikenal di angkasa, dan reputasi seseorang mungkin akan mengalami penderitaan jika seseorang memiliki minat terhadap masalah yang tidak lazim ini. Sebagai tambahan, mungkin 99% dari seluruh penampakan UFO dapat ditolak dan dianggap sebagai fenomena biasa, misalnya planet Venus, gas rawa (yang dapat berpendar di kegelapan dengan kondisi tertentu), meteor, satelit, balon cuaca, bahkan gema radar yang merambat lewat pegunungan. (Apa yang mengganggu bagi seorang ahli fisika, bagaimanapun, adalah sisa 1% dari penampakan-penampak an ini, dimana beragam penampakan dipecahkan dengan beragam metode observasi. Beberapa penampakan yang paling membuat penasaran dilaporkan oleh seorang pilot yang telah berpengalaman serta dari para penumpang pesawat yang juga terlacak oleh radar dan direkam dalam video. Penampakan seperti ini sulit untuk ditolak).
Namun bagi seorang astronom, eksistensi kehidupan cerdas di alam semesta ini merupakan ide yang memaksa dari eksistensi itu sendiri, dimana makhluk ET mungkin eksis di bintang-bintang lainnya yang memiliki peradaban berabad atau beribu tahun lebih maju dari kita. Dalam galaksi Bima Sakti sendiri saja, ada lebih dari 100 milyar bintang, yang mungkin membuatnya tidak sesuai bagi kehidupan cerdas, namun setengahnya mungkin memiliki sistem tata surya yang mirip dengan kita. Meskipun sejauh ini telah ditemukan lebih dari 100 planet di luar tata surya kita dimana tidak ada yang mirip dengan Bumi kita, tidak dapat dielakkan bahwa banyak ilmuwan meyakini, bahwa suatu hari kita akan menemukan planet kecil yang serupa dengan Bumi yang memiliki air (air adalah “cairan universal” yang memungkinkan adanya DNA pertama di samudera sekira 3,5 milyar tahun lampau). Penemuan planet yang serupa dengan Bumi mungkin akan membutuhkan waktu 20 tahunan, ketika NASA berniat meluncurkan satelit interferometri angkasa ke dalam orbit yang mungkin cukup sensitif untuk mendeteksi planet-planet yang mengorbit bintang-bintang lain.
Sejauh ini, kita tidak melihat bukti kuat adanya sinyal yang berasal dari peradaban ekstraterestrial dari planet manapun yang serupa dengan Bumi. Proyek SETI (Search for Extra-Terrestrial Intelligence = pencarian kehidupan cerdas di luar Bumi) belum menghasilkan bukti apapun yang bernilai tentang adanya kehidupan cerdas di alam semesta dari planet-planet yang serupa dengan Bumi, namun persoalan ini masih perlu untuk dilakukan analisis ilmiah yang lebih serius lagi. Kuncinya adalah menganalisis ulang semua faktor yang tidak mendukung atas perjalanan yang dapat melebihi kecepatan cahaya.
Pandangan kritis terhadap isu ini harus perlu mencakup dua observasi baru. Pertama, Relativitas Khusus digantikan oleh Relativitas Umum dari Einstein sendiri yang lebih kuat (tahun 1915), dimana perjalanan melampaui kecepatan cahaya adalah hal yang tidak mustahil di bawah kondisi tertentu. Kesulitan yang utama ialah menghimpun energi yang cukup dari tipe tertentu untuk menembus rintangan cahaya. Kedua, seseorang oleh karenanya harus menganalisis peradaban ekstraterestrial yang berbasiskan pada keluaran energi totalnya serta hukum termodinamika. Pada bagian ini, seseorang mesti menganalisis peradaban yang mungkin lebih maju ribuan hingga jutaan tahun dari peradaban kita.
Upaya realistis pertama untuk menganalisis peradaban ekstraterestrial dari sudut pandang hukum fisika dan hukum termodinamika dilakukan oleh Nicolai Kardashev, ahli astrofisika Rusia. Ia mendasarkan tingkatan yang ia susun atas kemungkinan adanya peradaban pada basis keluaran energi total yang dapat diukur dan digunakan sebagai panduan untuk menyelidiki dinamika peradaban maju:
Tipe I: Peradaban ini memanfaatkan keluaran energi dari planet
Tipe II: Peradaban ini memanfaatkan keluaran energi dari suatu bintang, dan menghasilkan sekira 10 milyar kali keluaran energi dari yang dihasilkan oleh peradaban Tipe I.
Tipe III: Peradaban ini memanfaatkan keluaran energi dari suatu galaksi, dan menghasilkan sekira 10 milyar kali keluaran energi dari yang dihasilkan oleh peradaban Tipe II.
result : Ahli fisika teoritis, profesor, penulis buku laris, penggiat iptek populer

