Jumat, 03 Desember 2010

Pohon Soekarno Hijaukan Mekkah

www.penelusuranilmu.blogspot.com


Taman_di_Mekah
Masih ingatkah Anda sosok Soekarno? gelombang semangat heroik yang muncul dan membumbung dari gagasan-gagasannya, barangkali itulah yang sulit dilupakan. Sebagai manusia, ia pasti punya kelemahan, tapi sebagai pemikir dan pemimpin ia memang memesona dan patut dibanggakan. Tak salah jika namanya terpahat abadi di bandara, jalan, jembatan, dan gedung-gedung.
Diantara alasan saya terpesona kepada sosok Si Bung, bukan saja karena ia Pahlawan Nasional, Proklamator Kemerdekaan, bukan pula karena ia begitu cerdas memilih nama Negara dan Bahasa pemersatu (Melayu) dan bukan bahasa ibunya (Jawa), tapi karena pemikirannya yang memang penuh bobot dan visioner. Bukankah tak sedikit sosok pemimpin yang ibarat air, bicara berdrum-drum (berjam-jam) tapi isinya hanya secangkir gelas?

Memasang judul di salah satu menu berita utamanya, Arafah Hijau Dengan Pohon Soekarno. Laporan Agus Mulyadi dari Mekkah inilah biangkeladi mengapa saya tertarik mengajak Anda untuk kembali mengenang, sejenak saja di sela weekend bersama keluarga, tentang sosok Presiden pertama kita itu. Berikut saya petikkan sedikit isinya.
Kondisi Arafah yang hijau royo-royo, tak terlepas dari peran dan gagasan Bung Besar kita, Presiden Soekarno. Ide menghijaukan Padang Arafah muncul saat presiden pertama Republik Indonesia itu sedang wukuf saat menunaikan ibadah haji pada awal tahun 1960-an.
Pengamat kehutanan dan lingkungan, Transtoto Handadhari, dalam artikelnya (Kompas, 24 Maret 2001), menyebutkan, pohon setinggi empat meter hingga enam meter, yang kini tumbuh di Arafah adalah jenis pohon mindi (melia azedarah). Pohon ini di Arab Saudi dikenal dengan nama ”pohon soekarno”.
Penanaman pohon soekarno di padang seluas 1.250 hektar itu oleh Pemerintah Arab Saudi merupakan bentuk penghargaan atas gagasan Bung Karno menghijaukan Padang Arafah. Pemerintah Arab Saudi mengundang ahli kehutanan Indonesia untuk menjalankan program itu.
Transtoto menyebutkan, jenis pohon yang dipilih adalah mindi yang dibawa dari Indonesia. Pohon ini tahan hidup di padang pasir. Untuk mendukung pertumbuhan pohon itu, dibawa pula tanah subur dari Indonesia dan Thailand. Untuk penyiraman, di bawah tanah dipasang pipa air dan setiap pohon mendapatkan satu keran air sendiri.
Upaya itu membuahkan hasil. Sejak bertahun-tahun lalu, Arafah hijau royo-royo. Kelestarian pohon itu diharapkan tetap terjaga meskipun 3,5 juta lebih jemaah akan datang, baik saat menunggu maupun saat wukuf berlangsung. Dam alias denda di berlakukan bagi jemaah, di antaranya jika mencabut rumput sekalipun atau mematahkan ranting pohon. Dam berupa memotong seekor kambing tentu akan menjauhkan jemaah, misalnya, dari mematahkan dahan atau ranting pohon soekarno.
Berkat perawatan dan pengembangan yang dilakukan Pemerintah Arab Saudi, pohon soekarno saat ini tidak hanya tumbuh di Arafah. Di sejumlah kota, seperti Madinah dan Mekkah, pohon ini tumbuh tersebar di pelosok kota. Di kawasan Syariq Mansyur, Mekkah, misalnya, di sejumlah halaman gedung terdapat pohon-pohon mindi yang tumbuh lebih dari enam meter.
Di jalan-jalan utama kota suci itu, pohon soekarno bahkan telah menjadi pohon penghias jalan. Beberapa tahun lagi, pohon-pohon itu tentu akan menyejukkan para pemakai jalan.
Tentu, kita pun sangat berharap, sejak hari ini dan ke depan, lereng-lereng Merapi yang hangus dibakar lava akan tumbuh makin subur, hijau nan sejuk kembali. Semoga!

Sumber: www.kompasiana.com