Minggu, 06 Februari 2011

Pengertian Esai dan Contohnya


Esai sastra adalah karangan prosa yang mengupas secara sepintas namun akurat, padat, dan berisi mengenai masalah kesusastraan, seni, dan budaya dari sudut pandang penulisnya secara subjektif.
Cara membuat esai:
  1. tentukan tema yang paling Anda kuasai;
  2. carilah bahan;
  3. buatlah outline atau poin-poin yang akan Anda bicarakan;
  4. tentukan judul;
  5. mulailah mengembangkan kerangka karangan.
Cara mengembangkan kerangka karangan esai:
  1. untuk memudahkan karangan, mulailah dengan sebuah definisi;
  2. kembangkan karangan dengan deskripsi situasi;
  3. masukan pandangan seorang ahli;
  4. buatlah kalimat-kalimat tunggal dan kalimat majemuk setara atau bertingkat dengan struktur yang sederhana;
  5. untuk memudahkan menguraikan paragraf gunakan paragaraf-paragraf deduktif;
  6. esai biasa adalah karangan argumentasi.
Contoh kumpulan buku esai sastra yang bisa dijadikan referensi adalah, Menjadi Manusia karya Yakob Sumarjo, Si Parasit Lajang karya Ayu Utami, Obsesi Perempuan Berkumis karya Budi Darma. Anda juga bisa melihat contoh esai sastra di media massa seperti Kompas, Pikiran Rakyat, dan lain-lain yang biasa muncul hari Minggu di lembar budaya. Di lembar Khazanah koran Pikiran Rakyat sering muncul esai sastra atau kritik sastra.
Contoh esai sastra yang akan saya jadikan referensi adalah esai yang dimuat di Harian Umum, Pikiran Rakyat, Minggu 17 Oktober 2010, dengan Judul Kemat Jaran Guyang ditulis oleh Supali Kasim. Wakil Ketua Lembaga Bahasa dan Sastra Cirebon.
Dalam esai tersebut beliau mengatakan bahwa nyaris tidak ada sastra cirebon ditemukan dalam bentuk penerbitan media massa maupun buku. Kalau pun ada, hanya dalam satu kolom kecil di suatu koran yang dimuat terbatas dan dicetak sederhana. Karya sastra cirebon ibaratnya hanya ditulis dan didokumentasikan di rumah penulisnya, tanpa mengetahui bagaimana harus diterbitkan.
Karya sastra yang dilahirkan pengarang sulit untuk dipublikasikan di media massa. Penerbit pun terbentur dengan kecilnya pangsa pasar. Hal ini berbeda dengan karya sastra sunda dan karya sastra jawa yang banyak dibahas dimana-mana, bahkan banyak media massa yang berbahasa tersebut, seperti Mangle, Galura, Sipatahuan, Kujang Giwangkara. 
 
Dukungan secara akademis pun cukup signifikan. Beberapa perguruan tinggi pun membuka jurusan Bahasa dan Sastra Sunda yakni Unpad dan UPI, sementara jurusan Bahasa dan Sastra Jawa antara lain di UGM, UNY, dan UNS. Namun siapa yang peduli pada perkembangan sastra cirebon, yang jelas berbeda dengan sastra sunda maupun jawa, ujarnya di dalam esainya.
Menyikapi kalimat yang sedikit sinis terhadap sastra sunda dan sastra jawa, hal ini berarti Supali ingin sedikit menggelitik pemerintah agar sedikit peduli terhadap sastra cirebon yang terpinggirkan. Mungkin lama-lama sastra cirebon akan punah dan hilang ditelan zaman dan bangsa Indonesia akan kehilangan sebuah budaya.
Supali memberikan sebuah analogi yang tepat dalam sebuah Drama Tarling Abdul Ajib khas Cirebon yang berjudul Nasib Baridin, yang cintanya ditolak mentah-mentah oleh gadis pujaannya karena kemiskinan. Padahal sebagai pribadi, Baridin tergolong orang yang ulet dan tulus cintanya. Diam-diam, gadis yang ditaksirnya, Suratminah seperti memberikan harapan. Sampai-sampai ajian Kemat Jaran Guyang pun dilakukan untuk menaklukan gadis itu.
Lalu, Supali memberikan gambaran wilayah Cirebon dan perkembangan sastra dan budayanya yang kembang-kempis dalam esai.
Nah, dalam esai sastra, kita sebagai penulis boleh berpendapat sesubjektif mungkin asal disertai data dan fakta yang masuk akal sehingga pembaca merasa yakin dengan apa yang kita ungkapkan.
Dalam sebuah esai pun kita boleh memberikan solusi terbaik mengenai masalah yang dibahas, sehingga esai tidak hanya berupa kritik atau keluhan saja tentang fenomena yang terjadi dalam lingkungan sosial budaya masyarakat.

Sumber: www.anneahira.com