Minggu, 04 Maret 2012

Teleskop Hubble : Dimana peran Gravitasi Universal ??


Tingkat kejelasan merupakan permintaan oleh astronom dan khalayak ramai terhadap teleskop Hubble, namun gambar-gambar planet yang sangat jauh yang ditangkap teleskop ini dengan tingkat kejelasan tinggi malah membuat ilmuwan mencari sebabnya, sebab menurut perhitungan baru gambar-gambar ini sepatutnya tampak samar, oleh karenanya memikirkan perlunya pengkajian ulang
beberapa hipotesa dasar tentang ruang, waktu, dan teori gravitasi.
Analisa terhadap gambar planet dan galaksi menguji sebuah kemampuan dasar kuantum, ia merupakan sebuah agregat dalam pandangan keluasan fisika terhadap tingkat atom yang tidak kelihatan, pandangan ini saling berhubungan dengan standar terbesar kosmos dan pengertian tingkat fisika.




Pandangan klasik beranggapan secara keseluruhan, ruang dan waktu bisa dianggap sebagai spons cahaya yang menembus spons seharusnya mendapat gangguan, meskipun gangguan tersebut ringan, seiring berjalannya waktu, setelah cahaya menembus kosmos, sekalipun dihimpun oleh teleskop berakurasi tinggi gambar yang tampak hanya samar-samar. Pendek kata, hasil gambar yang diperoleh Hubble terhadap planet yang sangat jauh seharusnya menimbulkan suatu efek yang ganjil, tapi kenyataannya tidak. Gambar Hubble sangat jelas, tidak ada hubungannya dengan jarak jauh sang objek.
Ragazzoni menjelaskan, saat cahaya datang dari objek yang sangat jauh, oleh karena gelombang cahaya yang berbeda dengan jalur yang agak berbeda menembus spons, gelombang cahaya yang berhadapan dengan gelombang cahaya lainnya akan mendapat rintangan, maka cahaya akan dipindahkan dari posisi di sekeliling sumber cahaya dan mengakibatkan kabur.
Banyak sekali temuan ilmiah modern menunjukkan gravitasi universal serta teori gravitasi yang ada kini dihadapkan dengan situasi kesulitan dan ketidaksempurnaan yang sulit diatasi, seiring dengan perkembangan teknologi percobaan dan pengamatan yang lebih canggih, ketidaksempurnaan ini akan terbuka lebih jelas. Melihat kilas balik sejarah perkembangan teknologi pengetahuan dan fisika manusia ratusan tahun belakangan, sepertinya hanya pengulangan proses yang serupa. Akan tetapi, tantangan yang dihadapi oleh perkembangan iptek manusia masa kini merupakan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada kenyataannya, hal pokok permasalahannya ini adalah pengetahuan manusia terhadap dunia materiil hanya sebatas pengenalan permukaan kulitnya saja, maka teori yang dikemukakan juga teori bentuk dari bentuk yang tampak. Teori tersebut hanya sebatas ruang yang relevan dengannya., jika lewat dari batasannya, maka akan timbul "kesenjangan". Dalam teori, untuk itu harus mencari lagi tesis yang dapat menopang teori bentuk baru untuk mengatasi ketidaksempurnaan teori yang lama.
Selang beberapa masa, manusia mencermati dan melihat perubahan besar pada kosmos yang belum pernah terjadi sebelumnya, semua fenomena alam yang tampak, juga telah memberi masukan bagi perkembangan teknologi pengetahuan manusia sebagai bahan acuan dan kajian, apakah semua momen pengetahuan alam ini bisa ditangkap, tergantung perubahan "pandangan" manusia itu sendiri, apakah bisa melepaskan diri dari pandangan kuno yang baku adalah sikap yang menentukan untuk dapat lebih jauh mengenal alam jagat raya ini.

Sabtu, 03 Maret 2012

Efek Cincin Einstein


Cincin Einstein (Einstein Ring) adalah ilusi optic yang terjadi saat melengkungnya struktur ruang angkasa akibat benda bermassa. Hal ini mengukuhkan eksistensi dari Teori Relativitas Umum, yang dikemukakan tahun 1915, oleh sang pemenang Nobel Fisika dan pernah dinobatkan sebagai “manusia abad ini”, siapa lagi kalau bukan si jenius Albert Einstein.Tahun 1919, Arthur Eddington telah membuktikan kebenaran prediksi Einstein

, ketika cahaya bintang berbelok saat terjadinya gerhana matahari.
Dalam Teori Relativitas Umum : “ruang angkasa adalah anyaman medan ruang-waktu, dan benda langit bermassa dapat melengkungkan ruang-waktu mengikuti benda langit tersebut”
Analoginya seperti ini : saat anda berbaring di sofa, sofa akan melengkung mengikuti struktur tubuh anda, begitu juga yang terjadi di luar angkasa, misalnya, benda bermassa seperti matahari, akan melengkungkan ruang-waktu sehingga menyebabkan “pusaran” yang menjangkar bumi untuk terus mengelilingi matahari.
Jadi, gravitasi mungkin kurang tepat apabila disebut “gaya”, seperti yang kita pelajari saat sekolah. Tapi, gravitasi adalah konsekuensi yang muncul akibat melengkungnya anyaman medan ruang-waktu karena benda langit bermassa.
Oke, kembali ke Cincin Einstein.

Efek ilusi optic Cincin Einstein juga dikenal dengan sebutan Lensa Gravitasi, yaitu dimana terjadinya pembelokan cahaya disekitar distribusi massa yang besar. Dalam prakteknya, penerapan teori relativitas umum pada lensa gravitasi sangat penting dalam astrofisika dan kosmologi. Walaupun sesuai dengan teori relativitas umum, Einstein bukanlah orang pertama yang pertama kali mengemukakan tentang efek ini. Sebelum Einstein menerbitkan artikel tentang topik ini pada tahun 1936, fisikawan Orest Chwolson telah mengemukakannya pada tahun 1924, dan terbukti kebenarannya pada tahun 1979.
Efek ini sama dengan kaca pembesar di luar angkasa yang dapat memperkuat cahaya dari benda yang jauh, sekaligus dapat membantu untuk mengukur sejarah mengembangnya alam semesta dan mengajarkan kita mengenai keseluruhan gambar dari alam semesta, merupakan sebuah perangkat penting dalam astrofisika dan kosmologi fisis.
Citra spektakuler & luar biasa indah telah dihasilkan dari sejumlah pengamatan fenomena lensa gravitasi. Rabu, 18 Januari 2012 yang lalu, dalam “Jurnal Nature Online”, Cincin Einstein kembali ditemukan, gravitasi dari galaksi JVAS B1938 666 mendeformasi cahaya dan membentuk Cincin Einstein, sehingga dapat didefinisikan bentuk dan kecerahan dari sebuah galaksi satelit berjarak 10 milyar tahun cahaya, yang mengorbit galaksi kita, bima sakti. Memang telah sejak lama, para Astronom berusaha mendeteksi galaksi satelit tersebut, yang berada dibelakang galaksi JVAS B1938 666.
Saat ini, telah 30 galaksi satelit yang berhasil diamati, secara komputerisasi, kemungkinan galaksi kita memiliki setidaknya 10.000 galaksi satelit, dan dipercaya, dalam proses yang terjadi selama miliaran tahun, galaksi bima sakti terbentuk dari penyatuan galaksi-galaksi kecil, dan indikasi adanya black hole supermasif pada pusat galaksi. Mungkin, galaksi satelit lainnya sangat sedikit memiliki bintang atau tersusun dari materi gelap, sehingga sukar untuk diamati, dan adanya kemungkinan bahwa alam semesta terdiri dari materi gelap bersuhu rendah.
Untuk saat ini, teknologi kita memang belum dapat mengamati secara langsung atau menampilkan citra dari galaksi satelit dibelakang galaksi JVAS B1938 666, galaksi satelit ini sangat jauh, kalaupun kita dapat bergerak dengan kecepatan tertinggi di jagat raya, yaitu 300.000 kilometer perdetik, kita memerlukan waktu sekitar 10 milyar tahun untuk tiba disana.
Para Astronom yakin bahwa mereka akan kembali menemukan Cincin Einstein lainnya di alam semesta. Sebuah efek yang “berasal” dari Albert Einstein, seorang pegawai kantor biasa yang tidak terkenal, dengan imajinasi besarnya telah merubah cara pandang kita terhadap alam semesta dan membantu kita menggapai objek-objek jauh di luar angkasa, yang mungkin tidak akan dapat kita kunjungi hingga bumi menutup usia.





White Hole dalam kajian Fisika


Lubang putih adalah lubang yang berlawanan dari lubang hitam, lebih tepatnya, sebuah lubang hitam yang berjalan mundur dalam waktu. Konsep lubang putih datang karena Schwarzschild geometri yang memungkinkan lubang hitam negatif square root serta positif square root solusi. Negatif square root solusi berkaitan dengan suatu lubang putih. Lengkapnya, maka geometri terdiri dari lubang hitam, lubang putih,
dan dua universes terhubung pada mereka horizons oleh lubang cacing. Seperti sebuah lubang hitam
irretrievably swallows segala sesuatu yang jatuh ke dalamnya, lubang putih spits hanya masalah energi dan keluar. Namun, karena lubang putih tampak melanggar hukum termodinamika kedua tampaknya tidak mungkin bahwa mereka ada di alam. Ada beberapa spekulasi bahwa awal quasars mungkin lubang putih, namun ini telah diskontinou.
Berdasarkan pada fisika modern, Einstein sebagai penggagas teori relativitas umum mempostulatkan bahwa gravitasi merupakan akibat dari perubahan arah/pelengkungan ruang dan waktu. Oleh karena itu gravitasi merupakan aspek yang tidak terpisahkan dari ruang dan waktu.
Einstein membuat gagasan yang benar-benar revolusioner dengan pernyataannya bahwa gaya gravitasi tidaklah bersifat seperti gaya-gaya yang lain. Suatu massa tidak menciptakan sebuah medan gaya di sekitarnya yang akan menyebabkan percepatan massa yang lain, namun massa akan mengubah struktur ruang dan waktu di sekitarnya.
Oleh karena itu jika dalam teori Newton kita akan mengatakan bahwa bumi selalu ditarik oleh matahari karena gaya gravitasinya. Namun dalam teori relativitas umum kita akan mengatakan bahwa matahari telah mempengaruhi struktur ruang dan waktu di sekitarnya sehingga bumi bergerak bebas melintasi sebuah garis geodesik dalam lingkungan ruang dan waktu.
Cahaya/foton sebagaimana halnya benda material lainnya tentunya akan bergerak mengikuti lengkungan ruang dan waktu ini sehingga pada benda yang sangat besar dan berat akan terjadi perbelokan cahaya.
Menurut teori relativitas umum, struktur ruang dan waktu ditentukan oleh distribusi massa dan secara prinsip dapat diperoleh dari serangkaian persamaan diferensial teori relativitas umum. Pada penerapan persamaan diferensial ini kita akan menemukan suatu titik yang mengalami singularitas dimana radius ruang dan waktu (R) cenderung menjadi nol sehingga kurva ruang dan waktunya (1/R) menjadi tidak terhingga.
Gambar White Hole lainnya: